"Islam ala Prabowo": Antara Kosmetik Politik dan Keteladanan Sejati


Oleh: Ai Dewi Mulyawati

Sebuah buku berjudul "Islam ala Prabowo: Cara Prabowo Subianto Mengamalkan Ajaran Islam" menjadi sorotan publik dalam beberapa pekan terakhir. Buku yang diluncurkan pada 26 Agustus 2025 ini sempat diharapkan menjadi jendela memahami pandangan keagamaan kepala pemerintahan, namun justru memicu perdebatan tajam tentang kejujuran penulisan, peran lembaga keagamaan, dan batas antara pengamalan agama dengan kepentingan politik.
 

Apa Isi Buku Ini?
 
Buku ini bukan ditulis langsung oleh Prabowo Subianto, melainkan disusun oleh tim penulis bernama Abdur Rahim Hasan, Rikal Dikri, dan Mush'ab Muqoddas, diterbitkan oleh Atmosphere Publishing House. Terdiri dari sekitar 346 halaman, buku membagi pembahasannya menjadi tiga bagian utama:
- Islam dan Perdamaian — mengaitkan sikap luar negeri Prabowo dengan ajaran Islam yang mengutamakan kedamaian
- Spiritualitas Prabowo — menyoroti kebiasaan ibadah, zikir, dan pendekatan kerohanian yang diklaim dilakukan beliau
- Perjuangan Kesejahteraan Rakyat — menghubungkan program-program pemerintah dengan prinsip keadilan dan kesejahteraan dalam Islam
 
Peluncurannya dilakukan saat acara Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS), dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI). Saat itu, buku tampak seolah mendapat dukungan luas dari kalangan tokoh agama dan lembaga resmi.
 

Buku yang tak Dikenali "Penulisnya"
 
Namun kebenaran di balik naskah ini perlahan terungkap. Buku ini sejak awal sudah tidak memenuhi syarat etika penulisan. Banyak nama tokoh yang dicantumkan seolah terlibat dalam penyusunan, padahal mereka sendiri tidak merasa ikut andil, tidak membaca naskah akhir, dan tidak menyetujui apa yang tertulis di dalamnya.
 
Sejumlah tokoh secara tegas membantah keterlibatan mereka:
- Yusril Ihza Mahendra — menyatakan hanya diwawancarai, tidak pernah membaca naskah akhir, dan pernyataannya disusun tanpa sepengetahuan
- Said Aqil Siraj, mantan Ketua Umum PBNU — mengaku tidak tahu-menahu namanya dicantumkan
- Tuan Guru Bajang dan Gus Kautsar — juga membantah memberikan kontribusi sebagaimana tertulis dalam buku
 
Situasi makin rumit ketika lembaga yang hadir saat peluncuran pun memberikan klarifikasi:
- MUI menyatakan: buku ini bukan produk atau penerbitan resmi MUI — kehadiran ketua umum saat itu hanya untuk membaca doa dalam acara BAZNAS
- BAZNAS menegaskan: tidak ada dana zakat, infak, atau sedekah (ZIS) yang digunakan untuk membiayai penulisan maupun peluncuran buku ini
 
Pengamat sosial politik Ray Rangkuti menilai, buku ini disusun sebagai kosmetikasi politik — upaya memoles citra di tengah penurunan kepercayaan publik. Tujuannya tak lain untuk mengangkat kembali nama pemimpin yang pamornya mulai turun akibat kebijakan yang diambil. Salah satunya adalah langkah masuknya Indonesia ke dalam BOP setelah sebelumnya bergabung di BRICS — keputusan yang menimbulkan tanda tanya besar tentang arah dan keberpihakan politik bangsa.
 

Agama untuk Pengabdian atau Pencitraan?
 
Polemik ini mengingatkan kita pada perbedaan mendasar antara meneladani ajaran agama dan menggunakan nama agama. Ajaran Islam mengajarkan bahwa keimanan tercermin dari kejujuran, baik dalam perkataan maupun perbuatan. Allah SWT. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لِمَ تَقُوْلُوْنَ مَا لَا تَفْعَلُوْنَ 
كَبُرَ مَقْتًا عِنْدَ اللّٰهِ اَنْ تَقُوْلُوْا مَا لَا تَفْعَلُوْنَ
"Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2–3).
 
Ketika tokoh-tokoh yang dikutip dalam buku saja tidak mengetahui isi tulisan tersebut, muncul pertanyaan mendasar: apakah narasi yang dibangun mencerminkan kenyataan, atau sekadar rekayasa untuk membentuk kesan tertentu?
 
Publik berhak mengetahui pandangan pemimpinnya. Namun agama tidak pantas dijadikan alat pencitraan. Pemimpin yang menggunakan agama hanya sebagai kosmetik atau atribut politik semata-mata untuk mendapatkan citra baik di mata khalayak, maka ia termasuk golongan orang-orang munafik. Sebagaimana ditegaskan Rasulullah Saw.: "Tanda orang munafik ada tiga: jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya mengkhianati." (HR. Bukhari & Muslim).
 
Rasulullah Saw. juga telah memperingatkan akan munculnya penguasa semacam ini: "Kelak akan datang penguasa-penguasa yang jika memutuskan untuk dirinya sendiri, ia memutuskan dengan satu cara; dan jika memutuskan untuk orang lain, ia memutuskan dengan cara lain. Jika mereka ditaati, mereka akan menyesatkan. Jika mereka dibangkang, mereka akan memerangi." (HR. Ahmad).
 
Dan tentang mereka yang membenarkan penguasa zalim, para ulama salaf berkata tegas: "Ulama yang mendukung penguasa zalim itu lebih hina daripada lalat yang mendatangi kotoran."

 
Standar Pemimpin dalam Islam
 
Lantas, bagaimanakah seharusnya sosok pemimpin menurut ajaran Islam? Tugas dan fungsi kepala negara dalam Islam sangat jelas dan terukur:
 
✅ Menegakkan agama dengan menerapkan syariat Islam sebagai dasar hukum negara.
✅ Menolong tegaknya Sunnah Rasulullah Saw.
✅ Membela dan menolong orang-orang yang dizalimi.
✅ Memenuhi hak-hak seluruh warga negara dengan adil dan sebaik-baiknya sesuai tuntunan syariat
 
Jika penulisan buku ini saja tidak dilakukan dengan kejujuran dan keterbukaan, bagaimana rakyat dapat percaya pada pengamalan ajaran yang diklaim di dalamnya?
 

Islam tak Butuh Legitimasi Siapapun
 
Di sinilah letak kesalahan berpikir yang paling mendasar, menempelkan nama seseorang setelah kata "Islam" adalah kekeliruan yang fatal, bahkan kekacauan berpikir.
 
Islam itu sempurna karena bersumber dari Allah SWT. bukan karena perbuatan seseorang. Setiap penyimpangan perilaku seorang muslim harus dipahami sebagai kesalahan pribadi orang tersebut, bukan kekurangan ajaran Islam. Islam tidak berubah karena perbuatan manusia — manusialah yang berubah dari ajaran Islam.
 
Sumber Islam hanyalah wahyu Allah SWT., Al-Qur'an, dan As-Sunnah. Manusia hanya berkewajiban memahami dan mengamalkannya, bukan menjadikan dirinya sebagai ukuran atau nama cabang baru agama.
 
Islam tidak membutuhkan pengesahan dari figur manapun untuk membuktikan kebenarannya. Kebenaran Islam berdiri sendiri sejak 14 abad yang lalu, sebelum siapapun yang hidup saat ini lahir ke dunia. Allah SWT. telah menetapkan satu-satunya suri tauladan yang wajib diikuti:
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ 
"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21).
 
Hanya Rasulullah Saw. yang menjadi teladan. Bukan tokoh, bukan pemimpin, bukan kelompok, atau siapa-siapa pun. Mengikuti selain beliau sebagai standar utama adalah menyimpang dari petunjuk Al-Qur'an.
 

Teguh di Atas Al-Qur'an dan Sunnah
 
Menulis tentang pengamalan agama seorang pemimpin adalah hal yang mulia, asalkan didasari kebenaran. Keteladanan sejati tidak dibangun lewat tulisan yang disusun tanpa sepengetahuan, melainkan lewat perbuatan nyata yang dilihat rakyat setiap hari, keadilan bagi yang lemah, kesejahteraan bagi yang miskin, kejujuran dalam setiap kebijakan, dan kerendahan hati di hadapan Allah SWT. maupun sesama manusia.

Maka, menghadapi segala peristiwa seperti ini, sikap kita sebagai umat harus teguh dan jernih:
🔹 Tetap memegang teguh Al-Qur'an dan Sunnah sebagai satu-satunya rujukan.
🔹 Tidak terbuai dengan pencitraan berkedok agama.
🔹 Bergabung dan berpegang teguh pada kelompok yang istiqomah memperjuangkan penegakan syariat Allah SWT.
 
Buku boleh saja terbit dan beredar, namun penilaian rakyat tidak ditentukan oleh siapa yang menulis atau meluncurkannya, melainkan oleh apa yang benar-benar dilakukan pemimpin di lapangan. Sebagaimana firman Allah SWT:
وَقُلِ اعْمَلُوْا فَسَيَرَى اللّٰهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُوْلُهٗ وَالْمُؤْمِنُوْنَۗ وَسَتُرَدُّوْنَ اِلٰى عٰلِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُوْنَۚ
“Dan katakanlah: 'Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. At-Taubah: 105).
 
Islam tidak butuh dihias. Yang butuh perbaikan adalah diri kita — agar menjadi pengikut sejati Rasulullah Saw, bukan pengikut nama atau kekuasaan. Wallahu’alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar