Perlu Solusi Tuntas Tekan Kenaikan Angka Stunting


Oleh : Reshi Umi Hani (Aktivis Muslimah)

Persoalan stunting masih menjadi salah satu tantangan serius dalam pembangunan sumber daya manusia, termasuk di Kota Balikpapan. Kenaikan angka stunting tentu tidak dapat dipandang sebagai persoalan sederhana yang hanya disebabkan oleh satu faktor. Diperlukan evaluasi menyeluruh terhadap berbagai kondisi yang memengaruhi tumbuh kembang anak, mulai dari kondisi ekonomi keluarga, pemenuhan gizi, kesehatan ibu dan anak, pola asuh, lingkungan, pendidikan, hingga kebijakan pemerintah dalam menjamin kesejahteraan masyarakat.

Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP PKK) Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, turut menyoroti kenaikan angka stunting di Balikpapan. Berdasarkan peninjauan yang dilakukan, angka stunting yang sebelumnya sempat mengalami penurunan cukup signifikan kembali menunjukkan peningkatan. Kondisi tersebut tentu menjadi perhatian karena stunting bukan hanya persoalan ukuran fisik anak, tetapi berkaitan dengan kualitas generasi yang akan menentukan masa depan masyarakat.

Dalam penjelasannya, kenaikan angka stunting salah satunya dikaitkan dengan meningkatnya jumlah penduduk yang datang dari luar daerah. Keluarga yang berpindah dan kemudian menetap di Balikpapan, termasuk ibu yang melahirkan setelah tinggal di kota tersebut, akan tercatat sebagai bagian dari penduduk Balikpapan. Mobilitas penduduk memang dapat menjadi salah satu aspek yang memengaruhi dinamika data kependudukan dan kesehatan. Namun, menjadikan faktor tersebut sebagai penjelasan utama atas kenaikan stunting tentu membutuhkan kajian yang lebih komprehensif.

Meskipun angka kemiskinan secara statistik dapat menunjukkan penurunan, hal tersebut tidak serta-merta berarti seluruh keluarga berada dalam kondisi ekonomi yang aman. Kenaikan harga kebutuhan pokok dan meningkatnya biaya hidup dapat mengurangi ruang belanja keluarga. Bahkan keluarga yang secara statistik tidak masuk kategori miskin dapat mengalami tekanan ekonomi ketika pendapatan yang dimiliki tidak sebanding dengan kebutuhan yang harus dipenuhi.

Karena itu, persoalan stunting seharusnya tidak hanya dibebankan kepada keluarga melalui nasihat mengenai pola makan, pola asuh, atau kewajiban membawa anak ke fasilitas kesehatan. Edukasi kepada keluarga memang penting, tetapi pemerintah juga harus melihat faktor struktural yang menentukan apakah keluarga memiliki kemampuan nyata untuk menjalankan anjuran tersebut.

Tidak cukup mengatakan kepada seorang ibu agar memberikan makanan bergizi kepada anak apabila harga pangan bergizi semakin sulit dijangkau. Tidak cukup pula mengimbau masyarakat menjaga kesehatan jika akses terhadap pelayanan kesehatan, air bersih, sanitasi, dan kebutuhan dasar belum merata. Pencegahan stunting membutuhkan sistem yang mampu menopang keluarga, bukan sekadar menambah daftar kewajiban yang harus dipenuhi oleh orang tua.

Persoalan tersebut pada akhirnya membawa kita pada pertanyaan yang lebih mendasar mengenai sistem ekonomi dan tata kelola kehidupan yang diterapkan. Dalam sistem kapitalisme, kesejahteraan masyarakat sangat dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi individu dan mekanisme pasar. Kebutuhan dasar sering kali harus diperoleh melalui kemampuan membeli. Akibatnya, ketika pendapatan keluarga terbatas sementara kebutuhan terus meningkat, keluarga harus menentukan prioritas dan berpotensi mengurangi pemenuhan kebutuhan tertentu, termasuk kualitas pangan.

Islam memiliki pandangan yang berbeda mengenai kedudukan negara dan pemenuhan kebutuhan rakyat. Negara tidak diposisikan sekadar sebagai regulator, sementara masyarakat dibiarkan memenuhi kebutuhan dasarnya berdasarkan kemampuan ekonomi masing-masing. Negara memiliki tanggung jawab untuk mengurus dan melindungi rakyatnya. Rasulullah saw. bersabda: “Imam adalah pengurus rakyat dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis tersebut menunjukkan bahwa kepemimpinan dalam Islam bukan sekadar jabatan administratif, tetapi merupakan amanah yang akan dipertanggungjawabkan. Seorang pemimpin tidak cukup hanya membuat program dan mengeluarkan kebijakan, tetapi harus memastikan rakyat berada dalam kondisi yang memungkinkan mereka memenuhi kebutuhan hidup secara layak.

Islam juga memberikan perhatian besar terhadap keberlangsungan generasi. Allah Swt. berfirman: “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang sekiranya mereka meninggalkan keturunan yang lemah di belakang mereka yang mereka khawatir terhadap kesejahteraannya.” (QS. An-Nisa: 9)

Ayat tersebut memberikan peringatan agar manusia tidak meninggalkan generasi dalam kondisi lemah. Kelemahan generasi tentu tidak hanya berkaitan dengan aspek fisik, tetapi juga mencakup kualitas intelektual, mental, moral, dan spiritual. Karena itu, membangun generasi berkualitas membutuhkan perhatian terhadap seluruh aspek kehidupan.

Islam tidak memiliki pendekatan yang parsial dalam membangun generasi. Kesehatan anak tidak dipisahkan dari kondisi ekonomi, pendidikan, keluarga, lingkungan sosial, dan sistem kesehatan. Seluruhnya harus dibangun secara terpadu.

Islam menempatkan pemenuhan kebutuhan dasar manusia sebagai persoalan penting yang tidak boleh diabaikan. Negara berkewajiban menciptakan kondisi agar setiap individu dapat memenuhi kebutuhan pokoknya. Jika terdapat masyarakat yang tidak mampu memenuhi kebutuhan dasar karena keterbatasan ekonomi, negara memiliki tanggung jawab untuk memberikan jaminan dan solusi.

Dengan demikian, pencegahan stunting tidak hanya dilakukan melalui pembagian makanan tambahan atau kampanye gizi, tetapi dimulai dari memastikan keluarga memiliki kemampuan memenuhi pangan yang layak dan bergizi.

Kesehatan merupakan kebutuhan dasar masyarakat. Negara harus menyediakan pelayanan kesehatan yang berkualitas dan dapat diakses masyarakat tanpa menjadikan kemampuan ekonomi sebagai penghalang utama. Pelayanan kesehatan ibu dan anak, pemeriksaan kehamilan, pemantauan tumbuh kembang, penanganan penyakit, hingga pencegahan masalah gizi harus dilakukan secara menyeluruh dan berkesinambungan.

Pendidikan dalam Islam tidak hanya bertujuan mencetak manusia yang mampu bekerja. Pendidikan juga bertujuan membentuk kepribadian Islam, memberikan ilmu, serta menanamkan tanggung jawab terhadap keluarga dan masyarakat.

Pengetahuan mengenai kesehatan reproduksi, kehamilan, pengasuhan anak, gizi, kebersihan, serta tanggung jawab sebagai orang tua menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi. Dengan pendidikan yang baik, calon orang tua tidak hanya memahami bagaimana merawat anak secara fisik, tetapi juga memahami bagaimana membentuk karakter dan kepribadiannya.

Keluarga merupakan institusi penting dalam pembentukan generasi. Islam memiliki aturan yang menjaga hubungan antara laki-laki dan perempuan, kehormatan keluarga, tanggung jawab orang tua, serta hak anak. Lingkungan sosial yang sehat akan mendukung terbentuknya keluarga yang kuat dan memberikan ruang tumbuh yang baik bagi anak.

Generasi yang berkualitas dalam perspektif Islam tidak cukup hanya sehat secara fisik. Mereka juga harus memiliki iman, ketakwaan, akhlak, ilmu, dan kepribadian yang baik.
Allah Swt. berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)

Ayat ini menunjukkan bahwa tanggung jawab terhadap keluarga tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan material. Orang tua juga bertanggung jawab menjaga dan mendidik keluarganya dalam perkara agama. Negara pun memiliki tanggung jawab menciptakan lingkungan yang mendukung terbentuknya masyarakat yang beriman dan berkepribadian baik.

Dengan demikian, Islam memandang pembangunan generasi secara menyeluruh: fisiknya sehat, pikirannya berkembang, kehidupannya sejahtera, pendidikannya baik, keluarganya kuat, serta keimanannya kokoh.

Islam menawarkan paradigma bahwa rakyat adalah amanah yang harus diurus, bukan sekadar objek program. Negara tidak hanya hadir ketika masalah telah terjadi, tetapi membangun sistem yang mencegah munculnya masalah sejak awal. Negara memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, menyediakan pelayanan kesehatan, membangun sistem pendidikan yang membentuk generasi, menjaga ketahanan keluarga, serta menciptakan lingkungan sosial yang mendukung tumbuh kembang anak.

Dengan sistem yang menempatkan pemenuhan kebutuhan rakyat, kesehatan, pendidikan, keluarga, dan pembentukan kepribadian sebagai satu kesatuan, Islam memiliki kerangka yang komprehensif dalam mempersiapkan generasi yang sehat secara fisik, kuat secara mental, cerdas secara intelektual, serta kokoh dalam keimanan dan akhlak. Wallahu’alam bissawab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar