Oleh: Dwi Nanda
Suatu pepatah mengatakan, beruntunglah jika di sekitarmu masih ada orang yang mau menegurmu, karena itu tandanya kamu masih diperhatikan dan orang itu ingin kamu 'selamat'. Karena seburuk-buruknya 'perhatian' adalah manakala kamu sudah didiamkan betapapun bejatnya kelakuanmu.
Agaknya kalimat itu tidak pernah atau belum pernah mampir ke telinga seorang remaja lelaki di Balikpapan Timur. Kala itu, ia yang masih SMA berkendara motor sambil mengisap puntung rokok. Bayangkan, puntung rokok. Masih pakai seragam (news.detik.com/berita/d-8590773/guru-sd-di-balikpapan-dikeroyok-usai-tegur-sisiswa-merokok). Seorang guru lewat dan menegurnya, bukannya menurut, remaja itu justru tersulut dan mengoroyoki sang guru bersama teman-temannya.
Guruku Malang, Guruku Sayang
Kejadian itu tidak satu dua terjadi. Berbagai kasus serupa telah berseliweran di media sosial, menunjukkan betapa moral, adab dan karakter anak-anak sekarang sudah jauh dari nilai-nilai luhur. Tidak ada rasa takzim dan hormat pada pahlawan tanpa tanda jasa membuat kita bertanya, lantas apa yang kita harapkan kalau generasi sekarang saja tidak mau menghargai orang yang memberinya ilmu?
Menambah daftar panjang kasus serupa, teguran guru di zaman sekarang ibarat teguran polisi yang di mana anak-anak bukannya merenungi kesalahan, malah melapornya ke orang tua. Dalihnya? "Aku dipukul." "Aku dihukum nulis." Padahal hukuman dan teguran merupakan instrumen pembelajaran untuk mengenalkan anak pada hukum sebab akibat dan tanggung jawab. Tentu itu bukan berarti guru bisa memberi teguran atau hukuman di luar batas wajar, melainkan yang masih terukur dengan kemampuan anak.
Sistem Menyeret Perilaku Para Remaja
Selain menyoroti bagaimana pola asuh para remaja selama di rumah, terjadinya kasus memilukan itu tak lepas dari pengaruh sistem sekuler liberal yang diterapkan hari ini. Di bawah sistem liberal, anak-anak berlindung atas nama "kebebasan" untuk melakukan apa saja yang dia mau. "Hak kebebasan" katanya, faktanya kebebasan bisa menggiring orang menuju jurang tanpa dasar.
Sistem pendidikan sekarang pun cenderung memberi ruang lebih luas untuk anak-anak saling bersaing demi prestasi. Keberhasilan yang ditentukan hanya dari materi membuat mereka lupa untuk menancapkan adab sebelum berilmu.
Transfer of Knowledge and Transfer of Character
Sejatinya, pendidikan yang ideal adalah di mana terciptanya lingkungan seorang guru yang tidak hanya mentransfer ilmu, sehingga menjadikannya hanya sekedar rutinitas, menjadi transfer of character.
Mengapa? Karena ilmu sekarang bisa ditemukan di mana saja. Ai dan chatgpt bahkan lebih layak mengajari manusia ilmu teknis karena mereka begitu lengkap dan presisi. Namun satu yang harus diingat, AI hanya buatan manusia. Karakter tidak bisa diajarkan melalui prompt atau algoritma. Ia hanya bisa ditularkan lewat rasa, empati, dan keteladanan nyata, dari ulama atau dari anak kecil sekalipun.
Karakter dibentuk melalui kondisi real di lapangan dan kedisiplinan nyata. Di mana di setiap situasi kita bisa mengambil pelajarannya. Misal, ketika ada yang menyerobot antrean kita harus apa. Ketika ada seseorang yang berbohong kita harus apa. Dan seterusnya. AI tidak punya kehidupan nyata kendatipun ia diberi gelar "kecerdasan buatan".
Untuk para guru, sadarilah kalau dalam mendidik anak-anak sejatinya itu adalah tugas peradaban yang menentukan baik tidaknya suatu generasi. Karena itu ketika mengajar, jangan terpaku pada formalitas, hanya masuk kelas dan selesai. Anak-anak butuh sosok keteladanan nyata, arah untuk pengambil setiap keputusan di situasi berbeda.
Dan anak-anak, ingatlah kalau ilmu yang berkah dan bermanfaat tidak pernah lahir dari sikap apatis dan juga kotornya sikap kita atas lisan dan perilaku pada guru kita.
Wallahu 'alam bishawaab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar