Oleh: Ni’mah Fadeli
Gen Z adalah istilah untuk generasi yang lahir di antara tahun 1997-2012. Gen Z awal saat ini telah berusia di atas 25 tahun sehingga sebagian dari mereka telah bekerja dan menikah, inilah yang akan menjadi pembahasan opini kali ini. Sementara Gen Z akhir rata-rata masih mengenyam pendidikan di bangku kuliah dan sekolah.
Gen Z memiliki kreativitas luar biasa. Berbagai inovasi dalam dunia kerja pun tercipta karena peran serta mereka. Gen Z mampu dengan detail melihat hal kecil yang mungkin terlewat oleh generasi sebelumnya. Hal ini pula yang menjadikan Gen Z lebih memiliki kepedulian terhadap kebutuhan emosional. Berbagai hadiah pun kerap mereka hadirkan kepada diri sendiri (self reward).
Sebagai contoh, Bella (28 tahun) yang ketika menerima notifikasi gajinya telah masuk rekening segera membeli lipstik baru sebagai self reward bulan ini. Tak lupa ia juga menjadwalkan untuk makan di tempat favorit dan membeli sepatu. Self reward itu dilakukan Bella setelah membayar sewa tempat tinggal dan memenuhi kebutuhan dasar lainnya.
Begitu pun Bayu (27 tahun) yang memilih berlangganan spotify, makan di tempat baru, dan menonton bioskop sebagai bentuk self reward. Bella dan Bayu tak memungkiri ada kecemasan akan masa depan karena kondisi ekonomi yang tak menentu. Namun, self reward adalah cara mereka menikmati hasil kerja dan mengikis rasa stres. (kompas.com, 12 Agustus 2026).
Healing yang Semu
Sebanyak 48 persen Gen Z merasa tidak aman secara finansial. Meski telah memiliki penghasilan, tetapi kondisi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja tak urung membuat merasa Gen Z memikul beban. Hal ini pula yang mendorong Gen Z mencari cara menyalurkan beban tersebut. Berbagai self reward pun dilakukan untuk diri yang dinilai telah keras berjuang.
Tren self reward yang makin berkembang sebenarnya tak menjadi masalah jika disesuaikan dengan bugdet yang ada, dilakukan setelah kebutuhan wajib telah terpenuhi, dan tentu saja tidak berlebihan. Namun, sayangnya Gen Z sering melakukan self reward hanya karena ingin terlihat sama dengan sekitar (FOMO).
Pengaruh media sosial menjadi sebab kuat budaya FOMO ini. Paparan kehidupan yang tampak lebih bahagia di media sosial membuat Gen Z cenderung memiliki kecenderungan membandingkan pencapaian diri dan kemudian mengupayakan hal yang sama meski sebenarnya tidak ingin dan butuh.
Jika ditelisik lebih jauh, hal ini terjadi karena Gen Z belum paham tujuan hidupnya. Tak mengherankan, karena saat ini kehidupan sekularisme begitu nyata adanya. Agama hanya dijadikan ritual dan tak benar-benar dijadikan pegangan dalam mengarungi kehidupan.
Kebahagiaan didasarkan atas pencapaian duniawi yang tampak wah di mata manusia. Semua orang berlomba-lomba mengejar materi untuk sebuah validasi. Batasan halal haram menjadi nomor ke sekian. Tetap beragama Islam, tetapi tidak memiliki keinginan Allah rida atas apa yang dilakukan. Hanya kenikmatan semu dan sesaat yang menjadi kiblat. Nastaghfirullah.
Hakikat Kehidupan
Firman Allah Swt. : "Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku." (QS. Az-Zariyat : 56)
Inti manusia diciptakan adalah untuk beribadah kepada Allah. Ibadah memiliki arti yang luas, bukan hanya shalat, membayar zakat, puasa, dan haji saja. Setiap amalan manusia memiliki nilai ibadah jika diniatkan karena Allah dan tidak melanggar syariat.
Hal ini yang luput jika sekularisme telah menjadi bagian dalam kehidupan sehari-hari. Gen Z pun cenderung melakukan self reward tanpa memedulikan batasan syar'i. Akidah yang rapuh membuat healing bahkan dapat melahirkan persoalan baru, misalnya terjebak utang dan pergaulan yang jauh dari Islam.
Lingkungan islami tidak dapat dibentuk oleh individu. Negara wajib menghadirkan suasana islami dengan menerapkan aturan yang bersumber bukan dari kesepakatan manusia yang mudah berubah, tetapi syariat dari Sang Pencipta.
Islam memandang negara adalah perisai bagi rakyat. Maka segala kebijakan diperuntukkan untuk kemaslahatan rakyat. Sumber daya alam dikelola mandiri dan hasilnya dikembalikan ke rakyat dalam bentuk kesejahteraan. Pendidikan, kesehatan, keamanan, transportasi, tempat tinggal, disediakan dengan kualitas terbaik tanpa biaya.
Penjagaan dilakukan dari segala sisi, termasuk dalam media sosial. Bukan untuk membatasi kreativitas tetapi agar gaya hidup masyarakat tetap dalam koridor syariat. Gen Z pun tidak sibuk mengejar validasi atau FOMO dengan berbagai self reward karena telah paham tujuan hidupnya dan negara benar-benar menjaganya.
Tidak ada tuntutan ekonomi yang memaksa bekerja keras bagai kuda sehingga merasa lelah dan butuh healing. Islam hadir sebagai pedoman hidup berisi syariat yang memudahkan manusia. Lantas, sampai kapan masih bertahan dengan sekularisme kapitalisme yang telah jelas menyengsarakan kehidupan?
Wallahu a’lam bishawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar