20.748 PELAJAR SYAHID SEJAK THUFAN AL-AQSHA, BUKTI NYATA GENOSIDA


Oleh: Ummu Aulia (Muslimah Pejuang Peradaban)

Thufan Al-Aqsha telah berjalan tiga tahun. Selama itu pula korban terus berjatuhan. Ini bukan lagi sekadar angka korban perang, tapi angka genosida pendidikan.

Kementerian Pendidikan Palestina pada Rabu, 7 Oktober 2026 merilis data yang menyesakkan: sebanyak 20.748 pelajar dan 1.058 tenaga pendidik serta tenaga kependidikan syahid di Jalur Gaza dan Tepi Barat selama tiga tahun konflik.

Sekolah yang seharusnya menjadi tempat paling aman untuk menuntut ilmu, justru menjadi kuburan massal.

Dalam periode yang sama, kebrutalan di Tepi Barat terus meningkat. Sebanyak 1.210 warga Palestina tewas, sekitar 13.350 orang luka-luka, dan lebih dari 24.600 orang ditahan oleh pasukan penjajah.

Jika yang diserang adalah basis militer, itu bisa disebut perang. Namun ketika yang dibunuh adalah 20.748 pelajar yang memegang buku, bukan senjata, dan 1.058 guru yang memegang kapur, bukan peluru, maka ini adalah kejahatan perang yang terencana dan genosida nyata yang dilakukan Zionis.


Paradigma Perang Penjajah: Menghapus Generasi

Ini membuktikan paradigma perang negara kafir penjajah. Tujuannya bukan sekadar mengalahkan lawan, tapi menghapus satu generasi dengan menghabisi masa depannya.

Pelajar adalah masa depan bangsa. Dengan menargetkan anak-anak dan pelajar, Zionis ingin memastikan tidak ada lagi anak Palestina yang bisa membaca, menulis, dan melawan. Karena itu penjajahan dan genosida terus dilakukan.


PBB Hanya Jadi Pencatat Korban

PBB dan Mahkamah Internasional tidak mampu memberi solusi hakiki bagi Muslim Palestina.

Sejak Thufan Al-Aqsha, Dewan Keamanan PBB puluhan kali menggelar sidang darurat. Resolusi gencatan senjata selalu gagal karena diveto Amerika Serikat. Hak veto adalah kartu as yang bisa menggagalkan keputusan yang telah disepakati mayoritas anggota.

Majelis Umum PBB memang meloloskan resolusi, tapi sifatnya tidak mengikat. Israel menganggapnya angin lalu karena merasa memiliki dukungan kuat dari Amerika sebagai pendukung utamanya.

Mahkamah Internasional (ICJ) sudah menyatakan ada dugaan genosida di Gaza dan memerintahkan Israel menghentikan serangan. Israel tidak patuh karena menganggapnya hanya gertakan tanpa tindakan nyata.

UNRWA yang mengurusi pengungsi Palestina justru dipotong dananya oleh Amerika dan sekutunya, padahal sekolah-sekolah UNRWA yang dibom.

Maka jelas, Dewan Keamanan PBB hanya menjadi pencatat korban, bukan pelindung korban. Terbukti 20.748 pelajar bisa syahid padahal PBB ada.


Penguasa Negeri Muslim: Sibuk Mengecam dan Normalisasi

Yang lebih menyakitkan adalah sikap penguasa negeri-negeri Muslim. Mereka sibuk mengecam tanpa memberi solusi hakiki.

Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan Liga Arab menggelar rapat demi rapat, KTT demi KTT di Riyadh, Istanbul, hingga Jakarta. Hasilnya hanya kecaman keras dan seruan gencatan senjata, tanpa satu pun wacana pengiriman tentara.

Negara yang berbatasan langsung pun abai. Mesir menutup rapat pintu Rafah seolah membiarkan penjara terbesar di dunia itu terus digempur. Yordania masih menjaga perjanjian damai dengan Israel. Turki masih mengirimkan komoditas dagang.

Negara-negara kaya Teluk bahkan melanjutkan proyek normalisasi dengan Zionis melalui Abraham Accords. Minyak tetap mengalir ke negara-negara pendukung Israel.

Bantuan yang dikirim pun hanya berupa selimut dan makanan yang harus antre berbulan-bulan untuk masuk Gaza dan harus ditebus dengan taruhan nyawa. Sementara bom bisa masuk setiap hari tanpa antre.

Padahal umat Islam terdiri dari 57 negara, 2 miliar penduduk, jutaan tentara, dan senjata canggih. Namun tidak satu pun yang berani mengirim satu batalion untuk menghentikan pembantaian pelajar di Palestina.

Mereka terikat dengan sistem nation-state buatan penjajah. Mereka takut pada Amerika dan lebih memilih menjaga tahta daripada menjaga darah saudara seiman.


Paradigma Perang Mulia Dalam Islam

Berbeda jauh dengan paradigma penjajah, Islam memiliki paradigma perang yang mulia. Jika PBB dan penguasa Muslim hari ini gagal, Islam sudah punya cara tuntas menghentikan genosida.

Allah SWT berfirman:

"Diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimi. Dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuasa menolong mereka." (QS. Al-Hajj: 39)

"Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak..." (QS. An-Nisa: 75)

Ini adalah ayat jihad difa'i (defensif). Ketika 20.748 pelajar dibantai, maka membela Palestina hukumnya wajib bagi kaum Muslimin yang mampu. Solusi Islam bukan sekadar donasi dan doa, tapi pengerahan kekuatan untuk menghentikan pelaku kezaliman.

Islam juga memiliki adab perang yang mulia. Zionis sengaja membunuh pelajar, Islam justru mengharamkannya.

Rasulullah SAW berpesan kepada pasukan yang akan berangkat perang: "Berperanglah dengan nama Allah, jangan berkhianat, jangan mencincang mayat, jangan membunuh anak-anak..." (HR. Muslim No. 1731)

Dari Ibnu Umar RA: "Seorang wanita terbunuh dalam salah satu peperangan Rasulullah, maka Rasulullah SAW melarang membunuh wanita dan anak-anak." (HR. Bukhari dan Muslim)

Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq saat mengutus pasukan ke Syam berwasiat: "Jangan membunuh anak kecil, jangan membunuh wanita, jangan membunuh orang tua renta, jangan menebang pohon berbuah..."

Jika Islam saja melarang membunuh anak kecil yang kebetulan ada di medan perang, bagaimana mungkin membiarkan 20.748 pelajar dibunuh secara sengaja?


Butuh Perisai: Khilafah

Sejarah mencatat, saat seorang Muslimah dilecehkan di Ammuriyah, ia berteriak memanggil Khalifah Al-Mu'tashim Billah. Khalifah yang sedang minum langsung meletakkan gelasnya dan menjawab, "Labbaik Wahai Saudariku." Ia pun mengirim pasukan besar untuk membebaskan kota itu.

Hari ini, bukan satu, tapi 20.748 pelajar yang memanggil.

Genosida di Palestina tidak akan berhenti hanya dengan kecaman. Butuh kekuatan yang mampu menghentikan penjajahan. Umat butuh institusi pelindung, dan itu hanya ada jika Khilafah tegak.

Rasulullah SAW bersabda: "Sesungguhnya Imam (Khalifah) itu adalah perisai, orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya." (HR. Muslim No. 1841)

Hanya Khilafah yang dapat mengirim pasukan untuk membebaskan Palestina. Khilafah tidak terikat nation-state. Selama ia beriman kepada Allah, ia adalah saudara yang wajib dibebaskan.

Khilafah menjadi negara mandiri bukan dengan ikut lomba G20, tapi dengan memutus semua ketergantungan kepada negara kafir penjajah. Mandiri ideologi dengan Islam, mandiri ekonomi dengan mengelola kekayaan alam dan Baitul Mal, mandiri militer dengan industri sendiri, dan mandiri politik dengan dakwah dan jihad.

Umat perlu disadarkan bahwa membela Palestina adalah kewajiban akidah, bukan sekadar isu kemanusiaan. Kita harus menolak solusi PBB dan two-state solution yang hanya melanggengkan penjajahan. Penjajah itu diusir, bukan diberi tempat.

Berjuang menegakkan Khilafah adalah kewajiban kita semua. Khilafah adalah institusi yang akan menerapkan syariat perang yang mulia, mengerahkan tentara untuk membebaskan Al-Aqsha, dan menjalankan misi dakwah sebagai rahmatan lil alamin.

Khilafah tidak hanya akan menghentikan genosida, tapi akan memastikan tidak ada lagi pelajar di dunia yang takut mati saat sedang belajar.

Wallahu a'lam bishshawab.



Referensi: 
  1. Kementerian Pendidikan Palestina, 7 Okt 2026. Data 20.748 pelajar syahid. WAFA News Agency.
  2. OCHA PBB, Okt 2026. Laporan korban Tepi Barat.
  3. Reuters, 2024-2026. AS 6 kali veto resolusi gencatan senjata Gaza di Dewan Keamanan PBB.
  4. ICJ Press Release, 26 Jan 2024. Putusan dugaan genosida di Gaza.
  5. UN News, Jan 2024. Pemotongan dana UNRWA oleh AS dan sekutu.
  6. QS. Al-Hajj: 39 dan QS. An-Nisa: 75.
  7. HR. Muslim No. 1731 & 1841, HR. Bukhari No. 3014.
  8. Tarikh Ibnu Atsir, kisah pembebasan Ammuriyah oleh Khalifah Al-Mu'tashim.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar