KLAIM TEPI BARAT "MILIK ISRAEL": BUKTI SOLUSI DUA NEGARA HANYA ILUSI


Oleh: Novi Dyah R.

Klaim sepihak Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir kembali membuka topeng asli zionis Israel. Ia dengan terang-terangan mengklaim bahwa seluruh tiga wilayah administratif di Tepi Barat adalah "milik Israel". Pernyataan tersebut bertentangan dengan pengaturan kesepakatan Oslo antara Israel dan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO). 

Berdasarkan Kesepakatan Oslo II tahun 1995, Tepi Barat dibagi menjadi tiga area. Area A, B, dan C. Area A berada di bawah kendali penuh Palestina, Area B berada di bawah kendali sipil Palestina dan kendali keamanan Israel, dan Area C yang mencakup sekitar 60 persen wilayah Tepi Barat berada di bawah kendali penuh Israel.

Pembagian ini saja sudah sangat timpang dan merugikan Palestina. Namun bagi zionis, itu belum cukup. Ben-Gvir menyatakan Area A, B, dan C semuanya adalah milik zionis Israel. Pernyataan ini bukan salah ucap, melainkan pernyataan ideologis.

Karena itu, setiap kali klaim "Tepi Barat milik Israel" diucapkan, diundang-undangkan, atau diterapkan melalui perluasan permukiman, itu bukan sekadar retorika. Itu adalah sertifikat kematian bagi solusi dua negara. Itu membuktikan bahwa apa yang disebut "perdamaian" selama ini hanyalah manajemen konflik sambil terus mencaplok tanah Palestina hingga tidak ada lagi yang bisa dinegosiasikan.


Ini Gambaran Wajah Asli Proyek Israel Raya

Pertama, keinginan zionis Israel yang sebenarnya adalah menguasai seluruh wilayah Palestina, baik Tepi Barat maupun Gaza, demi mewujudkan mimpi Israel Raya. Dari sungai hingga laut, mereka ingin merampas semuanya. Apa yang terjadi di Gaza bukan perang, tapi genosida yang sistematis.

Kedua, genosida dan penghancuran Gaza, perampasan pemukiman warga Palestina di Tepi Barat. Perampasan tanah untuk permukiman illegal, pembakaran puluhan masjid di Tepi Barat dan pendudukan serta penodaan komplek Al-Aqsha yang semakin intensif adalah rangkaian kejahatan besar zionis Israel kepada Islam dan umat Islam. Ini membuktikan agendanya adalah penghapusan total eksistensi Palestina, bukan sekadar perang melawan Hamas. Dan ini merupakan kejahatan terhadap agama, bukan sekadar sengketa wilayah.

Ketiga, solusi dua negara yang terus digembar-gemborkan oleh Amerika Serikat, negara-negara Sekutu, dan para penguasa negeri-negeri Muslim hanyalah kebohongan dan ilusi. Bagaimana mungkin solusi dua negara bisa terwujud jika satu pihak secara resmi mengklaim seluruh tanah pihak lain adalah miliknya? Solusi dua negara hanya alat untuk mengulur waktu agar perampasan tanah bisa terus berjalan.


Apa Yang Harus Disadari Umat Islam?

1. Umat Islam harus yakin, perampasan akan terus berlanjut.
Klaim Ben-Gvir ini harus menyakinkan umat Islam dan masyarakat internasional bahwa zionis Israel benar-benar akan merampas seluruh wilayah Palestina dan menyempurnakan agenda genosida dan pengusiran warga Palestina dari tanahnya sendiri.

2. Kejahatan ini tidak bisa diselesaikan dengan diplomasi.
Kejahatan zionis Israel tidak bisa ditolerir lagi. Tidak akan pernah selesai dengan solusi dua negara atau jalur diplomasi semu di meja PBB. Kezaliman ini hanya bisa dihentikan dengan menerapkan syariat jihad fii sabilillah untuk membebaskan tanah Palestina yang diberkahi.

3. Pengkhianatan para Penguasa Arab.
Di saat darah tumpah di Gaza dan Tepi Barat, para pemimpin negara-negara Arab justru patuh bertemu, berjabat tangan, dan melakukan normalisasi dengan Netanyahu. Ini adalah bentuk pengkhianatan besar terhadap perjuangan Palestina dan melukai hati umat Islam.

4. Jihad membutuhkan Persatuan dan Komando Khalifah.
Jihad melawan zionis Israel tidak akan sempurna jika dilakukan secara sporadis, parsial, dan tanpa komando. Jihad yang hakiki hanya bisa sempurna jika ada persatuan umat Islam di seluruh dunia dan jihad dilakukan di bawah komando seorang Khalifah yang menyatukan kekuatan umat.

Perjuangan Khilafah adalah ”Kunci”. Oleh karena itu, perjuangan untuk menegakkan Khilafah menjadi sangat penting dan mendesak. Hanya Khilafah yang akan mampu menggerakkan jihad fii sabilillah secara nyata, mengerahkan seluruh tentara-tentara kaum Muslimin, dan benar-benar membebaskan Palestina dari cengkeraman zionis Israel.

Sudah jelas, tanah Palestina tidak akan kembali dengan perundingan, melainkan dengan kekuatan persatuan umat dan jihad di bawah naungan Khilafah. Hanya Khilafah yang akan melindungi kaum Muslimin dari segala bentuk penindasan dan penjajahan.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar