Oleh: Nafisusilmi
Suara notifikasi aplikasi mobile banking berbunyi, menandakan tanggal gajian telah tiba.
Beberapa menit kemudian para pekerja membuka aplikasi tersebut, dan waktunya melakukan transaksi pembayaran mulai dari tagihan listrik, sewa tempat tinggal dan pembayaran kebutuhan yang lainnya.
Setelah itu membuka aplikasi marketplace atau belanja online, yang mana sudah ada beberapa barang yang dimasukkan kedalam keranjang, mulai dari skincare, parfum,baju atau berupa makanan, dan lain-lain. Dan juga mengelist tempat untuk healing atau nongkrong seperti cafe.
Sekarang aktivitas tersebut dianggap hal yang lumrah, membeli sesuatu setelah gajian merupakan cara sederhana untuk memberi penghargaan kepada diri sendiri atau Istilah trend sekarang self reward - little treat. (Kompas.com, 12-8-2026).
Generasi Z sering digambarkan sebagai generasi yang paling melek teknologi, kreatif, adaptif, dan dekat dengan dunia digital. Namun, di balik citra tersebut, tersimpan kegelisahan yang semakin nyata: tekanan ekonomi, ketidakpastian masa depan, hingga krisis makna hidup.
Data Deloitte Global Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Bahkan, 52 persen Gen Z mengaku hidup dari gaji ke gaji, sementara 37 persen kesulitan memenuhi kebutuhan hidup setiap bulan. Biaya hidup menjadi salah satu kekhawatiran terbesar generasi muda.
Ironisnya, ketika kondisi ekonomi semakin menekan, budaya self-reward, healing, dan konsumsi justru semakin populer. Membeli makanan kesukaan, nongkrong di kafe, berbelanja, traveling, atau membeli barang yang sedang tren dianggap sebagai bentuk penghargaan terhadap diri sendiri setelah menjalani hari-hari yang melelahkan.
Di sinilah paradoks Gen Z terlihat. Di satu sisi mereka takut tidak memiliki masa depan finansial yang aman. Di sisi lain, mereka didorong untuk terus menikmati hidup hari ini. Akhirnya, lahirlah generasi yang bekerja keras untuk mendapatkan penghasilan, tetapi sebagian penghasilan itu kembali dihabiskan untuk membeli kebahagiaan sesaat.
Ketika Gen Z Terhimpit Sistem Ekonomi Kapitalisme
Tidak adil jika seluruh persoalan Gen Z hanya ditimpakan kepada kebiasaan mereka membeli kopi, nongkrong, atau melakukan self-reward. Persoalannya jauh lebih struktural.
Biaya hidup meningkat, harga rumah semakin sulit dijangkau, kebutuhan pendidikan dan kesehatan mahal, sementara dunia kerja menawarkan persaingan yang semakin ketat. Bahkan, sejumlah analisis menunjukkan bahwa kesulitan Gen Z memiliki rumah tidak bisa semata-mata dijelaskan oleh kebiasaan membeli kopi atau jajan. Ada persoalan struktural berupa ketimpangan antara pendapatan dan harga aset.
Inilah wajah sistem kapitalisme. Kebutuhan hidup diserahkan kepada mekanisme pasar, sementara negara cenderung menempatkan dirinya sebagai regulator, bukan sebagai pihak yang bertanggung jawab penuh menjamin terpenuhinya kebutuhan dasar rakyat.
Generasi muda akhirnya dipaksa menjadi “manusia super”: harus kuliah, memiliki keterampilan, mengejar karier, mencari side hustle, membangun personal branding, bahkan berinvestasi sejak muda. Semua dilakukan demi satu tujuan yakni bertahan hidup.
Beban tersebut semakin berat ketika kesempatan kerja yang layak tidak sebanding dengan jumlah tenaga kerja. Tidak mengherankan jika pekerjaan sampingan atau side hustle menjadi pilihan sebagian Gen Z untuk menambah pendapatan. Survei Deloitte juga menunjukkan tekanan biaya hidup mendorong generasi muda mencari sumber penghasilan tambahan.
Ketika Healing Menjadi Pelarian
Tekanan ekonomi dan pekerjaan kemudian bertemu dengan budaya sekuler-liberal yang menawarkan satu pesan sederhana: “Kamu berhak menikmati hidup.”
Tidak ada yang salah dengan beristirahat atau menikmati hasil kerja. Islam pun tidak melarang manusia menikmati rezeki Allah. Persoalannya muncul ketika kebahagiaan dikonstruksi semata-mata melalui konsumsi.
Hari ini, media sosial menghadirkan standar kebahagiaan yang sangat materialistik. Seseorang dianggap bahagia ketika mampu membeli barang tertentu, mengunjungi tempat tertentu, menggunakan produk tertentu, atau mengikuti tren tertentu.
Algoritma media sosial memperkuat fenomena ini. Apa yang viral terus ditampilkan. Apa yang dibeli orang lain terus diperlihatkan. Akhirnya muncul FOMO (fear of missing out) yakni rasa takut tertinggal dari tren.
Gen Z pun hidup dalam siklus: bekerja, stres, belanja, merasa senang sebentar, kemudian kembali bekerja untuk memenuhi kebutuhan berikutnya.
Fenomena self-reward sendiri memang tidak selalu negatif. Tetapi ketika menjadi pembenaran bagi konsumsi impulsif, ia justru dapat memperburuk kondisi finansial. Berbagai kajian tentang perilaku konsumen Gen Z juga menunjukkan adanya hubungan antara media sosial, FOMO, dan kecenderungan impulse buying atau membeli barang dan jasa tanpa perencanaan.
Dengan demikian, masalahnya bukan sekadar “Gen Z boros”. Ada sistem yang secara terus-menerus membentuk cara berpikir bahwa kebahagiaan dapat dibeli.
Ketika manusia tidak memiliki jawaban yang benar tentang untuk apa dirinya hidup, maka ukuran kebahagiaan akan mudah ditentukan oleh dunia di sekelilingnya.
Jika materi menjadi ukuran kebahagiaan, maka semakin banyak harta yang dimiliki, semakin bahagia seseorang. Jika popularitas menjadi ukuran, maka jumlah followers dan likes menjadi sumber kepuasan. Jika gaya hidup menjadi ukuran, maka seseorang akan terus mengejar tren agar tidak merasa tertinggal.
Padahal, manusia tidak diciptakan untuk sekadar mengejar materi. Allah SWT berfirman: “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Ayat ini memberikan paradigma yang sangat mendasar. Tujuan hidup manusia bukanlah menjadi konsumen terbesar, bukan pula mengejar kenikmatan tanpa batas. Tujuan hidup manusia adalah beribadah kepada Allah Subhanahu wa ta'ala.
Ketika tujuan hidup ini kokoh, tekanan kehidupan tidak otomatis hilang, tetapi manusia memiliki arah dalam menghadapinya. Kesuksesan tidak lagi semata-mata diukur dari seberapa mahal barang yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat hidupnya untuk agama, umat, dan kemanusiaan.
Islam Membebaskan Gen Z dari Lingkaran Tekanan
Dalam sistem Islam, negara memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan kebutuhan dasar rakyat terpenuhi. Pengelolaan sumber daya alam yang merupakan kepemilikan umum tidak boleh diserahkan kepada segelintir individu atau korporasi untuk mengejar keuntungan semata. Hasilnya digunakan untuk kemaslahatan rakyat.
Dengan pengelolaan kekayaan negara berdasarkan syariat, kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, keamanan, dan berbagai pelayanan publik dapat dijamin negara. Negara juga menciptakan iklim ekonomi yang memungkinkan masyarakat memperoleh pekerjaan dan penghasilan yang layak.
Dalam konstruksi negara dalam Islam, laki-laki yang memiliki kewajiban mencari nafkah didorong untuk memperoleh pekerjaan yang layak. Negara tidak membiarkan rakyat berjuang sendirian menghadapi kebutuhan hidup.
Membangun Generasi Pembawa Peradaban
Islam tidak membiarkan generasi muda dibentuk oleh arus informasi tanpa arah. Media seharusnya tidak menjadi mesin yang terus-menerus mendorong konsumsi, pornografi, liberalisme, individualisme, dan gaya hidup hedonis.
Media dalam negara Islam diarahkan untuk memberikan informasi yang benar, pendidikan, serta membangun ketakwaan dan kesadaran umat. Generasi muda tidak dibiarkan menjadi objek pasar yang terus diburu iklan dan tren.
Lebih penting lagi, Islam membangun kepribadian generasi dengan akidah yang kokoh.
Gen Z harus dididik untuk memahami bahwa dirinya adalah hamba Allah sekaligus bagian dari umat Islam. Hidup bukan sekadar tentang mendapatkan pekerjaan dengan gaji tinggi, membeli rumah, memiliki kendaraan, traveling, atau mengumpulkan barang.
Generasi muda harus memiliki visi lebih besar yaitu menjadi generasi pembangun peradaban Islam. Ilmu, teknologi, ekonomi, politik, pendidikan, dan lain-lain.
Dengan paradigma tersebut, Gen Z tidak lagi menjadi generasi yang hanya bertanya, “Apa yang bisa saya dapatkan dari kehidupan?” Mereka akan bertanya, “Apa yang bisa saya berikan untuk Islam dan umat?”
Saatnya Mengubah Arah
Gen Z bukan generasi yang lemah. Mereka adalah generasi yang memiliki energi, kreativitas, kemampuan teknologi, dan potensi besar untuk membawa perubahan.
Namun, potensi itu membutuhkan sistem yang mampu melindungi mereka sekaligus visi hidup yang benar.
Tekanan ekonomi tidak cukup dijawab dengan self-reward. Krisis kebahagiaan tidak cukup dijawab dengan healing. Kekosongan makna tidak dapat diselesaikan dengan belanja, traveling, atau mengejar popularitas.
Gen Z membutuhkan sesuatu yang lebih besar: kehidupan yang menjamin kebutuhan dasarnya sekaligus memberikan tujuan hidup yang benar.
Islam menawarkan paradigma tersebut. Negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat, kekayaan umum dikelola untuk kemaslahatan, budaya konsumtif dibatasi, media diarahkan untuk kemaslahatan, dan generasi dididik dengan akidah Islam.
Sebab, generasi muda tidak seharusnya hanya dipersiapkan untuk menjadi konsumen dan tenaga kerja. Mereka harus dipersiapkan menjadi generasi pembangun peradaban.
Bukan generasi yang terus-menerus bekerja untuk membeli kebahagiaan, tetapi generasi yang menemukan kebahagiaan dalam ketaatan kepada Allah.
Bukan generasi yang takut tertinggal tren, tetapi generasi yang takut tertinggal dari perjuangan menegakkan kemuliaan Islam.
Dan bukan generasi yang kehilangan arah di tengah gemerlap dunia, tetapi generasi yang memiliki visi akhirat dan keberanian membangun peradaban berdasarkan petunjuk Allah Subhanahu wa ta'ala.
Wallahu' alam bishowab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar