Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)
PBB memperingatkan bahwa kondisi di Tepi Barat semakin mengkhawatirkan. Hingga 10 Agustus 2026, sebanyak 76 warga Palestina syahid sepanjang tahun ini, termasuk 18 anak-anak. Pada periode yang sama, sekitar 3.800 warga Palestina kehilangan tempat tinggal akibat penggusuran, penghancuran rumah, dan kekerasan. PBB juga mencatat lebih dari 1.430 insiden yang berdampak pada sekitar 260 komunitas Palestina. Sementara sejak Januari 2024 hingga Juli 2026, sebanyak 174 anak Palestina terbunuh, lebih dari 1.500 terluka, dan 355 anak ditahan di penjara militer Israel (republika.co.id, 12 Agustus 2026).
Angka-angka tersebut bukan sekadar data. Di baliknya ada ribuan kisah pilu yang jarang mendapat ruang dalam pemberitaan dunia. Ada anak yang kehilangan orang tuanya. Ada keluarga yang terusir dari rumahnya. Ada generasi yang tumbuh dalam suara ledakan, ketakutan, dan ketidakpastian.
Kejahatan Terus Berulang
Jika dicermati, apa yang terjadi di Tepi Barat tidak dapat disebut sebagai insiden yang berdiri sendiri. Data yang disampaikan PBB menunjukkan adanya pola yang jelas dan berulang. Kekerasan terjadi, warga Palestina meninggalkan wilayahnya, lalu tanah yang ditinggalkan itu beralih ke tangan pemukim Israel. Ini bukan hanya soal bentrokan, melainkan proses penguasaan wilayah yang berlangsung sedikit demi sedikit tetapi terus-menerus.
Fakta yang paling menyayat hati adalah besarnya jumlah korban anak-anak. Mereka bukan pihak yang memegang senjata. Mereka bukan pengambil keputusan politik. Namun justru mereka yang paling banyak menanggung akibat. Masa kecil mereka dirampas. Pendidikan mereka terganggu. Rasa aman yang seharusnya menjadi hak setiap anak hilang begitu saja.
Ketika seorang anak kehilangan rumah, ia kehilangan tempat berlindung. Ketika sekolah tidak lagi aman, ia kehilangan kesempatan membangun masa depan. Ketika setiap hari diwarnai ketakutan, luka yang tersisa bukan hanya luka fisik, tetapi juga trauma yang dapat bertahan hingga puluhan tahun.
Yang lebih menyedihkan, tragedi ini berlangsung di hadapan dunia. Laporan demi laporan diterbitkan. Sidang demi sidang digelar. Kecaman demi kecaman disampaikan. Namun penderitaan rakyat Palestina tetap berlanjut. Seolah-olah nyawa mereka hanya menjadi angka dalam laporan tahunan yang segera dilupakan setelah sidang selesai.
Di sinilah muncul pertanyaan besar tentang efektivitas lembaga internasional. Jika pelanggaran kemanusiaan telah diakui, jika data korban telah tersedia, jika berbagai negara mengetahui apa yang sedang terjadi, mengapa kejahatan itu terus berlangsung? Mengapa pengusiran, perampasan tanah, dan kekerasan terhadap warga sipil masih terus terjadi tanpa penghentian yang nyata?
Kondisi ini menunjukkan bahwa masalah Palestina bukan sekadar persoalan kemanusiaan, tetapi juga persoalan kekuatan politik global. Ketika kepentingan politik lebih dominan daripada keadilan, maka korban akan terus berjatuhan sementara dunia hanya menjadi penonton.
Islam memandang tindakan membunuh, mengusir, dan menzalimi masyarakat sipil sebagai kejahatan besar. Dalam surat an-nisa ayat 75 Allah SWT sudah berfirman, "Mengapa kamu tidak berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah dari (kalangan) laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang berdoa..."
Ayat ini menegaskan bahwa pembelaan terhadap mereka yang tertindas bukanlah perkara yang boleh diabaikan. Ketika kezaliman terjadi, Islam tidak mengajarkan sikap diam atau membiarkan penderitaan terus berlangsung.
Persatuan Jadi Kekuatan
Dampak tragedi ini jauh melampaui jumlah korban yang tercatat. Setiap anak yang kehilangan keluarganya membawa luka batin yang mungkin tidak pernah benar-benar sembuh. Setiap rumah yang dihancurkan berarti hilangnya tempat berlindung bagi sebuah keluarga. Setiap sekolah yang tidak aman berarti terancamnya masa depan sebuah generasi.
Oleh karena itu, solusi tidak cukup berhenti pada bantuan kemanusiaan. Bantuan makanan, obat-obatan, dan tempat pengungsian memang penting, tetapi semua itu hanya mengurangi penderitaan sementara. Akar masalahnya tetap ada selama kezaliman yang melahirkan penderitaan tersebut tidak dihentikan.
Dalam pandangan Islam, pembiaran terhadap kezaliman merupakan sesuatu yang tidak dapat dibenarkan. Umat Islam diperintahkan untuk peduli terhadap penderitaan sesamanya. Palestina bukan hanya persoalan rakyat Palestina, tetapi persoalan umat yang menuntut perhatian dan tindakan nyata.
Dukungan politik, diplomatik, ekonomi, media, dan kemanusiaan harus terus dilakukan secara serius dan berkesinambungan. Negeri-negeri Muslim juga perlu memiliki kesatuan sikap sehingga tidak berjalan sendiri-sendiri menghadapi persoalan yang sama. Persatuan akan melahirkan kekuatan. Sebaliknya, perpecahan hanya akan membuat umat terus berada dalam posisi lemah.
Sebagian pemikir Islam berpandangan, umat memerlukan kepemimpinan politik yang mampu menyatukan potensi dunia Islam sehingga perlindungan terhadap kaum Muslim yang tertindas dapat dilakukan secara efektif. Dalam pandangan tersebut, penerapan syariat Islam secara menyeluruh dan persatuan umat dipandang sebagai jalan untuk menghadirkan kekuatan yang mampu melindungi kaum Muslim dari penjajahan dan kezaliman.
Yang pasti, tragedi Palestina tidak boleh dianggap sebagai berita biasa yang berlalu begitu saja. Setiap anak yang terbunuh adalah bukti bahwa kemanusiaan sedang terluka. Setiap keluarga yang terusir adalah bukti bahwa keadilan belum benar-benar hadir.
Palestina hari ini adalah cermin bagi dunia. Apakah manusia masih memiliki keberanian untuk membela yang lemah, atau justru memilih diam ketika kezaliman terjadi di depan mata. Sejarah akan mencatat siapa yang berdiri bersama para korban dan siapa yang memilih berpaling. Selama darah masih tertumpah dan hak-hak rakyat Palestina masih dirampas, perjuangan untuk menghentikan kezaliman tidak boleh berhenti hingga terwujudnya kembali Khilafah ala minhajin Nubuwwah. Wallahualam bissawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar