Klaim Tepi Barat “Milik Israel”. Bukti Solusi Dua Negara Hanya Ilusi


Oleh : Adrina Nadhirah

Dunia hari ini membiarkan kejahatan Israel terus dilakukan. Dilangsir dari metrotvnews.com, Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir menyatakan klaim bahwa semua tiga wilayah administratif di Tepi Barat adalah “milik Israel”. Dengan sombongnya, pernyataan itu bertentangan dengan kesepakatan Oslo II 1995, di mana Tepi Barat dibagi menjadi Area A, B dan C. Area A dikendali penuh oleh Palestina, sementara Area B dibawah kendali sipil Palestina dan keamanan Israel. Area C, seputar 60% wilayah Tepi Barat, berada di bawah kendali penuh Israel. Namun, bukan sekali dua sikap orang Yahudi yang tidak berpegang pada janji ini merugikan umat Islam. Sudah tertera area yang dibagi, tapi Ben-Gvir menyatakan ketiga-tiganya adalah milik zionis Israel. 

Berita-berita yang lewat terkait Palestina selalu berhasil menampakkan busuknya niat jahat Israel terhadap warga Palestina. Kita bisa menyimpulkan bahwa keinginan utama zionis Israel adalah menguasai seluruh wilayah Palestina termasuk Tepi Barat dan Gaza. Cita-cita mereka yang diwariskan oleh Theodore Herzl dalam bukunya De Juden Stat, secara gamblang memimpikan wujudnya Israel Raya. Demi mencapai tujuan ini, berbagai cara ditempuh tanpa mengindahkan nilai kemanusiaan. Tidak mengherankan jika tindakan pasukan Israel berulang kali menuai kecaman dunia karena dinilai melanggar hak-hak dasar rakyat Palestina. Inilah satu-satunya bentuk penjajahan dan kolonialisme di era modern yang paling mengenaskan. Lihat saja genosida besar-besaran, penghancuran Gaza dengan bom dan senjata, perampasan pemukiman Palestina di Tepi Barat, pembakaran puluhan masjid di Tepi Barat, pendudukan komplek Al-Aqsha sehingga menghalangi umat muslim untuk beribadah, sungguh adalah perilaku keji yang amat besar terhadap Islam dan Umat Muslim.

Kita didengarkan dengan tawaran solusi dua negara oleh Amerika Serikat, negara bersekutu dan para penguasa negeri muslim yang lebih cocok dipanggil boneka penjajah. Seketika solusi ini terkesan hanya sebuah kebohongan dan ilusi semata-mata. Melihat banyak sekali kepentingan Israel yang menginjak2 hak warga Palestina. Israel tidak akan berhenti sampai negara impiannya berdiri tegak dan Palestina dihapus dari Peta Dunia. Solusi ini jelas berat sebelah, karena Palestina sebegitu lemahnya, tidak berdaya melawan kejahatan penjajah Israel, apalagi dengan kondisi negeri-negeri muslim yang lain menutup mata dan telinga, tidak bersatu membela saudaranya sendiri. 

Untuk itu, para pendakwah Khilafah harus terus meyakinkan umat islam dan masyarakat dunia bahwa Israel sangat serius ingin merampas total seluruh wilayah Palestina, menggencarkan genosida dan pengusiran warga Palestina dari tanah air mereka sendiri. Upaya dan kejahatan mereka yang begitu masif dan agresif tidak bisa diselesaikan dengan solusi dua negara atau jalur diplomasi, bahkan ia wajib diperangi dengan menerapkan syariat jihad di jalan Allah. Sudah sekian lama solusi yang menoleransi kejahatan Israel ini diteriakkan, tapi sampai hari ini warga Palestina masih tetap menderita. Artinya, tidak ada solusi yang lebih mempan selain umat islam bersatu memerangi puak kafir ini. Namun yang lebih menyedihkan, banyak pemimpin negeri Muslim belum menunjukkan langkah yang tegas dan serius untuk menghentikan agresi Israel. Melihat kenyataan tersebut, wajar jika banyak pihak mulai mempertanyakan efektivitas solusi dua negara yang selama ini terus ditawarkan oleh dunia internasional.

Jika selama puluhan tahun diplomasi dan solusi dua negara belum mampu menghentikan penjajahan Israel, maka pertanyaannya adalah jalan apa yang seharusnya ditempuh umat Islam untuk membebaskan Palestina? Dengan demikian, syariat jihad dalam Islam tidak ditetapkan secara sembarangan, tetapi mengandung hikmah dan tujuan yang agung. Islam juga memberikan aturan yang jelas mengenai siapa yang terlibat dalam peperangan, sehingga yang menghadapi pasukan musuh adalah pihak yang memiliki kemampuan untuk berperang, bukan anak-anak, perempuan, maupun orang lanjut usia. Oleh sebab itu, menghadapi kekuatan Zionis Israel bukanlah perkara yang dapat diselesaikan oleh individu atau kelompok secara terpisah. Perjuangan tersebut memerlukan persatuan umat Islam dalam satu barisan yang kokoh serta kepemimpinan yang mampu mengarahkan dan mengoordinasikan potensi umat. Dari sinilah para pengemban dakwah memandang pentingnya upaya mewujudkan persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam agar berbagai kewajiban syariat, termasuk jihad fi sabilillah, dapat dilaksanakan secara efektif dan terarah.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar