Oleh: Isnawati (Muslimah Penulis Peradaban)
Ratusan santri bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Sidoarjo mengikuti kegiatan Motoran Santun dari Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, menuju Pendopo Delta Wibawa dalam rangka Hari Santri Nasional 2026, Rabu (21/10/2026), untuk mempererat kebersamaan sekaligus mengampanyekan keselamatan dan kesantunan berlalu lintas. Kegiatan tersebut menjadi salah satu bentuk keterlibatan santri dalam agenda sosial bersama pemerintah daerah sekaligus membuka ruang refleksi tentang peran santri dan arah pendidikan pesantren dalam membangun generasi Muslim (Info Publik, 22/10/2026).
Jangan Kehilangan Arah
Motoran Santun dapat menjadi sarana untuk membangun kebersamaan dan menumbuhkan kesadaran berlalu lintas, tetapi keberhasilan pendidikan santri tidak cukup diukur dari kegiatan seremonial yang meriah. Ada pertanyaan mendasar yang perlu dijawab bersama, yaitu apakah pesantren telah mempersiapkan santri menjadi generasi berilmu, berkepribadian Islam, dan mampu membimbing umat dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Santri bukan sekadar peserta kegiatan, penerima penghargaan, atau tenaga produktif yang kelak memenuhi kebutuhan pembangunan nasional. Santri memiliki potensi lebih besar, yakni menjadi generasi yang memahami agama, menjaga kemuliaan akhlak, serta menyumbangkan pemikiran dan tenaga untuk membangun kehidupan masyarakat berdasarkan nilai-nilai Islam.
Pesantren mempunyai tanggung jawab penting dalam membentuk pola pikir dan perilaku generasi muda Muslim. Jika keberhasilan pendidikan lebih banyak diukur melalui prestasi akademik, keterampilan kerja, dan kemampuan bersaing, sedangkan penguasaan tsaqafah Islam serta kesadaran terhadap persoalan umat kurang mendapat perhatian, tujuan pendidikan berisiko menyempit menjadi sekadar persiapan memasuki dunia kerja.
Keterampilan tetap penting, begitu pula kemampuan beradaptasi dengan perkembangan sains dan teknologi, tetapi semuanya harus diarahkan oleh pemahaman Islam yang kuat. Ilmu bukan hanya menjadi bekal untuk mencari penghidupan, melainkan juga harus membentuk pribadi yang mampu membedakan kebenaran dan kebatilan serta menggunakan kemampuannya untuk memberikan manfaat bagi umat.
Allah Swt sudah menegaskan dalam firman-Nya, “Hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar” (QS Ali Imran: 104). Ayat ini menegaskan pentingnya keberadaan kelompok yang menyeru kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran, sebuah amanah yang membutuhkan ilmu, kesungguhan, dan keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam.
Oleh karena itu, pendidikan santri perlu membangun hubungan yang kuat antara ilmu, kepribadian, dan tanggung jawab terhadap umat. Santri tidak cukup hanya mampu membaca kitab atau memperoleh nilai tinggi, tetapi juga perlu memahami persoalan masyarakat, mengkaji akar masalahnya, serta menjelaskan penyelesaiannya berdasarkan pemahaman Islam yang mendalam.
Kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, dan berbagai persoalan sosial membutuhkan generasi yang tidak hanya pandai mengomentari keadaan. Umat memerlukan orang-orang berilmu yang mampu memberikan pencerahan, membangun kesadaran, dan membimbing masyarakat agar tidak kehilangan pegangan ketika menghadapi kesulitan.
Mencetak Kader Peradaban
Pesantren perlu memperkuat pendidikan akidah, tsaqafah Islam, pembentukan syakhsiyah Islamiyah atau kepribadian Islam, serta kemampuan berdakwah di tengah masyarakat. Pembelajaran juga perlu mengajak santri memahami persoalan umat secara menyeluruh agar ilmu yang dipelajari tidak berhenti sebagai hafalan, tetapi menjadi dasar untuk berpikir dan bertindak.
Santri harus dipersiapkan menjadi kader ulama dan calon pemimpin umat yang memiliki kedalaman ilmu, kematangan sikap, serta kepedulian terhadap kehidupan masyarakat. Mereka perlu dibekali kemampuan menyampaikan Islam dengan bahasa yang mudah dipahami, menjawab pertanyaan secara argumentatif, dan menghadapi perbedaan dengan adab tanpa kehilangan prinsip.
Peran ulama tidak berhenti pada penyampaian nasihat dalam majelis ilmu atau kegiatan keagamaan. Ulama juga bertanggung jawab membimbing umat agar memahami persoalan kehidupan berdasarkan ajaran Islam, sehingga dakwah tidak terpisah dari upaya memperbaiki keadaan masyarakat.
Pembinaan santri pun tidak boleh hanya menekankan kesalehan pribadi tanpa menumbuhkan kepedulian sosial. Ketaatan beribadah harus berjalan seiring dengan kesediaan membantu masyarakat yang mengalami kesulitan, memperjuangkan kepentingan mereka, dan mengajak kepada perubahan yang benar melalui dakwah.
Dalam perspektif Islam kaffah, kehidupan tidak boleh dipisahkan antara urusan ibadah, pendidikan, ekonomi, sosial, dan pengaturan masyarakat. Oleh karena itu, santri perlu mempelajari ajaran Islam secara menyeluruh, memahami penerapan prinsip-prinsipnya dalam kehidupan, serta mendalami berbagai pemikiran yang berkaitan dengan penyelesaian persoalan umat.
Kebangkitan peradaban Islam tidak cukup ditandai dengan banyaknya lulusan pesantren atau tingginya pencapaian akademik. Kebangkitan membutuhkan generasi yang memiliki visi Islam, menguasai ilmu, memahami realitas, dan bersedia mengabdikan kemampuannya untuk membimbing umat menuju kehidupan yang lebih baik.
Dalam kerangka perjuangan Islam, penegakan syariat secara kaffah dan gagasan Khilafah merupakan bagian dari cita-cita politik yang butuh diperjuangkan dan diwujudkan. Perjuangan ini ditempuh melalui kajian ilmu dan dakwah dengan argumentasi yang menyentuh fitrah serta memuaskan akal.
Pemerintah, pengelola pesantren, ulama, orang tua, dan masyarakat perlu bersinergi menjaga mutu pendidikan santri. Dukungan terhadap fasilitas belajar, kesejahteraan guru, akses terhadap kitab dan bahan bacaan, serta ruang dakwah yang sehat harus berjalan beriringan dengan pembinaan akhlak dan pendalaman ilmu Islam.
Hari Santri seharusnya menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tujuan besar pendidikan pesantren, bukan sekadar memperbanyak acara dan slogan pembangunan. Santri bukan hanya aset pembangunan nasional, melainkan generasi Muslim yang harus dipersiapkan untuk menjaga ilmu, membimbing umat, dan memberikan kontribusi nyata bagi peradaban.
Jika santri hanya dipersiapkan menjadi tenaga produktif, potensi besar pendidikan pesantren akan menyempit menjadi urusan keterampilan dan pekerjaan. Sebaliknya, ketika ilmu Islam, kepribadian, kepedulian terhadap umat, dan kemampuan berdakwah dibangun secara utuh, pesantren dapat melahirkan generasi yang tidak sekadar mengikuti perkembangan sains dan teknologi, tetapi juga mampu memberikan arah berdasarkan keyakinan dan ilmu yang dimilikinya.
Santri bukan sekadar aset pembangunan, melainkan calon penjaga peradaban Islam. Pendidikan pesantren harus melahirkan generasi berilmu, berkepribadian Islam, dan siap membimbing umat melalui dakwah serta perjuangan yang berlandaskan ilmu dan iman. Wallahu a’lam bishawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar