Kenaikan BBM dan Pelemahan Rupiah: Saatnya Meninjau Solusi Ekonomi Islam


Oleh: Najwa Aliyyatul M

Harga bahan bakar minyak (BBM) non supsidi jenis pertamax jadi sorotan baru-baru ini. Pasalnya kenaikan harga pertamax yang secara mendadak ini membuat kebanyakan warga merasa keberatan. Bahkan di beberapa berita seperti KompasTV dan CCN Indonesia.

Saat warga di wawancarai mengenai kenaikan harga BBM, mereka di buat terkejut karena tidak tahu menahu harga pertamax tiba-tiba naik begitu saja, bahkan dari salah satu warga, beliau mengatakan bahwa mungkin bagi orang-orang yang mampu tidak masalah harga BBM naik, tapi bagi kami yang kurang mampu ini merasa berat.

Di Jawa, harga BBM Pertamax (RON 92) menanjak dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Sementara, Pertamax Green 95 (RON 95) naik dari Rp12.900 menjadi Rp17.000 per liter.

Adapun harga BBM Pertamax dan Pertamax Green 95 berbeda di setiap provinsi yang dipengaruhi oleh Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB), biaya distribusi, serta status kawasan perdagangan bebas (FTZ). Mengutip mypertamina.id, harga Pertamax Rp16.250 per liter berlaku di seluruh provinsi di Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat (NTB), Nusa Tenggara Timur (NTT).

Sementara, Pertamax dibanderol Rp16.650 per liter di Aceh, Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, Sumatra Selatan, Bangka Belitung, dan Lampung. Harga yang sama juga berlaku di seluruh provinsi di Pulau Papua dan Sulawesi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, serta Kalimantan Timur.

Untuk Pertamax yang dibanderol Rp17.000 per liter berlaku di Sumatera Barat, Riau, Kepulauan Riau, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Utara. Selanjutnya, Pertamax dijual seharga Rp15.250 per liter di kawasan Free Trade Zone (FTZ) Sabang dan Batam.

Sekretaris Perusahaan PT Pertamina Patra Niaga Roberth MV Dumatubun mengatakan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi dilakukan sesuai dengan regulasi yang berlaku.

Roberth pun menegaskan penyesuaian harga diputuskan berkoordinasi dengan pemerintah sebagai regulator, dan dilakukan sesuai mekanisme evaluasi berkala dengan mempertimbangkan perkembangan harga minyak dunia serta harga pasar keekonomian.

"Penyesuaian harga Pertamax dan Pertamax Green dilakukan setelah melalui proses evaluasi sesuai formula harga yang ditetapkan pemerintah," ujar Roberth dalam keterangan resmi tertulis, Rabu (10/6).

Perusahaan memastikan keamanan pasokan BBM di jaringan stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) milik Pertamina di seluruh Indonesia. Adapun harga produk bahan bakar Pertamina selain Pertamax dan Pertamax Green tidak naik. (CNN Indonesia, 10 juni 2026)

Sebelum harga BBM yang tiba-tiba naik, sebelum-sebelumnya kita di buat terkejut oleh Rupiah yang semakin melemah, perdollar amerikanya sama dengan 18.200 Rupiah di indonesia, tentu ini sangat berdampak buruk bagi masyarakat Indonesia. Pasalnya, masalah dollar yang berdampak buruk pada masyarakat saja belum terselesaikan, ini secara tiba-tiba pemerintah menaikkan harga BBM berupa pertamax. Bukan hanya harga pertamax saja yang naik, tapi harga-harga yang lainn pun jadi terbawa naik.

Secara tidak langsung kebijakan-kebijakan ini justru semakin membuat masyarakat semakin terpuruk. Bukannya menyelesaikan masalah justru malah menambah masalah baru bagi masyarakat.

Juga kondisi setelah rupiah melemah, perdollarnya seharga 18.200 rupiah. Kondisi tersebut dapat menekan daya beli masyarakat, meningkatkan beban hutang perusahaan yang memiliki kewajiban dalam dollar AS, hingga memperbesar risiko pemutusan hubungan kerja (PHK).

Karena pelemahan rupiah ini pula yang meningkatk justru harga rupiah bukan menambah lapangan pekerjaan untuk masyarakat. Pelemahan rupiah kedalam negeri ini justru berimbas ke kenaikan harga konsumsi dan produksi lain.

Melemahnya Rupiah dan naiknya harga BBM tentu ada kaitannya, dan sangat nyambung sekali, sama-sama membuat masyarakat semakin menderita. Pasalnya, dalam sistem Kapitalisme yang hanya mementingkan materi dari pada kesejahteraan rakyat. Karena, memang ekonomi dalam sistem kapitalisme adalah sistem yang memberikan kebebasan kepada individu untuk punya modal, berusaha dan memperoleh keuntungan untuk dirinya sendiri.

Hanya di sistem Kapitalisme lah, orang-orang menjadi serakah dab ambisi untuk mendapat keuntungannya sangat tinggi. Dalam kapitalisme, kepemilikan modal dan aset dapat terkonsentrasi pada sebagian kecil masyarakat. Akibatnya, kelompok yang punya modal besar cenderung memperoleh keuntungan lebih besar dibandingkan pekerja yang hanya menjual tenaga kerjanya.

Berbeda halnya dengan sistem ekonomi dalam Islam, bukan sekadar versi "syariah" dari kapitalisme atau jalan tengah antara kapitalisme dan sosialisme. Ekonomi dalam Islam justru adalah sebuah sistem yang berdiri sendiri, bersumber dari Al-Quran dan Hadist, dan punya tujuan untuk mewujudkan kesejahteraan manusia sesuai syariat. Dalam Islam tidak ada hal-nya kepemilikan individu, manusia hanya di anggap sebagai pengelola atas harta yang hakikat-nya hanya milik Allah SWT.

Dalam Islam, air, padang rumput dan api adalah milik semua orang, dan pemerintah yang mengatur sesuai syariat Islam, dan pemerintah yang mengelola ketika sumber tersebut yang nantinya akan dibagikan pada masyarakat apalagi masyarakat yang sangat membutuhkan, bukan malah menjadikannya hak milik pribadi. Seperti Sabda Rasulullah Saw :
الْمُسْلِمُونَ شُرَكَاءُ فِي ثَلَاثٍ: فِي الْكَلَإِ وَالْمَاءِ وَالنَّارِ
"Kaum muslimin berserikat (memiliki hak bersama) dalam tiga perkara: padang rumput, air, dan api." (Hadist Riwayat Abu Dawud dalam Sunan Abu Dawud no. 3477 dan Ahmad bin Hanbal)

Bukan justru malah pengusaha-pengusaha asing yang justru berdampak buruk bagi semua masyarakat. Itulah sebabnya, dunia harus segera di atur oleh syariat Islam, di naungi oleh daulah Islam. Yang mana, masalah dalam perekonomian ini tidak akan pernah terjadi.

Rupiah melemah yang membuat harga-harga menjadi naik yang berdampak pula pada harga BBM semua masalah itu tidak akan pernah terjadi apabila Hukum Allah di tegakkan. Dan kesengsaraan-kesengsaraan yang terjadi ini tidak akan terjadi dalam sistem Islam. Karena, aturan di dalam Islam bukan bersumber dari tangan-tangan lemah dan bisa membuat kerusakan. Aturan Islam bersumber dari pencipta alam semesta, manusia dan kehidupan.

Wallahualam...




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar