Oleh : Ria Nurvika Ginting, S.H., M.H (Dosen-FH)
Viral di sosial media foto siswa/siswi yang sedang menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di halaman dengan latar belakang bangunan sekolah yang sudah hampir rubuh. Banyak tanggapan netizen menyampaikan MBG tetap berjalan dengan bangunan sekolah yang tidak layak bagi para siswa. Dinas Pendidikan Kabupaten Grobogan menyampaikan alasan mengapa SD Negeri (SDN) Tanggirejo di Kecamatan Twgowanu sempat tidak masuk daftar prioritas pernaikan, meski sejumlah ruang di sekolah itu mengalami kerusakan berat hingga sebagian bangunannya roboh. (Tribunnews.com, 24/7/26)
Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan Grobogan, M. Irfan, mengatakan bahwa laporan atap ruang kelas enam yang ambrol sudah diterima pihaknya pada Januari 2026. Sekolah ini belum menjadi priorital utama dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik) dikarenakan belum mencapai batas 30 persen kerusakan yang ditetapkkan. Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Jateng, Sadimin, menyampaikan bahwa dana bantuan ditargetkan cair pada bulan Agustus 2026 sehingga rehabilitasi lima ruang kelas bisa segera dimulai. Untuk mengawali percepatan revatilasi, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah menyalurkan bantuan senilai Rp 50 juta kepada SDN Tanggirejo untuk mendukung penanganan sementara. (Kompas.com, 24/7/26)
Sungguh sangat disayangkan, cita-cita dan visi menuju Indonesia Emas 2024, dengan kondisi ini malah terlihat menuju Indonesia cemas. Program dengan anggaran fantastis bisa ditanggung negara tetapi tidak dengan kondisi daruratnya bangunan sekolah dimana anak-anak bangsa menuntut ilmu. Seharusnya, pembangunan sekolah yang layak dan aman bagi anak-anak negeri ini lebih "darurat". Lebih membutuhkan perhatian dan anggaran memadai agar mereka bisa menyerap pelajaran di kelasnya. #RuangAmanAnak pun menjadi slogan nasional ketika peringatan Hari Anak Nasional 2026 ini. Tetapi faktanya untuk bangunan tempat mereka belajar saja banyak yang tidak layak dan tidak aman.
Inilah buah dari diterapkannya sistem kapitalis-sekuler. Di mana segala hal akan dinilai sebagai "komoditas" yang dapat diperjualbelikan, tidak terkecuali dalam hal pendidikan. Pendidikan menjadi barang mahal hari ini. Jika ingin sekolah bagus dengan fasilitas yang lengkap dan memadai maka pergilah ke sekolah elit dengan biaya tinggi. Selain itu, dalam sistem ini negara berupaya berlepas tangan dengan tidak hadir dalam penyediaan pendidikan dari sisi anggaran, sarana prasarana, bahkan untuk penyediaan literasi bagi anak bangsa pun dipangkas drastis. Negara hanya hadir sebagai regulator yang menetapkan aturan yang kembali lagi hanya untuk kepentingan para kapital.
Proyek yang dibalut program lebih diutamakan hingga memotong anggaran pendidikan agar dapat terus berjalan, sehingga yang lebih darurat tidak menjadi prioritas saat ini. Sungguh miris ketika melihat anak-anak bangsa dapat makanan gratis tetapi dengan kondisi bangunan sekolah yang hampir rubuh. Bahkan, baru beberapa hari anak-anak sekolah masuk, keracunan Makanan Bergizi Gratis (MBG) sudah menyita perhatian publik dengan banyaknya jumlah korban. Bagaimana Indonesia akan menuju Emas di tahun 2045 jika kondisi anak bangsa tidak mendapatkan pendidikan yang layak dan memadai? Sudah saatnya mengganti sistem yang tidak memberikan ruang aman kepada anak kepada sistem yang akan memberikan prioritas kepada perkembangan anak di seluruh ruang publik.
Pendidikan Dalam Sistem Islam
Di dalam Islam, menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Allah Swt. meninggikan derajat orang yang berilmu. Pendidikan dalam Islam merupakan kebutuhan dasar bagi umat, dengan pendidikan maka umat akan terhindar dari kebodohan dan kekufuran. Sabda Rasulullah: "Dalam Islam menuntut ilmu adalah kewajiban." (H.R. Ibnu Majah). Sehingga, negara wajib untuk menyediakan fasilitas pendidikan yang layak dan memadai bagi masyarakat.
Di masa Nabi saw. disediakan fasilitas di sisi Utara Masjid Nabawi, yaitu Shuffah yang dihuni oleh fakir miskin di kalangan Muhajirin, Anshar dan para pendatang dari orang-orang asing. Ini bukti bagaimana pendidikan merupakan sesuatu yang penting bagi umat. Begitu juga setelah masa Rasulullah saw. khulafaurrosyidin dan khalifah setelahnya. Pendidikan menjadi salah satu kebutuhan yang wajib di realisasikan oleh negara. Dengan plot pembiayaan tetap dari Baitul Maal.
Baitul maal sendiri sudah mempunyai anggaran tetap dari Zakat, Jizyah, Ghanimah, pengelolaan SDA dan juga pendapatan yang lain. Dengan sistem pendanaan yang sistematis berdasarkan hukum syara akan mampu membiayai seluruh kebutuhan dalam merealisasikan pendidikan yang paripurna bagi seluruh masyarakat. Mulai dari terjaganya kurikukulum berbasis aqidah Islam, tenaga profesional, sarana prasarana yang memadai berikut kesejahteran tenaga pendidik.
Hal ini telah dibuktikan dalam sejarah kejayaan Islam, di mana sarana pendidikan berupa bangunan lengkap dengan fasilitas laboratorium, perpustakaan dan sekolah tinggi dengan berbagai ilmu pengetahuan. Bukan hanya gedung sekolah, tetapi akses menuju sekolah terbukti dengan jalan dan fasilitas umum yang lengkap. Kondisi ini tidak hanya di sekolah-sekolah di pusat kota tetapi dari pusat kota hingga pelosok negeri. Tidak ada pembedaan antara pusat dan daerah.Inilah pentingnya keberadaan negara dalam persolanan pendidikan. Negara harus berada di garda terdepan karena dalam Islam, keberadaan seorang pemimpin adalah raa’in bagi rakyatnya dan akan dimintai pertanggung jawaban.
Wallahu alam bishowab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar