Ego yang Paling Toksik. Logika Surga Neraka Dibuat Canda


Oleh: Imas Royani, S.Pd.

Sebuah video lama penertiban karaoke liar di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, kembali viral di media sosial akibat perdebatan unik mengenai logika surga dan neraka antara pengelola bernama Muklis dan petugas Satpol PP. 

Muklis berkeras mempertahankan usahanya karena menganggap tempat karaoke tersebut berdiri di atas tanah hak miliknya sendiri. Muklis juga menolak tempat usahanya ditutup dengan berargumen bahwa di dunia harus ada keseimbangan antara orang baik dan orang jahat. Ia melontarkan kalimat, "Lah kalau kok suruh orang baik semua, ya sudah kiamat sejak dulu toh, Pak? Lah nerakanya yang ngisi siapa?". 

Berdasarkan konfirmasi dari pihak Satpol PP Kabupaten Demak, peristiwa penertiban dan penyegelan tempat karaoke "Dewa Musik" milik Muklis tersebut tepatnya terjadi pada Rabu, 3 Juli 2019. Saat penertiban itu dilakukan, pemerintah daerah setempat langsung mengambil tindakan tegas berupa penyegelan dan penutupan paksa karena tempat hiburan tersebut beroperasi secara liar tanpa izin resmi. 

Video tersebut mengingatkan kita pada pernyataan Nikita Mirzani yang menghebohkan publik saat ia melakukan siaran langsung (live) di Instagram. Nikita berseloroh bahwa ia tidak terlalu terobsesi untuk masuk surga dan tidak masalah jika ditempatkan di neraka. Alasan yang ia lontarkan adalah karena di neraka ia merasa akan bertemu banyak teman-temannya serta artis-artis internasional legendaris yang sudah meninggal. Ia berandai-andai secara bercanda, "Siapa tahu gue bisa buat acara di situ. Ketemu Michael Jackson, ketemu Amy Winehouse di neraka." 

Ada juga video kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) bertema "Hari Pertama di Neraka" yang viral pada Juni 2025. Video berdurasi singkat (seperti 9 detik dan 41 detik) di YouTube dan TikTok ini menampilkan visual bernuansa api buatan AI yang menggambarkan suasana neraka selayaknya tempat hiburan atau vlog santai. Dalam video tersebut, digambarkan orang-orang seolah-olah sedang berenang, mandi di lava, atau menganggap suhu panas neraka seperti tempat wisata. 

Konten visual buatan AI tersebut seolah menjadi wujud visualisasi konkret dari pola pikir atau logika yang pernah disampaikan oleh kedua figur tersebut, yang sama-sama meremehkan atau menyepelekan konsep siksa neraka. Sungguh miris, sebab konsep sakral keagamaan dijadikan bahan candaan (joke) atau komoditas konten demi popularitas. 

Fenomena ini terus terjadi dan berulang karena adanya simbiosis mutualisme antara psikologi manusia, desain sistem media sosial, dan motif ekonomi. Ketika unsur-unsur ini bertemu, terbentuk sebuah siklus yang otomatis menduplikasi konten kontroversial demi mendulang keuntungan. 

Adapun istem rekomendasi platform (seperti TikTok, YouTube, atau X) tidak menilai konten berdasarkan kebenaran moral atau nilai edukasinya, melainkan dari seberapa aktif audiens meresponsnya. Konten yang memicu kontroversi, perdebatan, atau kemarahan publik dinilai oleh algoritma sebagai "konten berkualitas tinggi" karena memancing ratusan komentar, share, dan durasi tonton yang lama. Akibatnya, sistem justru menyebarluaskan konten tersebut ke halaman utama (feed) jutaan pengguna lain. 

Secara psikologis, perhatian manusia jauh lebih cepat terikat pada hal-hal yang ekstrem, nyeleneh, dan memicu emosi kuat (high arousal) seperti rasa kaget, marah, atau terhibur secara satir, ketimbang informasi yang datar dan normatif. Inilah yang mendorong pengguna merasa perlu membagikan (share) konten tersebut, baik untuk mengkritik bersama-sama (mencari kesamaan nilai moral kelompok) maupun sekadar ikut serta dalam tren yang sedang hangat agar tidak merasa tertinggal (FOMO). 

Apalagi di era digital, views (jumlah tayangan) dan likes adalah komoditas bernilai tinggi. Bagi kreator konten atau figur publik, perhatian publik—meskipun dalam bentuk kecaman—tetap menghasilkan popularitas, peningkatan pengikut (followers), dan pundi-pundi uang melalui sistem monetisasi iklan maupun endorsement. Selama konten kontroversial terbukti paling cepat menaikkan statistik akun, para kreator akan terus terdorong untuk mengulangi pola yang sama atau memproduksi konten sejenis yang lebih ekstrem demi mempertahankan popularitas singkat mereka. 

Dulu, memvisualisasikan imajinasi liar membutuhkan keterampilan grafis yang rumit dan biaya besar. Sekarang, dengan AI generatif, siapa saja bisa mewujudkan narasi kontroversial hanya dalam hitungan detik lewat ketikan teks (prompt), mempercepat laju produksi konten-konten provokatif baru di internet.

Kesemuanya tidak terlepas dari sistem yang diterapkan saat ini, yakni sistem Kapitalisme dimana prinsip kebebasan/liberalisme adalah hal mutlak dan sangat diagungkan sehingga memfasilitasi semua itu dianggap sebuah kewajaran. Apalagi dalam sistem ini, agama dipisahkan bahkan dijauhkan dari kehidupan. Sekalipun ada kecaman atau penolakan, tidak akan menimbulkan efek jera bahkan akan terus berulang di waktu dan pelaku yang berbeda.

Berbeda dengan sistem Islam. Dalam pandangan Islam, fenomena meremehkan, menertawakan, atau menjadikan akhirat sebagai bahan candaan merupakan pelanggaran akidah yang sangat berat. Islam memiliki batasan yang tegas mengenai apa yang boleh dijadikan humor dan apa yang wajib disakralkan.

Allah SWT. berfirman:
وَلَئِنْ سَاَ لْتَهُمْ لَيَـقُوْلُنَّ اِنَّمَا كُنَّا نَخُوْضُ وَنَلْعَبُ ۗ قُلْ اَبِا للّٰهِ وَاٰ يٰتِهٖ وَرَسُوْلِهٖ كُنْتُمْ تَسْتَهْزِءُوْنَ
لَا تَعْتَذِرُوْا قَدْ كَفَرْتُمْ بَعْدَ اِيْمَا نِكُمْ ۗ اِنْ نَّـعْفُ عَنْ طَآئِفَةٍ مِّنْكُمْ نُـعَذِّبْ طَآئِفَةً بِۢاَنَّهُمْ كَا نُوْا مُجْرِمِيْنَ
"Dan jika kamu tanyakan kepada mereka, niscaya mereka akan menjawab, "Sesungguhnya kami hanya bersenda gurau dan bermain-main saja." Katakanlah, "Mengapa kepada Allah, dan ayat-ayat-Nya serta Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?" Tidak perlu kamu meminta maaf, karena kamu telah kafir setelah beriman. Jika Kami memaafkan sebagian dari kamu (karena telah tobat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) karena sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang (selalu) berbuat dosa." (QS. At-Taubah: 65-66).

Rasulullah Saw. bersabda: "Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta hanya agar orang-orang tertawa. Celakalah dia, celakalah dia!" (HR. Abu Dawud & Tirmidzi). 

Menggambarkan neraka sebagai tempat yang santai, ramai, atau penuh pesta adalah bentuk kesombongan dan kebutaan hati nurani. Ketika neraka divisualisasikan secara kasual, maka rasa takut (khauf) akan terkikis, dan manusia menjadi berani menantang dosa. 

Islam tidak hanya melarang pembuat konten, tetapi juga melarang keras audiens untuk menonton, menyukai (like), atau memberikan panggung pada konten tersebut. Allah SWT. melarang umat Islam duduk atau berbaur di majelis (termasuk ruang digital seperti kolom komentar) yang isinya mengolok-olok ayat Allah. Kita diperintahkan untuk mengabaikannya atau meninggalkan tempat tersebut sampai mereka mengganti topik pembicaraan.

Allah SWT. berfirman:
وَقَدْ نَزَّلَ عَلَيْكُمْ فِى الْـكِتٰبِ اَنْ اِذَا سَمِعْتُمْ اٰيٰتِ اللّٰهِ يُكْفَرُ بِهَا وَيُسْتَهْزَاُ بِهَا فَلَا تَقْعُدُوْا مَعَهُمْ حَتّٰى يَخُوْضُوْا فِيْ حَدِيْثٍ غَيْرِهٖۤ ‏ ۖ اِنَّكُمْ اِذًا مِّثْلُهُمْ ۗ اِنَّ اللّٰهَ جَا مِعُ الْمُنٰفِقِيْنَ وَا لْكٰفِرِيْنَ فِيْ جَهَـنَّمَ جَمِيْعًا
"Dan sungguh, Allah telah menurunkan (ketentuan) bagimu di dalam Kitab (Al-Qur'an) bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir) maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena (kalau tetap duduk dengan mereka), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sungguh, Allah akan mengumpulkan semua orang munafik dan orang kafir di Neraka Jahanam," (QS. An-Nisa: 140). 

Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah Saw. menjelaskan realitas siksa neraka, bahwa satu celupan singkat di neraka saja sudah cukup untuk menghapus seluruh memori kenikmatan yang pernah dirasakan seseorang selama hidup di dunia. Dalam hadis lain Rasulullah Saw. juga menjelaskan bahwa siksaan paling ringan di neraka adalah mengenakan sandal dari api yang seketika membuat ubun-ubun mendidih (HR. Bukhari & Muslim). 

Di dalam Al-Qur'an, Allah SWT. menceritakan kisah masa depan yang pasti terjadi mengenai dialog dan penyesalan para penghuni neraka. Melalui ayat-ayat ini, Al-Qur'an secara langsung membantah narasi fiktif buatan AI atau ucapan manusia yang mengira neraka adalah tempat berkumpul yang santai dan penuh pesta.

Di dunia, banyak orang merasa bangga masuk neraka bersama teman-teman atau idola mereka. Namun, Al-Qur'an mengisahkan bahwa di akhirat kelak, hubungan pertemanan yang didasarkan pada kemaksiatan akan berubah menjadi kebencian yang luar biasa.

Allah SWT. berfirman dalam Surat Al-Furqan: 27-29, bahwa orang yang zalim akan menggigit jarinya sendiri karena penyesalan yang teramat sangat. Mereka akan berteriak: "Wahai, celaka aku! Sekiranya (dulu) aku tidak menjadikan si fulan itu teman setia(ku). Sungguh, dia telah menyesatkan aku dari peringatan (Al-Qur'an) ketika (peringatan itu) telah datang kepadaku..." 

Al-Qur'an juga menggambarkan dalam Surat Al-Muddassir: 42-47 momen ketika penghuni surga melihat ke arah neraka dan bertanya kepada para penghuninya tentang penyebab utama mereka dilemparkan ke dalam tempat siksaan tersebut. Penghuni surga bertanya: "Apa yang memasukkan kamu ke dalam (neraka) Saqar?" 

Mereka tidak menjawab dengan candaan, melainkan mengakui dosa-dosa mereka dengan penuh kehinaan: "Dulu kami tidak termasuk orang-orang yang melaksanakan salat. Kami tidak (pula) memberi makan orang miskin. Kami biasa berbicara (membual) bersama orang-orang yang membicarakannya (hal yang batil). Kami mendustakan hari pembalasan."

Jika di media sosial ada narasi bahwa di neraka mereka bisa "membuat acara atau konser bersama", Al-Qur'an (Surat Al-A'raf: 38-39) justru mengabarkan realitas yang sebaliknya: para penghuni neraka akan saling melaknat dan menuntut satu sama lain.

Setiap kali suatu umat masuk ke dalam neraka, mereka akan mengutuk kelompok lain yang telah menyesatkan mereka. Orang-orang yang menjadi pengikut akan berdoa kepada Allah: "Ya Tuhan kami, mereka inilah yang telah menyesatkan kami, maka datangkanlah kepada mereka siksaan yang berlipat ganda dari api neraka." Pemimpin mereka pun akan membalas dengan mengatakan bahwa mereka sama-sama bersalah dan harus merasakan azab atas apa yang mereka perbuat.

Konten AI menggambarkan lava seolah-olah seperti kolam renang yang menyenangkan. Kenyataannya, rasa haus di neraka begitu membakar hingga penghuni neraka memohon belas kasihan penghuni surga hanya untuk setetes air.

Penghuni neraka menyeru penghuni surga: "Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu." Jawaban Penghuni Surga: "Sungguh, Allah telah mengharamkan keduanya bagi orang-orang kafir." Dialog ini terdapat pada Al-Qur'an surat Al-A'raf ayat 50.

Kisah-kisah di atas diturunkan oleh Allah SWT. sebagai peringatan keras sekaligus obat bagi hati manusia agar tidak tertipu oleh tipu daya dunia apalagi sampai meremehkan kebenaran akhirat demi kesenangan duniawi yang remeh.

Menjadikan neraka, surga, hari kiamat, atau siksaan Allah sebagai bahan lelucon masuk dalam kategori Istihza' bid Din. Para ulama sepakat bahwa mengolok-olok syiar atau ketetapan agama, baik dilakukan secara serius maupun sekadar bercanda (huzuwan wa la'iba), dapat menggugurkan keimanan seseorang. Bahkan jika dilakukan secara sadar untuk meremehkan, bisa mengeluarkan seseorang dari Islam (murtad). 

Pelaku murtad menghadapi berbagai sanksi, yaitu gugurnya seluruh amal kebaikan terdahulu (terhapus dan tidak bernilai pahala), ikatan perkawinan batal atau haram diteruskan, sehingga pasangan harus diceraikan, terputusnya hubungan waris-mewarisi dengan keluarga Muslim, dan jika meninggal dalam keadaan murtad, jenazahnya tidak dimandikan, tidak dishalatkan, dan tidak dimakamkan di pemakaman Muslim.

Rasulullah Saw. bersabda: 
مَنْ بَدَّلَ دِينَهُ فَاقْتُلُوهُ 
"Barangsiapa mengganti agamanya, maka bunuhlah ia." (HR. Bukhari).

Mayoritas ulama mazhab klasik menetapkan hukuman mati. Namun, pelaksanaannya bukan main hakim sendiri, melainkan melalui proses peradilan oleh otoritas pemerintahan yang sah, serta didahului dengan ajakan bertaubat (istitabah) selama tiga hari.

Syariat melarang manusia mereka-reka atau menyederhanakan bentuk neraka menggunakan visual kebendaan duniawi karena akal dan teknologi manusia tidak akan pernah bisa menjangkaunya. Oleh karena itu, syariat mengharuskan setiap Muslim untuk membentengi diri dengan rasa takut (khauf) terhadap azab Allah. Menonton, menyukai, atau menyebarkan konten serupa dinilai sebagai bentuk pendangkalan akidah yang harus segera ditinggalkan dan ditaubati.

Hanya saja hal itu akan sulit jika sistemnya masih kufur. Oleh sebab itu, mencampakkan sistem Kapitalisme adalah sebuah keharusan. Dan menggantinya dengan sistem Islam adalah sebuah kewajiban yang harus dilakukan saat ini juga. Mari kita memulainya dengan mengkaji Islam kaffah bersama kelompok dakwah Islam ideologis dan mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat agar semakin banyak yang tercerahkan.

Wallahu'alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar