Damai Tak Bermakna


Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)

Konflik di Timur Tengah kembali memanas. Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) melancarkan serangan terhadap sejumlah sasaran militer Iran selama 12 malam berturut-turut. Iran kemudian membalas dengan menyerang fasilitas dan pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah. Peristiwa itu terjadi meskipun sebelumnya kedua pihak telah mencapai kesepakatan damai. Rangkaian serangan balasan tersebut kembali meningkatkan ketegangan di kawasan dan memunculkan kekhawatiran akan meluasnya konflik. (Antara NTT, Kamis, 23 Juli 2026)


Kepentingan Menguasai Dunia

Kesepakatan damai antara Iran dan Amerika Serikat berulang kali terbukti rapuh. Penyebab utamanya bukan karena kurangnya dokumen perjanjian, melainkan karena hubungan keduanya dibangun di atas kepentingan, bukan keadilan. Selama sebuah kesepakatan menguntungkan, ia dipertahankan. Namun, ketika dianggap menghalangi kepentingan politik, ekonomi, atau militer, kesepakatan itu dengan mudah diabaikan.

Inilah watak sistem kapitalisme yang menjadikan manfaat sebagai ukuran utama. Moral, kejujuran, bahkan hukum internasional dapat berubah mengikuti arah kepentingan negara yang memiliki kekuatan paling besar. Akibatnya, dunia tidak lagi diatur oleh keadilan, tetapi oleh siapa yang paling mampu memaksakan kehendaknya.

Lihatlah kenyataan yang begitu jelas. Amerika Serikat berada ribuan kilometer dari Iran. Tidak berbatasan wilayah dan tidak berada dalam kawasan yang sama. Namun, Amerika merasa memiliki hak untuk mengirim pasukan dan menyerang wilayah Iran. 

Anehnya, tindakan itu sering dibungkus dengan alasan menjaga perdamaian, demokrasi, atau keamanan dunia sehingga memperoleh pembenaran.

Sebaliknya, ketika Iran membalas serangan terhadap pangkalan militer Amerika yang berada di negara-negara sekitar seperti Qatar, Bahrain, Kuwait, atau Oman, narasi yang segera muncul adalah ancaman terhadap stabilitas dunia. 

Standar yang digunakan berubah seketika. Jika dilakukan negara kuat disebut menjaga keamanan, tetapi jika dilakukan pihak lain disebut ancaman. Inilah wajah nyata standar ganda yang selama ini dipertontonkan kepada dunia.

Yang lebih menyedihkan, sebagian negeri Muslim justru membiarkan wilayahnya menjadi tempat berdirinya pangkalan militer Amerika. Keadaan ini menunjukkan lemahnya keberanian politik. Bukan hanya lemah secara militer, tetapi juga lemah dalam mempertahankan kedaulatan dan membela sesama kaum Muslim. 

Tekanan negara adidaya membuat sebagian penguasa lebih memilih tunduk daripada berdiri membela prinsip keadilan.

Allah Swt. telah mengingatkan, "Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim sehingga kamu disentuh api neraka." (QS. Hud: 113). Ayat ini menjadi peringatan agar kaum Muslim tidak memberikan dukungan ataupun pembenaran terhadap kezaliman dalam bentuk apa pun.


Kekuatan Menjaga Keadilan

Konflik Timur Tengah tidak akan selesai hanya dengan gencatan senjata atau kesepakatan politik yang sewaktu-waktu dapat dilanggar. Selama keseimbangan kekuatan dunia masih dikuasai oleh satu negara yang bebas menentukan kehendaknya, maka peperangan akan terus berulang dengan wajah yang berbeda.

Masalah terbesar bukan semata-mata siapa yang paling kuat, melainkan kepada siapa kekuatan itu berada. Jika kekuatan digunakan untuk mempertahankan hegemoni, menguasai sumber daya, dan menekan bangsa lain, maka dunia hanya akan mewarisi penderitaan tanpa akhir. Perdamaian hanya menjadi slogan yang diucapkan ketika menguntungkan, lalu ditinggalkan saat kepentingan berubah.

Sebaliknya, kekuatan yang dibangun di atas keimanan akan memiliki tujuan yang berbeda. Kekuatan bukan dipakai untuk menjajah, melainkan menjaga keadilan, melindungi yang lemah, dan mencegah kezaliman. 

Kekuatan seperti inilah yang mampu menghadirkan rasa aman, bukan rasa takut.

Negeri-negeri Muslim sesungguhnya memiliki modal yang sangat besar. Jumlah penduduk yang besar, kekayaan alam yang melimpah, letak geografis yang strategis, serta sumber daya manusia yang berpotensi menjadi kekuatan dunia. Sayangnya, seluruh potensi itu tercerai-berai karena terpisah oleh batas politik dan kepentingan masing-masing.

Oleh karena itu, persatuan umat di bawah kepemimpinan Khilafah 'ala Minhaj an-Nubuwwah dipandang sebagai jalan untuk menyatukan seluruh potensi tersebut. Dengan persatuan politik, kekuatan militer, ekonomi, dan diplomasi dapat dibangun secara mandiri sehingga tidak mudah didikte oleh negara mana pun. Kekuatan itu bukan untuk menindas bangsa lain, melainkan menjadi pelindung kemuliaan umat sekaligus menghadirkan keadilan dan ketenteraman bagi seluruh manusia. 

Perdamaian sejati tidak lahir dari kesepakatan yang dibangun atas kepentingan, tetapi dari kekuatan yang tunduk kepada hukum Allah dan menjadikan keadilan sebagai tujuan utamanya. Wallahualam bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar