Tren Vape Berisi Etomidate Sasar Generasi


Oleh: Afifah Azhnie Nur Arvira (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Tren vape yang identik dengan gaya hidup modern kini menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Jaringan narkoba menyamarkan narkotika dalam cairan vape siap pakai beraroma buah agar tampak seperti gaya hidup, sehingga persoalannya bukan sekadar tren, melainkan keamanan generasi.

Modus ini sengaja membidik anak muda karena dianggap mudah penasaran, suka ikut tren, dan belum memahami risiko hukum serta kesehatan. Liquid narkotika dibuat bening seperti liquid biasa, dikemas dalam cartridge atau pod siap pakai, sehingga terlihat praktis dan aman bagi pemula.

Zat yang paling banyak ditemukan adalah etomidate, obat bius keras untuk anestesi total di rumah sakit yang bekerja menekan sistem saraf pusat hingga hilang kesadaran. Fungsinya hanya untuk operasi dan intubasi, bukan untuk dihirup. Jika dipanaskan lewat vape, dosisnya tidak terukur dan sangat berbahaya. Risikonya penurunan kesadaran mendadak, halusinasi, kebingungan, napas melambat hingga henti napas, penurunan tekanan darah, kejang, kerusakan kelenjar adrenal, hingga kematian akibat overdosis.

Data BNN menunjukkan masifnya ancaman ini. Dari 341 sampel cairan vape yang diuji laboratorium, ditemukan 11 sampel mengandung kanabinoid sintetis, 1 sampel mengandung methamphetamine, dan 23 sampel positif etomidate (kumparanNEWS, 21-09-2026).

Mirisnya, obat bius keras Golongan II ini beredar dengan harga fantastis Rp3-6 juta per cartridge. Di kalangan remaja, barang ini dikenal dengan istilah licik "pod getar". Ini bukan sekadar penyalahgunaan, tapi modus terstruktur. Jaringan memanfaatkan tren vape untuk menyasar generasi yang haus pengakuan dan ingin terlihat keren.

Ironisnya, respons negara masih lambat. Kepala BNN sudah mengusulkan pelarangan total vape dalam RUU Narkotika dan Psikotropika, namun hingga kini masih sebatas wacana. Sementara di jalanan, di kafe, bahkan di lingkungan sekolah, vape narkoba sudah menyebar tanpa penjagaan ketat.


Sekularisme dan Lemahnya Landasan Moral

Kondisi ini tidak lahir dari ruang hampa. Ada akar masalah yang lebih dalam. Sekularisme telah mencabut akidah dari kehidupan generasi. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, generasi kehilangan benteng keimanan. Standar benar dan salah bergeser bukan lagi halal-haram, melainkan apa yang sedang tren.

Pengaruh sistem sekulerisme inilah yang menjadikan para remaja tidak lagi takut akan tindakan yang mereka lakukan. Paham ini yang telah merasuki dunia remaja menjadikan mereka bebas bertingkah laku tanpa batas, bebas melakukan apa saja atas nama kebebasan. Ketika dihadapkan pada tekanan hidup, masalah keluarga, akademik, hingga krisis identitas, mereka lari ke narkoba untuk menghilangkan stres. Mirisnya, pelarian itu justru mereka normalisasikan sebagai solusi dan gaya hidup.

Di sisi lain, kapitalisme membuka ruang bagi industri apa pun selama menguntungkan. Selama masih ada anak muda yang menjadi konsumen, bisnis vape hingga narkoba akan terus tumbuh. Dalam logika ini, keselamatan generasi dikalahkan oleh kepentingan keuntungan.


Penegak Hukum yang Tidak Menyentuh Akar

Dalam kondisi ini, negara tidak boleh hanya menjadi regulator yang menunggu masalah membesar, tetapi harus hadir sebagai pelindung dan pengurus masyarakat.

Negara memiliki posisi strategis untuk memastikan kepentingan publik tidak tunduk pada pasar, dengan pencegahan hulu hingga hilir, mengawasi produksi, memutus distribusi ilegal, membatasi promosi yang menyasar remaja, dan menegakkan hukum secara tegas. Upaya itu juga harus diwujudkan melalui pendidikan dan lingkungan sosial yang membentuk generasi bernilai.

Jika respons hanya berupa usulan pelarangan dalam RUU, maka belum menyentuh mata rantai persoalan. Ancaman tidak hanya lahir dari pilihan individu, tetapi dari sistem yang membentuk lingkungan tempat mereka tumbuh. Dibutuhkan langkah menyeluruh dan konsisten.


Solusi Islam dalam Menyelamatkan Generasi

Islam memiliki seperangkat aturan yang menempatkan penjagaan manusia sebagai hal utama. Perlindungan generasi dimulai dari pembentukan akidah sebagai benteng. Keimanan melahirkan muraqabah, kesadaran bahwa Allah Swt senantiasa mengawasi. 

Islam juga sangat memperhatikan hifzh al-'aql atau penjagaan akal. Akal adalah karunia untuk berpikir dan membedakan benar-salah. Segala yang memabukkan dan merusak akal mendapat perhatian serius dalam syariat. Narkotika tidak bisa dipandang sebagai gaya hidup atau komoditas biasa. Aktivitas ekonomi tidak boleh menjadikan keselamatan akal sebagai tumbal keuntungan.

Prinsip ini tidak berhenti pada individu. Dalam Negara Islam, negara berperan sebagai raa'in yang mengurus rakyat dan junnah yang melindungi. Perlindungan dilakukan sistemik melalui pendidikan berkepribadian Islam, lingkungan sosial yang sehat, pencegahan penyalahgunaan zat, pengawasan peredaran barang berbahaya, dan penindakan jaringan produksi hingga distribusi.

Terlebih, Islam menetapkan sanksi yang sangat tegas dan menjerakan bagi para pengedar dan oligarki di balik peredaran narkoba. Para bandar, produsen, dan pemilik modal yang sengaja merusak generasi dengan narkoba tidak cukup hanya dengan hukuman penjara ringan. Dalam pandangan Islam, mereka termasuk perusak di muka bumi dan pelaku _fasad_ yang mengancam jiwa manusia. Negara wajib memberikan sanksi ta'zir yang berat hingga hukuman mati sebagai bentuk pemberantasan hingga ke akar, agar memberikan efek jera dan menutup celah bisnis haram tersebut. 

Dengan demikian, pemberantasan tidak menunggu korban berjatuhan. Negara memutus persoalan sejak hulu, sementara keluarga dan masyarakat membangun lingkungan sebagai benteng. Media dan ruang publik pun dijaga agar tidak menjadi sarana normalisasi gaya hidup merusak.

Sebab generasi adalah masa depan umat. Jika dibiarkan tumbuh dalam lingkungan yang menormalisasi kemudaratan, yang dipertaruhkan bukan hanya masa mudanya, tetapi masa depan peradaban. Membentengi generasi bukan tugas yang bisa ditunda.

Jangan biarkan tren sesaat merampas masa depan. Jangan biarkan keuntungan segelintir pihak dibayar dengan rusaknya akal dan kesehatan anak muda. Generasi butuh benteng, bukan sekadar nasihat. Perjuangan itu harus dimulai sekarang dengan menguatkan iman, menjaga akal, membangun lingkungan sehat, dan menjalankan aturan yang diridhai Allah Swt. Wallahu'alam Bissawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar