MAULID : MOMENTUM MENELADAN METODE PERJUANGAN NABI ﷺ


Oleh: Ina Rasiang Maja

Setiap tahun umat Islam menyambut bulan Rabiul awal dengan berbagai kegiatan untuk memperingati Maulid Nabi Muhammad ﷺ. Pembacaan shalawat, pengajian, tabligh akbar, hingga berbagai kegiatan kebersamaan menjadi bagian dari tradisi umat dalam mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ. Pada 2026, misalnya, Kementerian Agama menggelar gerakan Gema shalawat Kebangsaan sebagai bagian dari rangkaian Blissful Maulid 1448 H. Kegiatan tersebut mengajak umat memperbanyak shalawat sekaligus meneladani akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan bermasyarakat (SINDOnews.com 23/08/2026).

Namun, Maulid semestinya tidak berhenti sebagai ekspresi kecintaan yang bersifat ritual dan emosional. RRI juga menekankan bahwa kecintaan kepada Nabi ﷺ tidak cukup diwujudkan melalui peringatan atau ucapan, tetapi perlu dibuktikan melalui perilaku dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari (RRI.co.id 22/08/2026). Kejujuran, amanah, kesabaran, kasih sayang, dan kepedulian terhadap sesama merupakan sebagian keteladanan Rasulullah ﷺ yang tetap relevan di tengah kehidupan modern. Dari sini, muncul pertanyaan yang lebih mendasar: sejauh mana kecintaan kepada Rasulullah ﷺ diwujudkan dalam bentuk ittiba’ terhadap risalah dan perjuangan beliau?


Maulid dan Makna Ittiba’

Allah SWT berfirman dalam QS. Ali Imran ayat 31:   
....قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ....
“…Jika kalian mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian…”.
 
Ayat tersebut menunjukkan bahwa cinta kepada Rasulullah ﷺ memiliki konsekuensi berupa mengikuti beliau. Dengan demikian, ittiba’ tidak semestinya dipahami hanya sebagai meniru akhlak personal Nabi, tetapi juga memahami risalah, ajaran, serta perjalanan dakwah yang beliau tempuh.

Dalam konteks Maulid, keteladanan Rasulullah ﷺ dapat menjadi momentum untuk melakukan evaluasi yang lebih luas. RRI menyebut Maulid sebagai kesempatan melakukan refleksi diri dan menerapkan nilai-nilai yang dicontohkan Rasulullah dalam kehidupan keluarga, lingkungan sosial, dan masyarakat. Jika demikian, refleksi tersebut tidak hanya menyentuh perilaku individu, tetapi juga dapat mendorong umat untuk memikirkan kondisi kehidupan masyarakat dan arah perubahan yang diinginkan.


Dari Kesadaran Individu Menuju Perubahan Masyarakat

Persoalan umat Islam tidak hanya berkaitan dengan akhlak individu. Dalam pandangan kritis terhadap kehidupan modern, terdapat persoalan yang lebih luas berupa dominasi orientasi materialisme, kebebasan tanpa batas, dan kepentingan duniawi dalam berbagai aspek kehidupan. Sistem kapitalisme-sekuler, misalnya, dapat dipandang sebagai sistem yang menempatkan manusia dan kepentingan material sebagai pusat pengaturan kehidupan. Dari perspektif Islam, kondisi tersebut perlu dikaji kembali karena seorang Muslim meyakini bahwa penghambaan pada hakikatnya hanya ditujukan kepada Allah SWT.

Karena itu, kecintaan kepada Rasulullah ﷺ semestinya melahirkan kesadaran untuk menjadikan Islam sebagai pedoman kehidupan secara menyeluruh. Perubahan yang dimaksudkan bukan sekadar perubahan perilaku personal, tetapi juga perubahan cara pandang terhadap kehidupan. Maulid dapat menjadi ruang untuk membangun kesadaran bahwa Islam memiliki ajaran yang mencakup berbagai dimensi kehidupan, sekaligus mengajak umat kembali memahami bagaimana Rasulullah ﷺ membangun masyarakat Islam.


Meneladan Metode Perjuangan Rasulullah ﷺ

Dalam sejarah dakwah Rasulullah ﷺ di Makkah, perubahan tidak berlangsung secara instan. Rasulullah ﷺ membina para sahabat dengan pemahaman Islam, membangun kepribadian berdasarkan akidah, kemudian berinteraksi dengan masyarakat untuk menyampaikan pemikiran Islam dan mengubah kesadaran mereka. Setelah itu, dakwah memasuki fase penerimaan kekuasaan yang memungkinkan penerapan Islam dalam kehidupan masyarakat.

Metode perjuangan Rasulullah ﷺ dapat dipahami melalui tiga tahapan utama, yaitu tatsqif (pembinaan dan pembentukan pemikiran), tafa’ul ma’al ummah (interaksi dengan umat), dan istilamul hukmi (penerimaan kekuasaan). Dalam perspektif yang menempatkan Khilafah sebagai bentuk kepemimpinan dalam Islam, ketiga tahapan tersebut dipandang sebagai metode perjuangan untuk mewujudkan kembali kehidupan yang berlandaskan ajaran Islam secara menyeluruh.

Namun, metode perjuangan Nabi ﷺ perlu dipahami sebagai bagian dari dakwah yang dilakukan dengan ilmu, keteladanan, pendekatan yang damai, serta membangun kesadaran di tengah masyarakat. Oleh karena itu, peringatan Maulid dapat dijadikan momentum untuk memperluas pemahaman umat, bukan hanya sebagai kegiatan untuk mengenang kelahiran Rasulullah ﷺ, tetapi juga sebagai kesempatan untuk mempelajari risalah, keteladanan, dan perjalanan dakwah yang beliau lakukan.

Pada akhirnya, Maulid bukan sekadar tentang seberapa meriah shalawat dilantunkan, tetapi tentang seberapa jauh kecintaan kepada Rasulullah ﷺ menghasilkan perubahan dalam kehidupan. Sebagaimana pesan yang disampaikan dalam peringatan Maulid, cinta kepada Nabi tidak seharusnya berhenti pada seremoni, melainkan diwujudkan dalam keteladanan nyata. Dengan menjadikan Maulid sebagai momentum mempelajari risalah, meneladani akhlak, serta memahami metode dakwah Rasulullah ﷺ, umat Islam dapat menjadikan kecintaan kepada Nabi sebagai energi untuk memperbaiki diri dan masyarakat. Inilah hakikat ittiba’, yaitu mewujudkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ dengan mengikuti petunjuk, ajaran, dan keteladanan beliau, sehingga nilai-nilai Islam dapat diterapkan dalam kehidupan dan menjadi rahmat bagi seluruh alam, sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. Al-Anbiya :107: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.”




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar