Oleh: Lisa Agustin (Aktivis Muslimah)
Peringatan Hari Santri tahun ini mengangkat tema "Santri Menguatkan Negeri Menuju Indonesia Emas 2045". Tema ini diwujudkan dalam berbagai kegiatan, salah satunya Perkemahan Hari Santri Nasional 2026 di Balikpapan Islamic Center, Kalimantan Timur.
Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari dan dibuka pada Jumat, 16 Oktober 2026 ini melibatkan 300 santri dari 16 pondok pesantren se-Kota Balikpapan. Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Balikpapan, Masrivani, S.Ag MH, menyampaikan, "Kita ingin menunjukkan bahwa santri itu adalah orang-orang yang digembleng tangguh untuk membentuk karakter anak-anak bangsa, untuk mempersiapkan mereka sebagai generasi emas 2045." (kaltimpost.jawapost.com, 16/10/2026)
Kegiatan ini tentu positif. Namun pertanyaannya, cukupkah perkemahan dan seremoni untuk membentuk karakter dan jati diri santri sebagai pewaris ulama demi mewujudkan generasi emas?
Pekerjaan Rumah Besar Umat
Misi mewujudkan generasi Indonesia Emas 2045 tidak bisa dilihat dari keberhasilan ekonomi semata. Ia harus terintegrasi dalam seluruh aspek kehidupan. Hari ini pekerjaan rumah kita masih besar: kesenjangan pendidikan, kemiskinan, korupsi, perpecahan umat di media sosial, kerusakan lingkungan akibat karhutla, hingga krisis keteladanan di kalangan pemuda.
Ini mengingatkan kita bahwa membangun negeri tidak cukup dengan infrastruktur fisik, tetapi harus ada perubahan mendasar dalam cara pandang kehidupan.
Akar persoalannya adalah penerapan sistem kapitalisme sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan saat ini. Ketika aturan Allah disingkirkan dari politik, ekonomi, dan pendidikan, kerusakan menjadi keniscayaan.
Allah SWT berfirman: "Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi." (QS. Al-A'raf: 96). Ayat ini menegaskan bahwa keberkahan tidak akan turun jika suatu negeri diatur dengan selain aturan Islam.
Tantangan Santri Hari Ini
Di pesantren, santri dididik dengan akidah, akhlak, dan Al-Qur'an. Namun ketika keluar, ia berhadapan dengan sistem kehidupan sekuler yang liberal, ekonomi ribawi, dan sanksi hukum yang tidak sesuai syariat. Bagaimana mungkin santri bisa menguatkan negeri jika sistemnya sendiri melemahkan potensinya?
Tantangan yang lebih halus adalah pengaburan identitas santri melalui narasi moderasi beragama yang kebablasan. Pesantren yang seharusnya menjadi lumbung calon ulama dan cendekiawan peradaban seperti pada masa kejayaan Islam, justru didorong menjadi sekadar penjaga tradisi dan nasionalisme.
Akibatnya, Hari Santri diperingati tiap tahun, upacara dan perkemahan diramaikan, namun belum memberi perubahan signifikan bagi perbaikan negeri.
Meluruskan Peran: Jihad karena Allah
Kita harus kembali pada sejarah lahirnya Hari Santri. Penetapan 22 Oktober merujuk pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945. Ulama dan santri angkat senjata bukan karena nasionalisme, melainkan karena seruan jihad fi sabilillah dalam ajaran Islam untuk mempertahankan kemerdekaan tanah air dari penjajah.
Semangat inilah yang harus diluruskan. Rasulullah SAW bersabda: "Barang siapa berperang untuk membela kalimat Allah agar menjadi tinggi, maka ia di jalan Allah." (HR. Bukhari Muslim).
Santri harus memiliki mental pembelajar sekaligus pejuang. Akidah Islam menuntut perjuangan dan pengorbanan. Pesantren sejatinya adalah institusi peradaban yang tidak hanya mengajarkan ilmu agama, tetapi juga mencetak insan yang menguasai sains dan teknologi sebagaimana ulama-ulama terdahulu.
Penutup: Santri Butuh Peran Politik Islam
Mewujudkan generasi emas tidak cukup dengan santri yang rajin mengaji, hafizh Qur'an dan pekerja keras secara individual. Kuatnya negeri dimulai dari generasi mudanya, dan kekuatan pemuda berawal dari kekuatan pemikiran yang berasaskan akidah Islam yang kokoh.
Generasi emas hanya akan terwujud jika syariat Islam diterapkan secara kaffah. Allah berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman, masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan." (QS. Al-Baqarah: 208).
Penerapan syariat Islam secara kaffah membutuhkan institusi pelaksananya, yakni Khilafah Islamiyah, sistem pemerintahan yang diwariskan Rasulullah SAW. Di dalam naungannya, pendidikan, ekonomi, hukum, dan sosial diatur dengan Islam sehingga keberkahan negeri dapat dirasakan.
Di sinilah peran strategis santri yang harus disadari. Bukan hanya untuk mengisi kemerdekaan sebagai pekerja atau pengusaha sukses, tetapi memimpin dakwah politik Islam untuk membangun kesadaran kolektif bahwa Islam adalah satu-satunya sistem kehidupan yang mampu menyelesaikan segala persoalan manusia hari ini.
Wallahu a'lam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar