Kecanggihan AI, Sebuah Harapan atau Kekhawatiran?


Oleh: Ivanur

Para peneliti kecerdasan buatan (Al), termasuk "Bapak Al" dunia, menerbitkan riset yang kembali mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "ledakan kecerdasan" Al. Riset tersebut berjudul "Bagaimana jika otomatisasi R&D AI memicu ledakan kecerdasan?" dan diterbitkan pada akhir September 2026 melalui Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP). Pada penelitian ini melibatkan 22 peneliti top termasuk Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio, didalam penelitian ini membahas mengenai AI yang dikhawatirkan mampu mempercepat pengembangan dirinya sendiri secara otomatis (R&D AI), sehingga kemajuan yang biasanya memakan waktu bertahun-tahun bisa "dipadatkan" menjadi hitungan bulan. Ledakan kecerdasan (intelligence explosion)—yaitu titik di mana kecerdasan buatan umum (AGI) mampu memperbaiki dirinya sendiri secara eksponensial hingga melampaui kecerdasan manusia—memang membawa tiga risiko utama yang menjadi perhatian serius para ilmuwan dan pembuat kebijakan yaitu ancaman Biologis dan Siber dimana AI yang sangat cerdas dapat digunakan untuk merancang patogen baru (senjata biologis) yang mematikan atau meluncurkan serangan siber skala besar yang mampu melumpuhkan infrastruktur kritis global (seperti jaringan listrik dan sistem keuangan), hilangnya kendali dan keterlibatan manusia (Masalah Penyelarasan/Alignment Problem) yang mana jika tujuan AI tidak selaras dengan nilai-nilai kemanusiaan, manusia berisiko kehilangan kendali sepenuhnya. AI dapat mengoptimalkan tujuannya dengan cara yang tidak terduga dan mengabaikan intervensi atau perintah manusia, dan ancaman perang antarnegara, perlombaan senjata AI (AI arms race) dapat memicu ketegangan geopolitik. Negara-negara mungkin terdorong untuk menggunakan senjata otonom (autonomous weapons) yang dapat mengambil keputusan perang dalam hitungan milidetik, meningkatkan risiko konflik global yang tidak disengaja.

Perkembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) bagaikan pisau bermata dua, yang memberikan kemudahan luar biasa sekaligus membawa risiko bahaya jika tidak dikelola dengan bijak. Adapun perbandingan dampak positif (kemudahan) dan dampak negatif (bahaya) dari perkembangan AI adalah kemudahannya yaitu efisiensi dan otomatisasi, kemajuan medis, asisten pintar 24/7, personalisasi pembelajaran. Disisi lain dampak negatifnya adalah disrupsi lapangan kerja, penyebaran disinformasi (deepfake), isu privasi dan keamanan data, dan ketergantungan dan hilangnya kemampuan kritis. Kemudian kecerdasan buatan (AI) adalah teknologi bermata dua (dual-use technology). Sama seperti penemuan besar lainnya dalam sejarah manusia, dampaknya sepenuhnya bergantung pada siapa yang menggunakannya dan untuk tujuan apa. Adapun contoh pemakaian untuk kebaikan adalah kesehatan, pendidikan, lingkungan dan efisiensi kerja, serta pemakaian untuk kejahatannya adalah deepfakes, kejahatan siber, penipuan berbasis suara dan senjata otonom. Ledakan kecerdasan buatan (Al) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia seperti hilangnya kontrol moral, sementara pandangan umum lainnya menekankan pentingnya etika global, regulasi hukum, dan tanggung jawab manusia secara universal. 

Manusia dibekali akal agar dapat membaca "ayat-ayat" (tanda kekuasaan) Allah yang terhampar di alam semesta, sekaligus memikul tanggung jawab besar sebagai khalifah fil ardhi (pemimpin/pengelola di bumi). Elaborasi mengenai hubungan erat antara akal, tanda kekuasaan Allah, dan tugas sebagai khalifah adalah akal sebagai pembeda dan kemuliaan, membaca tanda-tanda kekuasaan Allah, dan menjalanka peran khalifah fil ardhi. Dalam pemikiran Islam (salah satunya dikonseptualisasikan secara detail oleh ulama seperti Syeikh Taqiyuddin an-Nabhani), hasil karya dan pemikiran manusia dipilah secara tegas untuk menentukan mana yang boleh diambil dan mana yang harus ditolak atau diwaspadai. Dalam hal ini hadharah adalah sekumpulan pemahaman tentang kehidupan yang dipengaruhi oleh akidah, ideologi (pandangan hidup), atau falsafah tertentu. Karena bersumber dari pandangan hidup, hadharah bersifat khas dan tidak universal. Sedangkan madaniyah (Bersifat Material & Netral), madaniyah adalah benda-benda berbentuk fisik (material) yang digunakan dalam aspek kehidupan dan dihasilkan melalui kemajuan sains, teknologi, serta pertukaran keterampilan. Kecerdasan Buatan (AI) bukanlah entitas yang netral secara mutlak, melainkan cerminan dari seluruh data, nilai, dan keputusan manusia yang membentuknya.

Meskipun AI beroperasi menggunakan matematika dan kode komputer, hasil akhirnya sangat dipengaruhi oleh bagaimana ia dilatih, tiga pilar utama yang menjelaskan mengapa AI bisa dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi adalah Data Pelatihan (The Data Foundation, Intervensi dan Penyelarasan Manusia (Human Alignment), Arsitektur dan Algoritma. Dalam perspektif Islam, sains dan teknologi bersifat netral secara esensial, namun bernilai (value-laden) dalam penerapannya. Dampak akhir dari teknologi tersebut sepenuhnya bergantung pada subjek hukum (mukallaf) yang mengendalikannya. mengapa AI bisa menjadi maslahat atau mudarat berdasarkan siapa yang mengoperasikannya itu karena AI di Tangan Manusia Berakidah dan Tunduk Syariat (Membawa Maslahat), serta AI di Tangan Manusia yang Kafir/Ingkar (Mendatangkan Bahaya dan Kerusakan). Syariat Islam adalah pedoman dan aturan komprehensif dari Allah Swt. yang diturunkan untuk membimbing manusia agar selamat dan sejahtera di dunia maupun di akhirat.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar