Oleh : Nur Kasanah
Pesatnya perkembangan Artificial Intelligence (AI) tak terelakkan dalam segala lini kehidupan. Mulai dari bidang kesehatan, pendidikan dan lain sebagainya. AI menjadi teknologi yang transformatif dalam sejarah manusia. Kecepatannya sangat luar biasa, dapat mempersingkat kemajuan bertahun tahun menjadi beberapa bulan saja.
Di tengah perkembangan kecerdasan buatan ini para peneliti telah mewanti wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi “ledakan kecerdasan” AI, termasuk “Bapak AI” dunia. Dalam riset yang bertajuk “Bagaimana jika otomasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?” memberi desakan adanya tindakan segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali. Mengingat ledakan AI dapat mengancam kendali manusia atas sistem AI dan sangat mengikis pengawasan kekuasaan didalam dan antar negara, perusahaan dan cabang pemerintahan (CNN, 30/9).
Dilema Harapan dan kekhawatiran
Perkembangan AI diibaratkan seperti dua mata pisau yang dapat memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia. Dalam bidang kesehatan contohnya, AI dapat membantu dalam administrasi kesehatan, memantau rekam jejak kesehatan dan dapat mempermudah diagnosa penyakit dengan ketepatan tinggi. Di bidang pendidikan, membantu pengajar dalam menyusun materi ajar, mengevaluasi pembelajaran dan membantu analisis data siswa.
Dibalik kemudahan yang ditawarkan, berbagai riset telah mengatakan tanpa adanya regulasi dan batas kendali yang ketat, kemajuan AI menimbulkan tiga resiko besar. Pertama, Ancaman biologis dan siber. Sangat memungkinkan ditangan tangan tak bertanggung jawab seperti kelompok bioterorisme menciptakan senjata biologis mematikan. Serangan siber seperti munculnya pesan phising yang dapat meretas data pribadi untuk tidak kejahatan.
Kedua, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia. Contohnya dalam sistem asuransi kesehatan. Dokter tahu betul pasien masih membutuhkan perawatan, namun karena pihak asuransi menggunakan aplikasi AI, otomatis menentukan berapa lama pasien dirawat. AI mengambil keputusan hanya berdasarkan angka saja tanpa mengetahui kondisi yang sebenarnya. Ketika sistem dibiarkan mengambil keputusan secara mandiri maka manusia kehilangan wewenang untuk memutuskan benar dan salah secara empati.
Ketiga, ancaman perang antar negara. Berbagai negara kini berlomba untuk mengembangkan senjata otonom yang dapat mengambil keputusan tanpa campur tangan manusia. Hal ini berbahaya karena terjadi kesalahan dalam algoritma dapat memicu serangan yang tak diinginkan. Selain itu AI digunakan untuk meretas sistem pertahanan dan infrastruktur vital negara lain.
Sudah saatnya menimbang persoalan AI secara mendalam. Teknologi pada dasarnya adalah alat. Seperti pensil digunakan untuk menulis atau menusuk jari. Kecerdasan buatan digunakan untuk mempermudah pekerjaan atau kejahatan. Jadi persoalannya bukan dari kecanggihan alat, tapi pada siapa yang menggunakannya, untuk apa tujuannya dan dibawah kendali sistem seperti apa.
AI dalam Pandangan Islam
Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda tanda kekuasaan Allah menjadi khalifah fiil ardhi. Akal memberikan kelonggaran untuk memilih (free will) sekaligus tanggung jawab. Sebagai muslim haruslah menggunakan qiyadah fikriyah Islam (kepemimpinan berfikir Islam) dalam menentukan keputusannya. Semestinya perkembangan teknologi yang begitu pesat digunakan sebagai alat untuk mengemban amanah dan alat untuk mendekatkan diri kepada Allah.
AI bukanlah ruang kosong, perkembangan teknologi buatan manusia ini dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. Sangat jelas perkembangan AI bergantung pada sistem yang mengendalikannya. Saat ini sistem kapitalisme memimpin AI menjadi alat untuk meraup keuntungan, menemukan ide ide gila dan mengeksploitasi alam.
Artinya sangat butuh peran negara untuk menerapkan hukum Islam. Islam menawarkan pondasi yang kokoh. Pengembangan ilmu teknologi masih bisa berkembang, manusia bisa berinovasi dan berkreasi. Namun seluruh aktivitas tersebut harus dibawah koridor hukum syariat. Ditangan manusia yang memiliki kaidah yang kokoh dan ketundukan syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. AI dapat digunakan untuk pelayanan publik seperti pengobatan gratis dan penyebaran ilmu pengetahuan. Sebaliknya AI di tangan manusia yang tidak memiliki keterikatan syariat cenderung disalahgunakan demi syahwat dan kekuasaan, kapitalisasi tanpa batas hingga dominasi militer.
Sudah waktunya kembali pada sistem kehidupan manusia yang mampu memberi rasa aman, memastikan kecanggihan teknologi berada pada lintasan yang sesuai sistem Islam dan mengatur seluruh kehidupan dengan syariat.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar