Oleh: Diva Aliza
Ditengah-tengah aktivitas kampus yang padat telah terjadi kerusuhan disebuah kampus ternama. Seorang Mahasiswi Fakultas Kedokteran diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai enam gedung kampus pada 10 September 2026 lalu. Tiga hari sebelumnya seorang pria berusia 30 tahun ditemukan tewas bunuh diri dikawasan GBK Jakarta, setelah sebelumnya berdonasi sebesar 40 juta rupiah, dan menulis pesan perpisahan.
Jika kita lihat dari kedua masalah tersebut, mereka bukanlah orang sembarangan. Orang yang pertama seorang mahasiswi kedokteran, dan yang kedua adalah seseorang yang bisa berdonasi 40juta, berarti orang tersebut mapan. Menurut Hotline layanan pencegahan bunuh diri mencatat klien didominasi usia 21-30 tahun.
Lalu ada apa dengan kondisi anak muda sekarang, banyak dari mereka yang lebih memilih mengakhiri hidupnya ketika mendapatkan masalah daripada menghadapinya? Padahal mereka punya teman sosmed yang ribuan jumlahnya mulai dari WA, Instagram, Facebook, Tiktok, dan aplikasi canggih lainnya.
Banyak yang menganggap bahwa hidup di zaman sekarang hanya butuh uang, jabatan, kepintaran, dan paras yang menawan untuk bahagia, lantas mengapa banyak orang yang sudah memiliki itu semua tapi malah memilih untuk mengakhiri hidupnya? Dari sini dapat disimpulkan bahwa hal-hal tersebut tidak dapat menjamin kebahagiaan seseorarng.
Dalam kehidupan ini setiap manusia diberikan ujian berbeda, tinggal bagaimana manusia itu sendiri menyikapinya, memilih lari dari masalah, menghadapinya ,atau memilih jalan pintas dengan melakukan bunuh diri.
Inilah potret generasi sekuler hari ini. Sekulerisme mengajarkan agama cukup di masjid saja, jangan dibawa ke masalah hidup, akibatnya ketika seseorang mendapatkan tekanan hidup mereka tidak punya alasan "untuk apa aku hidup". Tanpa iman sebagai benteng, masalah yang sebenarnya bisa diselesaikan terasa seperti akhir dunia.
Sistem hari ini mengukur kesuksesan hanya dari angka saja, nilai harus tinggi, gaji harus besar, followers harus banyak. Inilah budaya positivisme, semua serba terukur, serba prestasi individu. Manusia disamakan dengan robot, akibatnya banyak manusia jadi asosial, tidak peduli sesama, sehingga wajar jika kesepian merajalela.
Kebanyakan manusia hari ini menganggap orang lain sebagai saingan bukan teman. Sehingga wajar jika kesepian itu bisa hinggap di semua orang, bahkan pada orang yang secara materi berkecukupan pun bisa merasa hampa dan kesepian. Itu semua karena ikatan kita bukan lagi ikatan ukhuwah, tetapi persaingan.
Semua ini adalah buah dari negara yang menerapkan sistem sekularisme dan kapitalisme sehingga membentuk individu yang rapuh dan lingkungan yang individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler yang jauh dari akidah, dan sistem ekonomi kapitalisme yang membuat si kaya makin kaya, dan yang miskin makin melarat.
Berbeda dengan Islam, Islam membangun akidah sebagai benteng jiwa sejak dini. Islam menanamkan keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah dan Allah tidak akan memberikan ujian kepada hambanya diluar kemampuannya. Dalam QS Al Baqarah ayat 286, Allah berfirman:
لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِن نَّسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِن قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَرَحْمَنَا ۚ أَنتَ مَوْلَانَا فَانصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: "Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): 'Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma'aflah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.'"
Islam juga mengharamkan manusia untuk melakukan bunuh diri sehingga menjadi penahan terkuat saat putus asa datang menghampiri. Islam juga telah mengajarkan kepada manusia bahwa setiap kesulitan selalu ada kemudahan, dalam QS Al- Insyirah ayat 5 Allah berfirman:
فَاِنَّ مَعَ الۡعُسۡرِ يُسۡرًا ۙ
"Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan."
Islam pula membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat dengan akidah yang sama. Jadi tidak ada seorangpun yang dibiarkan menanggung bebannya sendirian. Negara khilafah bahkan menerapkan sistem Islam secara kaffah. Di antaranya sistem pendidikan berbasis akidah Islam dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan rakyatnya. Sehingga lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh dan kesepian.
Wallaahu a'lam bish-shawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar