Oleh: Ai Dewi Mulyawati
Ketika bencana melanda daerah lain, apa yang terucap dari bibir kita? Apakah rasa prihatin, keinginan untuk meringankan beban saudara kita? Atau justru kalimat-kalimat yang menjauhkan diri:
"Biarin aja lah, toh kejadiannya bukan di daerah kita."
"Mau gimana lagi, udah takdir."
"Pantes aja kena musibah, daerah sana banyak maksiat."
Ungkapan-ungkapan ini bukan sekadar kata-kata biasa. Ia adalah cerminan dua penyakit sosial yang makin menggerogoti kehidupan kita saat ini, sikap apatis yang menutup mata terhadap penderitaan orang lain, dan penghakiman mudah yang seolah memberi izin untuk tidak peduli.
Saat Ikatan Kemanusiaan Mulai Terurai
Rasulullah Saw. telah memperingatkan kita jauh sebelum kita lahir: "Sungguh ikatan Islam akan terurai simpul demi simpul. Setiap satu simpul terurai maka manusia akan bergantungan pada simpul berikutnya. Yang pertama kali terurai adalah masalah hukum (pemerintahan) dan yang paling akhir adalah sholat." (HR. Ahmad 5: 251).
Beliau mengingatkan hal ini agar kita benar-benar berpegang teguh kepada tali tersebut — bukan malah hanya diam menerima bahwa itu adalah takdir yang sudah digariskan.
Salah satu ikatan yang kini perlahan terurai adalah ikatan sosial. Memang ikatan sosial, termasuk di dalamnya kepedulian, sedang terkikis oleh individualisme. Kita semakin sibuk dengan diri sendiri, sehingga nasib orang lain perlahan menjadi hal yang "bukan urusan saya".
Mengapa Kepedulian Semakin Menipis?
Banyak dari kita beralasan, "Udahlah, percuma kita peduli. Kita kan cuma rakyat kecil. Penguasa saja bungkam, untuk apa kita bersuara?"
Rasa kecewa terhadap ketidakberpihakan para pemimpin memang wajar dirasakan. Namun ketika kekecewaan itu membuat kita memilih diam dan menutup hati, maka yang terjadi bukanlah perlawanan — melainkan kekalahan kemanusiaan itu sendiri.
Sering pula kita mendengar kalimat yang terasa menenangkan namun berbahaya jika disalahpahami:
"Tenang saja, rezeki sudah diatur."
"Kalau memang rezekinya, tidak akan ke mana-mana."
"Rezeki nggak akan tertukar."
Benar, rezeki memang telah Allah tetapkan. Tetapi membiarkan hak manusia dirampas bukanlah tawakal — itu adalah sikap yang harus dipertanggungjawabkan. Kalimat-kalimat di atas menjadi berbahaya ketika digunakan untuk mematikan kepedulian, membungkam kritik, dan membenarkan sikap berpangku tangan terhadap kezaliman.
Dan inilah bahaya nyata dari sistem Kapitalisme. Orang-orang kapitalis memisahkan agama dari kehidupan sehingga agama dianggap hanya ritual, hanya antara dia dan Allah. Asal dia shalih sendiri, tak peduli yang lain salah. Asal dia bahagia sendiri, tak peduli yang lain sengsara.
Berbeda dengan sistem Islam, agama dalam Islam adalah panduan untuk seluruh aspek kehidupan — termasuk hubungan antarmanusia.
Ada rakyat yang membutuhkan bantuan. Ada hak masyarakat yang semestinya mereka terima. Ada anggaran yang seharusnya sampai kepada mereka. Ada distribusi yang tidak tepat sasaran. Bahkan ada dugaan penyelewengan yang membuat hak masyarakat tidak sampai kepada yang berhak. Lalu kita berkata, "Sudahlah… mungkin memang bukan rezekinya." Benarkah demikian?
Takdir Bukan Alibi untuk Berdiam Diri
Allah SWT. memang telah menetapkan rezeki setiap hamba. Namun manusia tetap diperintahkan untuk berikhtiar, bekerja, menolong yang membutuhkan, menunaikan amanah, dan mencegah kemungkaran. Sebab takdir tidak pernah menjadi alasan untuk meninggalkan kewajiban.
Ada perbedaan besar antara tawakal dan fatalisme. Tawakal berarti menyerahkan hasil kepada Allah setelah kita berusaha dan mengambil sebab yang dibenarkan syariat. Sedangkan fatalisme adalah menjadikan takdir sebagai alasan untuk tidak berbuat apa-apa.
Petani tidak berkata, "Kalau sudah rezeki, padi akan tumbuh sendiri." Melainkan ia menanam, mengairi, merawat, menjaga dari hama — baru kemudian bertawakal.
Begitu pula dalam kehidupan sosial. Ketika melihat kemiskinan, kita tidak cukup berkata, "Rezeki mereka sudah Allah atur."
Kita harus bertanya, "apa yang bisa kita lakukan?"
Ketika melihat kezaliman, kita tidak cukup berkata, "Allah pasti memberikan rezeki kepada mereka." Kita harus bertanya, "mengapa kezaliman itu terjadi dan bagaimana menghentikannya?"
Bahaya Menghakimi Sesama
Sikap menghakimi sering kali menyembunyikan ketidakpedulian di balik dalih keagamaan atau moralitas. Saat bencana datang, seolah kita memiliki kebenaran mutlak untuk menilai bahwa orang lain layak menderita. Padahal:
"Malaikat tak pernah salah, setan tak pernah benar, manusia bisa benar, namun bisa juga salah. Maka kita dianjurkan untuk saling mengingatkan, bukan saling menyalahkan."
Allah SWT. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اجْتَنِبُوْا كَثِيْرًا مِّنَ الظَّنِّ ۖ اِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ اِثْمٌ وَّلَا تَجَسَّسُوْا وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًا ۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُ ۗ وَاتَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ تَوَّابٌ رَّحِيْمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak prasangka! Sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa. Janganlah mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Bertakwalah kepada Allah! Sesungguhnya Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Hujurat: 12).
Rasulullah Saw. juga bersabda: "Hindarilah prasangka, karena prasangka adalah perkataan yang paling dusta." (HR. Bukhari).
Menuduh musibah sebagai hukuman atas dosa adalah tindakan yang berbahaya. Karena dengan begitu, seolah kita sedang berkata, "Mereka lebih berdosa dari kita, dan kita lebih suci dari mereka." Padahal belum tentu demikian di sisi Allah. Hanya Dia yang mengetahui hakikat hati setiap hamba-Nya. Bencana adalah ujian bagi mereka yang mengalaminya — dan juga ujian bagi kita yang melihatnya, ujian atas rasa solidaritas, kelembutan hati, dan keimanan kita kepada takdir Allah yang penuh rahasia.
Kepedulian Adalah Ibadah
Islam memandang sikap tidak peduli terhadap penderitaan sesama sebagai kelalaian yang bertentangan dengan hakikat keimanan. Rasulullah Saw. menginrahasia "Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga ia mencintai untuk saudaranya apa yang ia cintai untuk dirinya sendiri." (HR. Bukhari & Muslim).
Orang beriman itu bersaudara. Allah SWT. berfirman:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah kedua saudaramu (yang bertikai) dan bertakwalah kepada Allah agar kamu dirahmati." (QS. Al-Hujurat: 10).
Ikatan ini lebih kuat dari sekadar darah atau kedaerahan. Dia adalah ikatan ideologis. Syekh Taqiyuddin An-Nabhani dalam Kitab Nizham Al-Islam menjelaskan bahwa hanya ikatan ideologis yang layak dijadikan pengikat antar manusia dalam kehidupannya, untuk meraih kebangkitan dan kemajuan. Sebab ikatan ini berasal dari aqidah aqliyah (akidah yang sampai melalui proses berfikir) yang melahirkan peraturan hidup menyeluruh. Rasulullah Saw. memberikan perumpamaan yang indah: "Perumpamaan orang-orang beriman dalam saling mencintai, berkasih sayang, dan saling menolong adalah bagaikan satu tubuh. Jika satu anggota tubuh merasa sakit, maka seluruh tubuh akan ikut terjaga dan demam." (HR. Muslim).
Kepedulian dan amar makruf nahi mungkar adalah bagian dari ibadah juga, bahkan nilainya lebih besar dari shalat sunah. Maka janganlah kita menganggap sekadar urusan sesama bukan bagian dari kewajiban keagamaan kita.
Lalu bagaimana jika kita merasa tidak berdaya? Ingatlah janji Allah: "Sesungguhnya Allah menolong umat ini melalui orang-orang lemahnya — melalui doa, ibadah, dan keikhlasan mereka." (HR. Nasa'i).
Dan ketika melihat kemungkaran, Islam tidak menyuruh kita pasrah saja:
"Barang siapa di antara kalian melihat kemungkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya. Jika tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika tidak mampu, maka dengan hatinya..." (HR. Muslim).
Islam tidak mengatakan, "Biarkan saja, mungkin memang bukan rezekinya." Islam mengajarkan agar kemungkaran diubah sesuai kemampuan.
Rezeki Memang Milik Allah, Tetapi Keadilan Adalah Kewajiban Manusia
Bukankah ini pertanyaan yang harus kita renungkan? Jika rezeki kita memang telah Allah tetapkan, mengapa kita takut membantu orang lain? Jika rezeki tidak akan tertukar, mengapa kita takut membela yang dizalimi? Justru keyakinan terhadap rezeki semestinya membuat kita lebih berani dalam kebenaran.
Allah SWT. berfirman:
لَهٗ مُعَقِّبٰتٌ مِّنْۢ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهٖ يَحْفَظُوْنَهٗ مِنْ اَمْرِ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَنْفُسِهِمْ ۗ وَاِذَآ اَرَادَ اللّٰهُ بِقَوْمٍ سُوْۤءًا فَلَا مَرَدَّ لَهٗ ۚ وَمَا لَهُمْ مِّنْ دُوْنِهٖ مِنْ وَّالٍ
"Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia." (QS. Ar-Ra'd: 11).
Oleh karena itu jangan gunakan takdir untuk membenarkan kemalasan, Jangan gunakan rezeki untuk membungkam kritik. Jangan gunakan kesabaran untuk melanggengkan kezaliman. Jangan gunakan tawakal sebagai alasan untuk berpangku tangan.
Jika ada yang lapar — berikan makanan, jangan hanya berkata sabar. Jika ada hak yang terampas — tanyakan ke mana perginya, jangan hanya berkata mungkin bukan rezekinya. Jika ada amanah yang diselewengkan — jangan diam. Jika ada kezaliman — jangan berlindung di balik kata ikhlas.
Bisa jadi persoalannya bukan Allah tidak memberikan rezeki. Bisa jadi manusialah yang menghalanginya sampai kepada yang berhak. Dan ketika itu terjadi, tugas kita bukan menutup mata — melainkan mencari kebenaran, saling mengingatkan, mencegah kemungkaran, menuntut amanah ditunaikan, dan memperjuangkan tegaknya keadilan.
Kita memang tidak bisa mengendalikan apa yang dilakukan oleh para pemimpin. Tetapi kita memiliki kendali penuh atas hati kita sendiri — apakah akan membiarkan ikatan kepedulian itu terurai satu per satu, atau kita jaga dan kuatkan dengan kasih sayang sesama manusia.
"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain." (HR. Bukhari).
Mari kita pilih untuk tetap peduli — bukan karena itu akan mengubah dunia seketika, tetapi karena itulah yang diajarkan agama kita, karena itulah yang menjaga kemanusiaan kita tetap hidup. Kepedulian kita bukanlah untuk mereka yang berkuasa — melainkan untuk Allah, dan untuk sesama manusia yang diciptakan-Nya.
Rezeki memang tidak akan tertukar. Tetapi kezaliman tidak boleh dibiarkan. Dan ikatan persaudaraan tidak boleh dibiarkan terurai. Saatnya kita kembali kepada syari'at Islam, yang telah Allah SWT. turunkan yaitu sistem Islam kaffah dalam naungan khilafah. Karena hanya dengan tegaknya syari'at tatanan kehidupan bermasyarakat akan lebih indah dan terarah.
Wallahu'alam bishshawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar