Oleh: Sarinah
Sebanyak 20.784 pelajar Palestina dan 1.068 tenaga pendidikan serta administrasi tewas di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun berlangsungnya konflik, menurut laporan Kementrian Pendidikan Palestina, Rabu, 7 Oktober 2026. Dalam laporan Kementrian statistik mengenai pelanggaran Israel terhadap sektor pendidikan, kementrian mengatakan angka tersebut mencakup pelajar dan staf di sekolah serta universitas.
Laporan itu juga mencatat ribuan orang terluka dan ditahan serta puluhan institusi pendidikan mengalami kehancuran atau menjadi sasaran serangan (Anadolu Agency). Di jalur Gaza, sebanyak 19.189 pelajar sekolah dan 1.386 mahasiswa tewas. Sebanyak 28.586 pelajar sekolah dan 3.082 mahasiswa lainnya terluka. Kementrian juga mencatat 805 tenaga pendidikan dan administrasi sekolah serta 246 tenaga universitas tewas. Sementara itu, 3.298 tenaga sekolah dan 1.493 tenaga universitas lainnya terluka.
Sedangkan di Tepi Barat, sebanyak 134 pelajar sekolahdan 39 mahasiswa tewas. Sebanyak 871 pelajar sekolah dan 283 mahasiswa lainnya terluka. Pasuka Israel juga menahan 416 pelajar sekolah dan 418 mahasiswa. Sebanyak 7 tenaga pendidikan dan administrasi sekolah tewas dan 26 lainnya terluka. Pasukan Israel juga menahan lebih dari 176 guru dan pekerja sekolah serta 21 tenaga universitas.
Sejak Oktober 2023, lebih dari 74.000 warga Palestina tewas dan lebih dari 175.000 lainnya terluka akibat serangan Israel, dan sekitar 90 persen infrastruktur di wilayah tersebut rusak. Dalam periode yang sama, pasukan Israel meningkatkan serangan di Tepi Barat yang di duduki. Sebanyak 1.210 warga Palestina tewas, sekitar 13.350 lainnya terluka, dan lebih dari 24.600 orang ditahan (METROTV 7 Oktober 2026)
Serangan brutal Zionis Israel sengaja dilakukan untuk tujuan genosida dan perampasan wilayah Palestina. Paradigma perang negara kafir adalah dengan cara penjajahan, baik visik maupun pemikiran. Pelajar dan sekolah yang seharusnya dilindungi justru menjadi sasaran serangan. Hal ini menjadi salah satu bukti kejahatan perang yang dilakukan oleh zionis Israel.
Para pemimpin negara adidaya, lembaga internasional dan penguasa negeri-negeri muslim tak berdaya dan gagal menghentikan kejahatan tersebut. Mereka hanya diam melihat kekerjaman yang dilakukan oleh Zionis laknatullah.
Oleh karenanya maka dibutuhkan kekuatan global baru yang mampu membebaskan Palestina dari penjajah Zionis Israel, dengan persatunya Umat muslim. Paradigma perang (jihad) dalam sistem khilafah adalah membebaskan manusia dari kekufuran bukan untuk penjajahan apalagi genosida.
Jihad wajib dilakukan untuk melawan penjajahan dan membela kehormatan kaum muslimin. Hal ini berdasarkan hadis
الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ُ Ø£َØ®ُÙˆ الْÙ…ُسْÙ„ِÙ…ِ Ù„َا ÙŠَظْÙ„ِÙ…ُÙ‡ُ ÙˆَÙ„َا ÙŠُسْÙ„ِÙ…ُÙ‡ُ
Artinya: "Seorang muslim adalah saudara bagi muslim yang lain, dia tidak boleh menzaliminya dan tidak boleh membiarkannya (dizalimi/ditelantarkan)." (HR. Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin 'Umar).
Dalam hadis tersebut jelas dikatkan bahwasanya sesama muslim adalah saudara, dan tidak boleh membiarkan saudaranya dizalimi. Maka membebaskan penjajahan terhadap Palestina adalah kewajiban bagi setiap muslim.
Syar'iat Islam terkait perang melindungi warga sipil perempuan, anak-anak dan lansia. Hal ini menunjukkan kemuliaan Islam. Kita melihat bahwasanya kebanyakan yang menjadi korban atas kekejian zionis Yahudi adalah anak-anak, kaum perempuan dan banyak pula diantaranya adalah lansia dan warga sipil yang tidak berdosa. Maka jelas perbuatan Zionis Yahudi telah jauh melanggar syariat Islam dan tidak memiliki rasa kemusiaan.
Menegakkan khilafah sebagai kekuatan global umat islam sangat penting untuk menghentikan kejahatan perang Zionis Israel dan negara-negara kafir. Jika kaum muslimin bersatu maka akan menggalang kekuatan yang besar, yang akan mampu menghantarkan pada kemenangan dan pembebasan penjajah di negeri-negeri muslim manapun, tidak hanya Palestina.
Dalam Islam tugas Khilafah (pemimpin dalam Islam) adalah menjalankan misi dakwah untuk menebar rahmat bagi umat manusia di seluruh dunia, dan menyatukan umat muslim. Kepemimpinan Islam (Khilafah) tidak hanya dibutuhkan oleh umat islam tapi urgen untuk membangun peradaban manusia yang mulia. Hal ini pernah dicontohkan oleh manusia paling mulia (Rasulullah Saw) sebagimana beliau mendirikan Daulah khilafah (negara Islam) pertama kali di Madinah Al-munawaroh, yang kemudian diljutkan oleh para Khalifah (pemimpin pengganti) hingga abad ke 12.
Dengan diterapkannya Islam secara kaffah, maka kaum muslimin diliputi oleh kemuliaan, membangun peradaban gemilang, peradaban yang mulia yang akan mengangkat derajat manusia, menanamkan keimanan yang mantap pada setiap individu serta menentramkan jiwa. Maka sudah selayaknya kita mengembalikan kembali kejayaan Islam dengan menerapkan kembali Syariat-Nya secara kaffah, dalam bingkai Daulah khilafah 'ala Minhaajin Nubuwwah. Allahu a'lam bishawwab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar