Oleh: Safira Luthfia
Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelliegence (AI) semakin pesat dan mulai masuk ke berbagai bidang kehidupan. AI mampu membantu pekerjaan manusia dalam banyak bidang kehidupan. Akan tetapi, muncul adanya kekhawatiran mengenai perkembangan AI yang semakin sulit dikendalikan.
Sejumlah peneliti AI, seperti Geoffrey Hinton dan Yoshua Bengio memperingatkan pemerintah mengenai kemungkinan terjadinya intelligence explosion, yaitu ketika AI mampu mempercepat pengembangan AI berikutnya sehingga perkembangan kecerdasannya berlangsung sangat cepat.
Kekhawatiran tersebut pastilah bukan sesuatu yang tak beralasan. AI berpotensi memberikan manfaat besar bagi manusia, tetapi pada saat yang sama dapat digunakan untuk serangan siber, manipulasi informasi, pengembangan senjata, bahkan berbagai tindakan yang mengancam kehidupan manusia. Pada artinya, semakin canggih sebuah teknologi, semakin besar pula dampak yang dapat dihasilkan dari penggunaannya.
Akhirnya yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, bukan terletak pada seberapa canggihnya AI itu dapat berkembang. Akan tetapi terletak pada prinsip untuk apa teknologi tersebut digunakan dan berdasarkan pemikiran apa manusia menggunakannya.
Dalam pandangan Islam, manusia diberikan akal untuk memahami realitas dan menjalankan kehidupan sesuai dengan petunjuk Allah SWT. Definisi dari akal sendiri adalah proses berpikir yang terjadi melalui pengindraan terhadap realita, kemudian dikaitkan dengan informasi sebelumnya sehingga menghasilkan pemahaman terhadap realitas tersebut. Dari proses berpikir inilah manusia mampu menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Sebab itu, Islam tidak datang untuk menghambat perkembangan teknologi. Pada prinsipnya, ada perbedaan antara hadlarah dan madaniyah. Hadlarah merupakan sekumpulan mafahim atau pemahaman tentang kehidupan yang lahir dari suatu pandangan hidup. Sedangkan madaniyah merupakan bentuk-bentuk fisik yang digunakan manusia dalam kehidupannya. Sains dan teknologi pada dasarnya termasuk dalam madaniyah yang bersifat umum dan dapat dimanfaatkan oleh manusia selama tidak bertentangan dengan syariat.
Dengan demikian, AI sebagai teknologi tidak dapat langsung dianggap sebagai sesuatu yang bertentangan dengan Islam. AI hanyalah sebuah alat yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan. Persoalannya terletak pada pemikiran, tujuan, dan sistem yang mengarahkan pemanfaatannya. Teknologi yang sama dapat dimanfaatkan untuk membantu keperluan riset peneliti, akan tetapi di sisi lain dapat juga dijadikan sebagai alat untuk manipulasi informasi.
Di sinilah letak persoalan mendasar yang perlu untuk ditelisik. Ada prinsip dalam Islam bahwa kehidupan manusia tidak boleh hanya didasarkan pada manfaat, tetapi harus terikat dengan hukum syariat. Akidah Islam menjadi dasar dalam membangun pemikiran manusia, sedangkan syariat menjadi standar dalam menentukan predikat perbuatan manusia. Dengan standar tersebut, perkembangan teknologi dapat diarahkan untuk memenuhi kebutuhan manusia tanpa keluar dari ketentuan Allah SWT.
Sehingga menjadi sebuah hal yang penting dalam kehidupan kita untuk memiliki penunjuk arah dalam setiap aktivitas kegiatan, termasuk bagaimana kita seharusnya menyikapi teknologi yang semakin berkembang pesat hari ini. Sesungguhnya Islam sudah memiliki pedoman untuk mengatasi hal tersebut. Maka menjadi sebuah kebutuhan bagi kita seorang muslim untuk terus mencoba kembali pada fitrah penciptaan. Wallahu A’lam bi shawab.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar