Oleh: Vivi (Aktivis muslimah Bali)
Bali dikenal sebagai pulau yang kaya budaya dan menjadi tujuan wisata dunia. Namun di balik pesatnya perkembangan pariwisata dan teknologi digital, ada persoalan yang tak boleh luput dari perhatian. Kasus perkawinan anak masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah. Di saat yang sama, pergaulan bebas, kekerasan seksual, penyebaran foto atau video intim (sexting), pornografi digital, hingga eksploitasi anak di media sosial juga terus bermunculan. Semua ini menjadi tanda bahwa generasi kita sedang menghadapi tantangan moral yang semakin berat.
Persoalan ini tentu tidak bisa hanya disalahkan pada anak-anak atau kemajuan teknologi. Arus kebebasan yang terus didorong melalui media, hiburan, dan dunia digital perlahan membuat batas antara yang benar dan yang salah semakin kabur. Hal-hal yang dulu dianggap tabu kini mulai dianggap biasa. Akibatnya, negara lebih sering hadir ketika masalah sudah terjadi, sementara upaya menjaga generasi dari akar kerusakan belum benar-benar menyentuh sumber persoalan.
Islam memandang bahwa menjaga kehormatan dan akhlak generasi adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya orang tua atau sekolah, tetapi juga negara. Allah Swt. berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina. Sesungguhnya zina itu adalah perbuatan keji dan jalan yang buruk." (QS. Al-Isra': 32).
Oleh karena itu, solusi tidak cukup hanya berupa sosialisasi, edukasi digital, atau penindakan setelah pelanggaran terjadi. Yang dibutuhkan adalah perubahan yang lebih mendasar, yaitu sistem kehidupan yang menjadikan syariat Islam sebagai pedoman. Negara hadir membangun pendidikan yang berlandaskan akidah Islam, menjaga ruang publik dan media dari konten yang merusak, menerapkan aturan yang tegas sebagai pelindung masyarakat, serta memastikan setiap kebijakan benar-benar mengarah pada lahirnya generasi yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Inilah ikhtiar nyata untuk menjaga masa depan umat, bukan sekadar mengobati luka setelah kerusakan terjadi.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar