Disaat MBG Tak Menyentuh Daerah Yang Paling Butuh


Oleh : Siami Rohmah 

Ironi, program MBG yang digadang-gadang untuk bisa meningkatkan kualitas nutrisi anak-anak Indonesia ternyata, menyisakan keruwetan yang tak kunjung terurai. Disamping masalah keracunan, korupsi, SPPG fiktif. Sebuah fakta yang bertentangan dengan tujuan awal yang ingin dicapai dari program ini yaitu minimnya dapur MBG di wilayah yang seharusnya menjadi prioritas peningkatan gizi. Sebut saja di Papua,disana dapur MBG yang beroperasi hanya 1% saja padahal banyak wilayah yang terkategori termiskin, terpencil dengan angka stunting yang tinggi.

Di daerah Mamberamo Raya, berdasarkan laporan Dinas Kesehatan Provinsi Papua tahun 2025 menyebutkan bahwa daerah ini menjadi wilayah dengan prevalensi stunting pada anak balita tertinggi kedua setelah Supiori yaitu mencapai 22,65%. Kemudian prevalensi malnutrisi pada anak balita mencapai 13,4%. (BBC News Indonesia/28/07/26).

Carut-marut program MBG semakin tampak ke permukaan. Dengan dana yang begitu besar program ini semakin jauh dari realisasi tujuan awalnya. Dimana pada faktanya program tidak benar-benar fokus menyelesaikan program stunting dan gizi buruk,dengan bukti masih tingginya angka stunting dan malnutrisi pada anak. Semakin nyata program ini hanya mengejar realisasi anggaran sebagai indikator keberhasilan.

MBG dengan dana besar yang dipaksakan untuk bisa terus berjalan, meskipun keuangan negara sedang terseok-seok akhirnya menyedot dana-dana penting lain, seperti dana pendidikan, dan kesehatan. Akhirnya wilayah-wilayah 3T yang seharusnya menjadi prioritas justeru terabaikan. Dana MBG menjadi bancakan mereka yang menjadi kroni penguasa,para pejabat yang juga mengambil bagian dari" kue MBG" melalui dapur -dapur yang mereka kelola. Keberpihakan kepada rakyat hanya isapan jempol.

Pembuatan kebijakan dalam kapitalisme tak lepas dari pencitraan para penguasa. MBG sebagai janji politik dipaksakan untuk dijalankan sebagai bukti bahwa janji sudah ditunaikan. Dan bisa menjadi salah satu tiket pengaman untuk kontestasi selanjutnya. Selain itu program -program penguasa dibuat agar para pendukung dilingkaran mereka juga mendapat keuntungan. Mereka yang mendapat bagian diharapkan akan semakin loyal memberikan dukungan untuk melenggang kembali di kontestasi selanjutnya. Bukan nasib rakyat yang mereka prioritaskan,maka ketika banyak tuntutan penghentian program MBG misalkan,para pemilik dapur yang heboh menolak, karena jika berhenti otomatis lahan basah mereka akan mengering. Belum lagi dana politik yang mereka keluarkan untuk memenangkan kontes butuh dikembalikan, demokrasi tak pernah murah.

Sejatinya seorang pemimpin dalam Islam itu adalah raa'in, sebagai penanggung jawab atas rakyat yang dipimpinnya. Setiap individu rakyat akan menjadi tanggung jawab dan dipertanggung jawabkan di akhirat. Pemimpin tidak boleh menelantarkan setiap urusan rakyat. Pemimpin harus memastikan bagaimana setiap individu rakyat terpenuhi semua kebutuhannya, baik kebutuhan individu (sandang, pangan,papan) dan kebutuhan komunalnya (kesehatan, pendidikan dan keamanan). Seorang pemimpin tidak butuh pencitraan di hadapan manusia,yang mereka kejar adalah keridhoan Allah atas pelaksanaan amanah yang ada dipundaknya.

Para pemimpin dalam Islam sibuk memikirkan bagaimana terwujudnya kemaslahatan untuk rakyat, sehingga fokus pada masalah dan penyelesaiannya.Sebagaiman dahulu Khalifah Umar bin Abdul Aziz yang sering tiba-tiba terbangun dalam tidurnya karena takut tidak amanah dalam mengemban tugas, beliau sedikit sekali tidur karena memikirkan urusan rakyat. Maka tidak heran jika kurang dari tiga tahun kepemimpinan beliau untuk mencari penerima zakat sangat susah, karena kondisi rakyat sudah sejahtera.

Janji pemimpin itu kepada Allah SWT,maka dalam Islam pemilihan pemimpin (Khalifah) sangatlah mudah, efektif dan efisien. Pelaksanaan tidak membutuhkan banyak dana, yang akhirnya berujung pada balas budi politik sehingga anggaran negara yang seharusnya untuk rakyat disiasati agar bisa masuk ke kantong-kantong yang sudah dikeluarkan untuk membiayai kontestasi politik mereka. Hanya dengan Islam saja kerahmatan akan dirasakan seluruh penjuru negeri, keberkahan dari langit dan bumi. Keledai yang terperosok pada jalan berlubang saja dipikirkan dan setiap jiwa akan terjaga. InsyaAllah..




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar