Oleh: Tiara Lubis (Aktivis Muslimah)
Sekolah yang seharusnya menjadi tempat untuk anak untuk belajar, bertumbuh dan merasa aman. Namun kenyataannya tidak seperti diharapkan. Anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan justru bisa mengalami ejekan, penghinaan, ancaman, bahkan kekerasan dari teman sebayanya.
Berdasarkan data yang diambil dari PISA 2025 menunjukkan bahwa 24 persen siswa Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang berada di angka 20 persen. Bentuknya pun beragam, mulai dari menjadi bahan lelucon, mendapat rumor buruk, hingga mengalami perundungan di dunia maya.
Angka tersebut seharusnya menjadi alarm. Sebab, bullying bukan sekadar bercanda. Bagi korban, ejekan yang terus-menerus, penghinaan, ancaman, maupun kekerasan dapat meninggalkan luka dan membuat anak kehilangan rasa aman di lingkungan sekolah.
Ketika kasus bullying terus muncul, sering kali perhatian hanya diarahkan kepada pelaku dan korban. Pelaku dianggap nakal, sementara korban diminta berani melapor. Padahal, persoalannya tidak sesederhana itu. Anak tidak tumbuh sendirian. Ada keluarga, lingkungan masyarakat, dan sistem pendidikan yang ikut membentuk pola pikir dan perilakunya.
Dalam sistem sekuler, agama cenderung dipisahkan dari kehidupan. Akibatnya, pendidikan lebih banyak diarahkan pada pencapaian akademik dan kemampuan untuk bersaing, sementara pembentukan kepribadian berdasarkan akidah tidak menjadi fondasi utama.
Padahal, anak membutuhkan lebih dari sekadar ilmu pengetahuan. Ia membutuhkan pemahaman tentang untuk apa hidup, bagaimana memperlakukan orang lain, dan apa konsekuensi dari setiap perbuatannya.
Ketika hubungan dengan agama semakin lemah, perilaku menyakiti orang lain bisa dianggap sebagai hal biasa. Mengejek disebut bercanda, mempermalukan dianggap lucu, bahkan kekerasan bisa dianggap sebagai bagian dari pergaulan anak.
Lebih parah lagi, masyarakat dapat menjadi permisif. Ketika melihat bullying, orang memilih diam karena merasa, “Bukan urusan saya.” Selama bukan dirinya atau keluarganya yang menjadi korban, persoalan tersebut dianggap tidak perlu dicampuri. Padahal, sikap seperti inilah yang membuat bullying terus memiliki ruang untuk terjadi.
Islam memiliki pandangan yang berbeda. Sejak awal, Islam membentuk individu dengan akidah sebagai dasar kepribadian. Anak diajarkan bahwa Allah selalu mengetahui apa yang dilakukan, termasuk ketika tidak ada guru, orang tua, atau orang lain yang melihat.
Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka...” (QS. At-Tahrim: 6)
Artinya, pembentukan anak tidak cukup hanya dengan mengajarkan matematika, sains, atau keterampilan. Keluarga juga memiliki tanggung jawab menanamkan iman dan akhlak.
Islam juga tidak membentuk masyarakat yang cuek terhadap kemungkaran. Ketika seseorang melihat tindakan zalim, ia tidak boleh sekadar diam dan berpikir bahwa itu bukan urusannya. Islam juga mengatur bagaimana masyarakat menjalankan amar ma’ruf nahi munkar, yaitu saling mengingatkan dalam kebaikan dan mencegah kemungkaran. Jadi, ketika terjadi bullying, masyarakat tidak seharusnya hanya diam atau menganggapnya sebagai urusan pribadi. Lingkungan sekitar perlu ikut peduli, menegur, dan mencegah agar tindakan tersebut tidak terus berulang.
Negara harus memastikan pendidikan benar-benar membentuk generasi yang memiliki kepribadian baik, bukan hanya mengejar nilai dan prestasi. Sistem pendidikan harus membangun ketakwaan, akhlak, dan kepedulian sosial sejak dini.
Di sisi lain, pelaku juga harus mendapatkan penanganan dan sanksi yang tepat sesuai kondisi dan ketentuan hukum yang berlaku. Dalam perspektif Islam, sanksi bukan sekadar untuk menghukum, tetapi juga menjadi pencegah agar perbuatan tidak berulang dan memberikan perlindungan kepada masyarakat.
Karena itu, penyelesaian bullying membutuhkan perubahan yang menyeluruh seperti individunya dibina, keluarganya diperkuat, masyarakatnya dibuat peduli, dan negaranya menjalankan pendidikan serta perlindungan berdasarkan nilai Islam. Bukan hanya menghentikan bullying, tetapi mencegah akarnya. Wallahualam Bissawwab
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar