Pendidikan Islam Mencetak Generasi


Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)

Hasil PISA 2025 menunjukkan bahwa 60,9% siswa Indonesia belum mencapai kompetensi minimum secara bersamaan dalam sains, membaca, dan matematika, meskipun kemampuan sains dan membaca mulai meningkat (detikNews, 13/9/2026). Temuan tersebut memperlihatkan juga bahwa peningkatan kualitas pendidikan masih menghadapi tantangan serius.


Prestasi Bukan Tujuan

Angka PISA memang penting untuk mengevaluasi kemampuan akademik siswa, tetapi tidak cukup untuk mengukur keberhasilan pendidikan secara menyeluruh. Persoalan mendasarnya adalah ketika pendidikan lebih diarahkan pada angka, peringkat, dan daya saing, sementara pembentukan kepribadian, akidah, dan kepedulian terhadap sesama tidak memperoleh perhatian yang sepadan.

Paradigma kapitalisme cenderung menempatkan pendidikan sebagai sarana memenuhi kebutuhan pasar dan menghasilkan tenaga kerja yang kompetitif. Dalam pandangan ini, keberhasilan mudah dipersempit menjadi nilai ujian, ijazah, keterampilan kerja, dan peluang memperoleh penghasilan, sedangkan pertanyaan tentang tujuan hidup serta tanggung jawab manusia kepada Allah berisiko tersisih.

Akibatnya, kecerdasan intelektual seolah menjadi ukuran utama kualitas generasi, padahal kepintaran tidak otomatis melahirkan kejujuran dan kemuliaan akhlak. Seseorang mungkin unggul dalam matematika dan teknologi, tetapi tanpa landasan moral yang kuat, kemampuannya juga dapat digunakan untuk menipu, menindas, atau merugikan masyarakat.

Masalah pendidikan pun tidak adil jika hanya dibebankan kepada siswa dan guru. Ketika fasilitas terbatas, keluarga kesulitan mendampingi anak, perundungan mengganggu proses belajar, dan guru disibukkan oleh administrasi, kualitas pendidikan membutuhkan pembenahan menyeluruh, bukan sekadar tuntutan agar siswa meraih nilai lebih tinggi.

Sekolah seharusnya menjadi tempat yang aman untuk menuntut ilmu, membangun keberanian berpikir, dan menumbuhkan kepribadian yang baik. Namun, tujuan tersebut sulit dicapai apabila pendidikan hanya dinilai berdasarkan capaian akademik, sedangkan kondisi keluarga, lingkungan pergaulan, kesejahteraan guru, dan perlindungan siswa kurang diperhatikan.

Lebih jauh, kemajuan teknologi tidak otomatis menyelesaikan persoalan pendidikan. Kecerdasan buatan dapat membantu siswa memahami pelajaran, tetapi tanpa bimbingan yang benar, teknologi juga berpotensi membuat mereka bergantung pada jawaban instan dan kehilangan kebiasaan berpikir secara mandiri.

Oleh karena itu, rendahnya capaian PISA perlu dibaca sebagai peringatan untuk mengevaluasi arah pendidikan, bukan hanya memperbaiki teknik pembelajaran. Pendidikan tidak boleh hanya untuk meraih kecerdasan otak saja, tapi harus menghasilkan generasi yang tangguh dan berkarakter, bisa membedakan mana benar dan salah, juga bertanggung jawab kepada ilmunya untuk kemaslahatan masyarakat.


Islam Sebagai Solusi

Islam memandang pendidikan sebagai bagian penting dalam membentuk manusia yang beriman, berilmu, dan berakhlak mulia. Allah Swt. berfirman, “Niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).

Ayat tersebut menegaskan kemuliaan iman dan ilmu, sehingga pendidikan tidak semestinya memisahkan kecerdasan dari ketakwaan. Ilmu harus membimbing manusia mengenali kebenaran, bermanfaat dan bisa dipertanggungjawabkan.

Solusi mendasarnya adalah menerapkan sistem pendidikan Islam yang berlandaskan akidah Islam dan berpedoman pada syariat. Dalam sistem ini, tujuan pendidikan bukan hanya melahirkan siswa berprestasi, melainkan membentuk generasi berkepribadian Islam yang menguasai ilmu pengetahuan serta mampu menjalankan tanggung jawabnya sebagai hamba Allah.

Negara memiliki peran penting sebagai raa'in, yakni pengurus urusan masyarakat, termasuk menjamin terselenggaranya pendidikan yang berkualitas. Tanggung jawab tersebut menuntut penyediaan fasilitas yang memadai, pemerataan akses pendidikan, perlindungan siswa dari kekerasan, serta dukungan terhadap keluarga agar anak memperoleh lingkungan belajar yang baik.

Guru juga harus ditempatkan sebagai pendidik yang berperan besar dalam membentuk generasi, bukan sekadar pelaksana administrasi dan pengejar target kurikulum. Negara perlu menjamin kesejahteraan, meningkatkan kompetensi, serta memberikan ruang kepada guru untuk mendidik, membimbing, dan mengembangkan potensi siswa secara optimal.

Pada saat yang sama, keluarga dan masyarakat perlu dilibatkan dalam pembentukan kepribadian anak. Orang tua menanamkan nilai agama sejak dini, masyarakat menciptakan lingkungan yang mendukung kebaikan, sedangkan sekolah memperkuat ilmu dan akhlak melalui pembelajaran serta keteladanan.

Penguasaan sains, matematika, literasi, dan teknologi tetap harus dikembangkan secara serius agar generasi Islam mampu menghadapi tantangan zaman. Kecerdasan buatan dan teknologi digital dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, penelitian, serta pengembangan peradaban, dengan tetap memperhatikan syariat, tanggung jawab, dan kemaslahatan masyarakat.

Dengan demikian, pendidikan Islam bukan berarti mengabaikan prestasi akademik atau menolak kemajuan ilmu pengetahuan. Sebaliknya, pendidikan harus mengintegrasikan ilmu, iman, dan amal agar generasi tidak hanya cakap menjawab soal, tetapi juga memiliki keberanian membela kebenaran dan kemampuan menyelesaikan persoalan kehidupan.

Persoalan pendidikan tidak akan tuntas apabila perubahan hanya berhenti pada kurikulum, metode belajar, atau perbaikan angka PISA. Pembenahan harus menyentuh paradigma, tujuan, dan tanggung jawab negara dalam membangun sistem pendidikan yang memuliakan manusia sekaligus mengarahkan ilmunya pada kebaikan.

Sudah saatnya keberhasilan pendidikan diukur secara lebih utuh, melalui penguasaan ilmu, kekuatan akidah, kemuliaan akhlak, dan manfaat yang diberikan kepada masyarakat. Pendidikan berlandaskan Islam Kaffah dalam naungan Syariah dan khilafah akan melahirkan generasi bertakwa, berpengetahuan luas, berkepribadian Islam, serta siap membangun peradaban yang membawa kemaslahatan bagi umat. Wallahualam bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar