Tepi Barat Berlumuran Darah Anak-Anak


Oleh : Sherly Agustina, M.Ag. (Penulis dan Pemerhati Kebijakan Publik) 

Setiap minggu, ada anak Palestina yang gugur di Tepi Barat. Bukan karena perang terbuka, tapi karena peluru, penangkapan, dan teror yang berjalan sistematis. Saat dunia menoleh ke Gaza, Tepi Barat justru dijadikan ladang pencaplokan baru yang senyap. Sampai kapan dunia hanya diam menyaksikan anak-anak menjadi korban?

Wakil Koordinator Khusus PBB untuk Proses Perdamaian Timur Tengah, Ramiz Alakbarov, menyatakan peringatan soal potensi ledakan konflik menyusul aksi brutal tentara dan pemukim Israel di Tepi Barat belakangan. Serangan-serangan itu terang-terangan dilakukan di wilayah yang diakui komunitas internasional sebagai wilayah Palestina. Dalam pidatonya di hadapan Dewan Keamanan PBB (DK PBB) tentang Timur Tengah, termasuk isu Palestina, Alakbarov menyampaikan bahwa hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid di Tepi Barat, sepanjang tahun 2026 termasuk 18 anak di bawah umur. 

Antara Januari 2024 dan Juli 2026, PBB memverifikasi kematian 174 anak Palestina di Tepi Barat, termasuk Yerusalem Timur. Artinya, lebih dari satu anak meninggal setiap minggunya. Selain itu, lebih dari 1.500 anak mengalami luka-luka, dengan hampir separuhnya terluka akibat peluru tajam. Dalam periode yang sama, 3 anak Israel tewas dan 15 lainnya terluka. Wakil Direktur Eksekutif UNICEF, Hannan Sulieman, mengatakan ada 355 anak Palestina dari Tepi Barat sedang ditahan dalam tahanan militer Israel, jumlah ini tertinggi dalam delapan tahun terakhir. (Republika.co.id, 12-8-2026)

Situasi ini memperlihatkan pola yang sama, serangan masif, pengusiran, perampasan tanah, dan tekanan militer yang ditujukan untuk mematahkan perlawanan warga. Tepi Barat kini berada di "tubir ledakan besar" karena eskalasi yang terus meningkat.


Kapitalisme Sadis, Penghisap Darah 

Kejahatan Zionis Israel terhadap anak-anak Palestina terbukti sangat biadab dan menjijikkan, serta menimbulkan trauma, penderitaan, dan kerusakan nyata bagi anak-anak Palestina. Zionis sengaja meningkatkan teror, ribuan serangan, pengusiran, perampasan, dan genosida dalam senyap untuk menguasai Tepi Barat sebagaimana mereka berhasil menguasai Gaza. Kejahatan Zionis pada anak-anak Palestina harus dilawan, sayangnya dunia dan para penguasa di negeri Muslim justru bungkam dan tak berani memerangi Zionis Israel. 

Ketika sorotan dunia tertuju ke Gaza, militer Israel justru menggencarkan ribuan serangan, penangkapan, dan perampasan di Tepi Barat. Anak-anak menjadi target karena mereka adalah generasi penerus perlawanan. Membunuh anak-anak berarti membunuh masa depan sebuah bangsa.

Kejahatan ini berlangsung biadab dan sistematis. Peluru tajam, rumah dibongkar, tanah dirampas, dan anak-anak ditahan. Tujuannya jelas menimbulkan trauma massal agar warga Palestina menyerah dan pergi. Ini bukan tindakan keamanan, ini teror negara.

Ironisnya, pembantaian ini terjadi di depan mata dunia Islam. Para penguasa negeri-negeri Muslim justru bungkam. Tidak ada pengerahan tentara, tidak ada pemutusan hubungan, tidak ada tekanan politik yang berarti. Diamnya penguasa sama artinya dengan memberi lampu hijau pada penjajah untuk terus melangkah.

Akar masalah di Palestina bukan "konflik" dua pihak yang setara, ini adalah penjajahan nyata. Sejak awal, entitas Yahudi Israel dibangun di atas pencaplokan tanah suci Baitul Maqdis. Tepi Barat dan Gaza adalah dua wajah dari satu proyek yang sama yaitu mengusir penduduk asli dan menegakkan dominasi.

Karena itu jelas, akar masalahnya adalah absennya perisai Islam. Selama Palestina hanya diserahkan pada PBB, perundingan, dan kecaman kosong, maka darah akan terus mengalir. Selama umat Islam terpecah dalam 50-an negara bangsa, maka penjajah akan mudah menaklukkan satu per satu.


Urgent, Butuh Persatuan 

Islam mengharamkan pembiaran kejahatan pada anak-anak dan kemanusiaan secara total. Ukhuwah Islam, persatuan negeri-negeri Muslim dan penegakkan Khilafah sangat penting diwujudkan untuk melawan kejahatan Zionis Israel. Seruan jihad dan pengiriman tentara Islam untuk membebaskan Palestina harus terus-menerus digaungkan oleh partai politik ideologis hingga pembebasan Palestina terwujud nyata. 

Islam tidak pernah mengajarkan untuk membiarkan kezaliman. Allah ï·» berfirman: "Dan mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan untuk orang-orang yang tertindas baik laki-laki, perempuan, dan anak-anak" (QS. An-Nisa: 75). 

Membela anak-anak Palestina adalah kewajiban, bukan pilihan. Maka, Islam memiliki solusi di antaranya yaitu: 

Pertama, menyatukan umat. Ukhuwah islamiyah harus diwujudkan dalam bentuk politik, bukan hanya slogan. Negeri-negeri Muslim harus bersatu di bawah satu komando, satu visi, satu kepemimpinan. Perpecahan adalah pintu masuk penjajah.

Kedua, menegakkan Khilafah. Hanya negara yang punya kekuatan militer, politik, dan ekonomi yang bisa menghentikan penjajahan. Khilafah adalah institusi yang pernah membebaskan Baitul Maqdis di masa Umar bin Khattab dan Salahuddin Al-Ayyubi. Sejarah akan terulang jika umat bersatu kembali pada sistemnya.

Ketiga, pengerahan tentara pembebasan. Seruan jihad untuk membebaskan Palestina harus digaungkan secara terbuka oleh partai politik ideologis dan para ulama. Tentara-tentara kaum muslimin harus digerakkan untuk mengusir penjajah, bukan hanya mengirim bantuan kemanusiaan.

Keempat, pemboikotan total dan pemutusan hubungan dengan entitas penjajah. Tidak ada normalisasi, tidak ada dagang, tidak ada kerjasama militer. Umat harus dididik untuk memusuhi penjajah dan mencintai Al-Aqsha sebagai bagian dari akidah.

Sudah berapa banyak anak yang harus mati. Relakah kita terus berharap pada dunia yang bungkam? Atau maukah kita kembali pada janji Allah dan menggerakkan kekuatan umat untuk membebaskan Palestina dengan jihad dan Khilafah? Allahua'lam Bishawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar