Oleh : Nikmatus Sa’adah
Angka penderita HIV di kalangan remaja semakin hari bukan semakin turun, ternyata penderita HIV semakin meningkat dikalangan remaja dan usia produktif. Darurat keniakan HIV seringkali disolusikan dengan solusi dipermukaan saja, seperti pembagian alat pengaman dan edukasi teknis saja. Solusi ini sesungguhnya sangat jauh dari akar permasalahan yang ada karena terbukti hingga hari ini kasus HIV tidak bisa mereda, bahkan semakin menggurita.
Kemenkes RI, dr. Andi Saguni menegaskan bahwa peningkatan jumlah kasus HIV yang ditemukan seiring dengan semakin meluasnya cakupan layanan tes HIV di berbagai daerah dan faskes. Semakin luasnya cakupan tes HIV maka semakin cepat tindakan penyembuhan bagi pengidapnya (detik.com, 30/07/2026).
Dinas Kesehatan Sidoarjo juga mencatat sejak 2001 hingga juni 2026, penderita HIV terus meningkat hingga 7.230. dari jumlah tersebut, 522 usia pelajar dari jenjangan PAUD hingga SMA. Selain itu, angka di Tulungagung juga menghawatirkan. Sekertaris KPA Tulungagung Ifada Nurrohmania mengatakan bahwa dari awal kasus ditemukan jumlah orang terjangkit HIV di wilayah Tulungagung mencapai 4.540 orang. Jumlah tersebut didominasi usia produktif dan 630 dari jumlah itu adalah umur 13-25 tahun. Banyaknya kasus ini diakibatkan oleh berbagai faktor, yaitu dari hubungan seksual bebas dan penularan dari orang tua yang terinfeksi HIV. Hubungan seksual bebas yang terjadi ditengah remaja, mayoritas memiliki kecenderungan heteroseksual dan homoseksual (news.detik.com, 30/07/2026).
Akar Permasalahan
Tingginya kasus HIV ini, harus dicari tahu akar masalah yang sebenarnya membuat angka penderita HIV terus meningkat. Jika dilihat, upaya pencegahan dan solusi yang diterapkan negara hari ini belum membuahkan hasil yang signifikan. Jika cara pandang akar masalah ini salah, maka solusi yang diberikanpun juga akan sia-sia.
Salah dalam membaca masalah dan gagal dalam mendefinisikaakar masalah, maka solusi yang ditawarkan pun menjadi problematik dan tidak benar-benar solutif. Pencegahan yang ditawarkan seperti edukasi seksual, safe sex, sesungguhnya tidak menyentuh akar masalah. Edukasi seksual sekuler seringkali hanya berfokus pada dampak kesehatan medis, seperti pencegahan penyakit menular dan kehamilan yang tidak diiinginkan.
Jika dilihat, semakin meningkatnya angka penderita HIV ini sesungguhnya cerminan bahwa ada yang salah dengan sistem sosial yang diterapkan hari ini. Penerapan system sekuler kapitalisme ternyata membuahkan hasil tatanan masyarakat yang jauh dari agama. Karena arti dari sekuler sendiri adalah memisahkan agama dari kehidupan. Ketika sistem sekuler ini diterapkan, yang berhak membuat aturan adalah manusia. Maka lahirlah perilaku liberal atau bebas. Perilaku hidup bebas tanpa aturan inilah yang menyebabkan berbagai kerusakan ditengah-tengah masyarakat. Ketika pemenuhan gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis) dibebaskan sesuai aturan manusia, maka yang terjadi adalah manusia akan memuaskan sesuai keinginan mereka yang jauh dari aturan dari sang pencipta. Pemuasan yang bebas itanpa aturan nilah yang menjadikan kasus HIV semakin bertambah.
Solusi Islam
Manusia sesungghnya diciptakan oleh Allah sepaket dengan aturan yang lengkap untuk menjalani kehidupan. Didalam Islam, ada pengaturan terkait system pergaulan atau Nizam Al ijtima’i. melalui aturan pergaulan Islam inilah, Islam mengharuskan setiap muslim untuk menjauhi zina, menjaga pandangan, memakai pakaian yang sudah ditetapkan oleh syariat, dan mengatur pernikahan serta penerapan sanksi/uqubat bagi seseorang yang melanggar hukum syara’. Ketika system sosial diterapkan sesuai dengan pengaturan Islam, maka kecil kemungkinan pelajar yang terjangkit penyakit HIV, karena system pergaulan mereka dijaga ketat oleh aturan Islam.
Sistem pergaulan Islam, sesungguhnya hanya akan bisa terwujud jika negara mengadopsi peraturan Islam secara kaffah . Karena hanya negaralah yang mampu menerapkan hukum secara keseluruhan agar menggantikan sistem tatanan yang rusak dari sistem sekuler hari ini. Untuk menerapkan Islam kaffah, butuh persatuan umat muslim yang sadar dan siap mengganti sistem rusak hari ini dengan sistem dari Allah SWT. Wallahu’alam
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar