Oleh: Eka Sulistya

Tidak semua orang memiliki kesempatan berdiri di atas mimbar. Tidak semua mampu berbicara di hadapan banyak manusia. Namun Allah membuka jalan dakwah yang begitu luas, salah satunya melalui tulisan.

Boleh jadi, sebuah tulisan sederhana memiliki daya sentuh yang tak pernah kita duga. Kita tak pernah tahu, pada hati siapa Allah menumbuhkan hidayah melalui untaian kata yang kita tulis. Barangkali hanya terdiri dari beberapa kalimat sederhana, tetapi mampu mengetuk hati seseorang yang sedang jauh dari Allah. Mungkin hanya sebuah pengingat singkat, namun menjadi sebab seseorang kembali menjaga sholatnya. Atau mungkin hanya sebuah kutipan yang menguatkan, tetapi mampu menghapus putus asa dari hati seorang hamba.

Kita sering kali tidak tahu kepada siapa tulisan itu akan sampai. Bisa jadi dibaca hari ini, bisa juga bertahun-tahun kemudian. Bisa jadi dibaca oleh satu orang, lalu ia membagikannya kepada ribuan orang lainnya. Setiap kebaikan yang lahir dari tulisan itu, insyaallah akan terus mengalir sebagai pahala selama manfaatnya masih dirasakan.


Karena itu, teruslah menulis

Tulislah tentang Islam yang menenteramkan hati. Tulislah tentang keagungan syariat-Nya. Tulislah ayat-ayat Al-Qur'an yang mengingatkan, hadist-hadist yang menguatkan, kisah-kisah para salaf yang menginspirasi, serta renungan yang mengajak manusia semakin dekat kepada Rabb-nya.

Jangan menunggu tulisanmu sempurna. Selama yang di tulis kebenaran, disampaikan dengan ilmu dan keikhlasan, maka teruslah berbagi. Sebab hidayah bukanlah hasil kepandaian kita dalam merangkai kata, melainkan murni karunia Allah. Tugas kita hanyalah menyampaikan.

Mungkin hari ini tulisanmu hanya mendapat sedikit pembaca. Mungkin tidak banyak yang memberikan tanda suka atau komentar. Namun nilai sebuah dakwah tidak diukur dari banyaknya apresiasi manusia, melainkan dari keikhlasan di hadapan Allah. Bukankah para nabi pun tidak semuanya memiliki pengikut yang banyak? Tetapi mereka tetap menyampaikan kebenaran tanpa lelah.

Bayangkan suatu hari nanti, ketika usia kita telah berakhir. Nama kita mulai dilupakan. Suara kita tak lagi terdengar. Namun tulisan-tulisan yang pernah kita tinggalkan masih terus dibaca. Masih ada yang mendapatkan ilmu darinya. Masih ada yang tergerak untuk berhijrah. Masih ada yang mengamalkan satu nasihat yang pernah kita tulis.

Betapa indahnya jika setiap huruf yang kita rangkai menjadi saksi bahwa kita pernah mengajak manusia kepada kebaikan. Betapa bahagianya jika tulisan itu menjadi amal yang terus mengalir, bahkan ketika jasad telah berada di dalam liang lahat.

Rasulullah ï·º bersabda bahwa ketika seorang manusia meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara, salah satunya adalah ilmu yang bermanfaat. Tulisan yang berisi ilmu dan mengajak kepada kebaikan termasuk salah satu jalan agar manfaat itu terus hidup di tengah manusia, selama Allah menghendakinya.

Maka, jangan berhenti menulis hanya karena merasa tidak cukup hebat. Jangan berhenti karena cibiran. Jangan berhenti karena sedikitnya pembaca. Tulislah dengan hati yang ikhlas, dengan niat mencari ridha Allah semata.

Siapa tahu, satu tulisan yang kita anggap biasa justru menjadi jalan hidayah bagi seseorang. Siapa tahu, satu kalimat yang kita tulis di tengah malam menjadi sebab seseorang bertaubat. Dan siapa tahu, di hari ketika seluruh amal ditimbang, tulisan-tulisan itu datang sebagai cahaya yang memberatkan timbangan kebaikan kita.

Selama Allah masih memberi kesempatan hidup, teruslah menulis. Tebarkan ilmu, tanamkan harapan, sampaikan kebenaran, dan jadikan setiap huruf sebagai jejak dakwah menuju akhirat.

Sebab boleh jadi, tulisan adalah warisan terbaik yang kita tinggalkan. Bukan untuk dikenang sebagai penulis, tetapi untuk menjadi amal jariyah yang terus mengalir hingga hari perjumpaan dengan Allah.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.