Pemuda Indonesia Hari Ini: Merdeka Negaranya, Belum Utuh Dirinya


Oleh : Syafa Arshinta Nabila

Setiap 28 Oktober, Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum untuk mengenang ikrar persatuan yang muncul pada 1928. Satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa menunjukkan tekad pemuda untuk melewati perbedaan demi tujuan bersama.

Namun, hampir satu abad setelah ikrar itu diucapkan, benarkah pemuda Indonesia sudah bersatu untuk membela dan mewujudkan kesejahteraan negara?

Peringatan Sumpah Pemuda hari ini terasa ironis ketika sebagian generasi muda masih bergulat dengan persoalan mendasar, termasuk kesehatan mental, krisis identitas, dan ketidakpastian masa depan.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) per Oktober 2026, tercatat lebih dari 380 ribu anak dan remaja Indonesia mengalami indikasi depresi dan hampir 380 ribu mengalami indikasi kecemasan.

Maka, boro-boro bersatu membela negara, sebagian pemuda bahkan masih berjuang untuk menemukan keutuhan diri mereka sendiri. 


Ketika Keberhasilan Hanya Diukur dari Dunia

Ibarat pohon yang kuat diterpa hujan, pasti memiliki akar yang kokoh. Persoalan yang perlu dikritisi terkait pemuda saat ini adalah cara mereka memandang kehidupan.

Dalam perspektif Islam, sekularisme merupakan pandangan yang memisahkan agama dari pengaturan kehidupan. Ketika cara pandang ini mendominasi, agama berisiko ditempatkan sebatas urusan personal, sementara keputusan di bidang pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik dipisahkan dari nilai-nilai agama.

Dampaknya dapat terlihat dalam cara keberhasilan dimaknai. Para pemuda didorong untuk terus mengejar pencapaian duniawi, tanpa memahami tujuan mendasar dari hidup itu sendiri.


Islam sebagai Fondasi Kebangkitan Pemuda

Islam memandang pemuda sebagai generasi yang memiliki potensi besar untuk membangun peradaban dan memperjuangkan kebenaran. Sejarah Islam mencatat keteladanan Ali bin Abi Thalib, Mush'ab bin Umair, dan Usamah bin Zaid yang memikul tanggung jawab besar sejak usia muda. Mereka bukan hanya dikenal karena keberanian, melainkan juga karena keyakinan, kesungguhan, dan kesediaan untuk mengabdikan diri pada tujuan yang lebih besar daripada kepentingan pribadi.

Contoh itu menunjukkan bahwa kekuatan pemuda tidak hanya bergantung pada usia, kemampuan berpikir, atau pencapaian materi. Ada dasar keyakinan dan karakter yang membentuk cara mereka melihat hidup, mengambil sikap, dan menjalankan tugas.

Dalam Islam, akidah bukan hanya soal keyakinan pribadi atau menjalankan ibadah. Akidah menjadi dasar dalam mengatur semua sisi kehidupan. Karena itu, pemuda perlu tahu tujuan hidup mereka, nilai yang mereka pegang, dan tanggung jawab yang harus mereka jalankan sebagai hamba Allah.

Pembentukan kepribadian Islam pun tidak akan berhasil jika hanya dibebankan kepada individu semata. Keluarga, masyarakat, dan negara memiliki peran dalam membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya generasi yang beriman, berilmu, berintegritas, dan peduli terhadap sesama. 

Karena itu, negara juga memiliki peran dalam hal ini. Bukan hanya soal penyediaan akses pendidikan, tetapi juga pengajaran terkait pemahaman akidah Islam, sistem pergaulan dalam Islam, bahkan cara menentukan cita-cita juga perlu direalisasikan oleh negara.

Dengan begitu, tidak akan ada dijumpai lagi pemuda yang memiliki penyakit mental karena merasa dunia tidak berada di pihaknya. Atau tidak ada lagi pemuda-pemudi yang menjalin hubungan romantis yang dilarang hanya karena kurangnya figur kasih sayang.


Melampaui Romantisme Sumpah Pemuda

Sumpah Pemuda seharusnya tidak berhenti sebagai romantisme sejarah atau agenda seremonial tahunan. Peringatan ini perlu dijadikan momentum untuk perubahan cara berpikir para pemuda secara menyeluruh.

Pada akhirnya, makna Sumpah Pemuda tidak hanya terletak pada keberhasilan generasi terdahulu dalam menyatukan bangsa, tetapi juga pada kemampuan generasi hari ini untuk menjawab tantangan zaman. 

Hampir satu abad setelah ikrar persatuan itu lahir, pertanyaan terpentingnya bukan sekadar apakah pemuda masih mengingat Sumpah Pemuda, melainkan apakah mereka telah memiliki landasan yang benar untuk menjalani hidupnya. 

Sebab persatuan yang bermakna membutuhkan manusia yang memiliki arah dan tujuan. Kebangkitan pun memerlukan pemikiran yang cemerlang. Dari sanalah kebangkitan pemuda dapat dimulai, bukan hanya untuk merayakan masa lalu, tetapi juga untuk menentukan masa depan.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar