Ledakan AI, antara Harapan dan Kekhawatiran di Era Digital


Oleh: Ummu Faruqq

Kekhawatiran akan kecanggihan AI mulai menghantui dunia, bahkan Bapak AI dunia sampai menerbitkan riset yang isinya mewanti-wanti pemerintah untuk bersiap menghadapi "Ledakan Kecerdasan AI". Kekhawatiran akan AI bukanlah tanpa sebab, mengingat perkembangan AI yang begitu pesat dan mampu menggantikan banyak aplikasi, software, bahkan peran manusia. Cepatnya perkembangan AI memunculkan banyak sekali kekhawatiran, diantaranya ancaman biologis dan siber, ketergantungan manusia akan teknologi, kemampuan berpikir kritis, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, bahkan ancaman perang antarnegara. 

Perkembangan teknologi AI dapat memberikan kemudahan sekaligus bahaya bagi manusia. Saat ini AI dinilai sangat memudahkan hidup manusia, diantaranya dalam bidang medis, pendidikan, teknologi, kesehatan, dan lainnya. Namun, ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada rusaknya kehidupan manusia. Perkembangan AI sangat mungkin digunakan untuk kejahatan, mengingat AI memiliki kemampuan untuk menghasilkan konten palsu yang sangat realitas sehingga bisa menampilkan seseorang dalam situasi yang sebenarnya tidak terjadi. Berbagai modus penipuan berbasis AI mengalami peningkatan, mengingat AI bisa menghasilkan kloning suara, wajah palsu, dan berbagai kecanggihan lainnya yang dimanfaatkan untuk kejahatan. Berdasarkan data OJK, hingga akhir Juni 2026 terdapat 1.379 laporan penipuan yang terindikasi memanfaatkan AI. Menurut Roman Yampolskiy, pakar keselamatan AI, "AI tidak seperti hacker manusia, jutaan agen AI dapat mengooridinasikan serangan secara serentak, 24 jam nonstop", yang mana jika AI hilang kendali maka dapat digunakan untuk mencuri uang, meretas identitas, memanipulasi pasar keuangan, serta mengganggu sistem kelitrikan dan komunikasi.

Allah menciptakan manusia dengan penciptaan terbaik, salah satunya adalah dengan Allah menganugerahkan akal kepada manusia. Penciptaan akal pada manusia bukanlah tanpa tujuan, dengan akal inilah manusia bisa memahami tanda-tanda kekuasaan Allah, menjaga dan memakmurkan bumi sesuai tujuan penciptaan manusia, menuntaskan permasalahan hidup dengan standar hukum-hukum Allah, dan menjadikan halal haram sebagai tolok ukur perbuatan. Ketergantungan manusia pada AI membuat manusia manja dan tidak memaksimalkan akalnya.


Hadarah dan Madaniyah

Islam menetapkan hukum yang tegas atas segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadarah (dipengaruhi ideologi) dan madaniyah (netral). Hadarah merupakan kumpulan pandangan hidup, nilai, dan pemikiran yang menjadi dasar peradaban, dalam hal ini haram hukumnya kita sebagai seorang muslim untuk mengambil atau mengadopsi hadarah yang bertentangan dengan akidah dan syariat Islam. Sedangkan madaniyah merupakan produk atau bentuk materi yang dihasilak dari kemajuan suatu masyarakat, bisa berupa beda atau sarana yang kita gunakan dalam kehidupan, contohnya hp, komputer, mobil, internet, dan lainnya. Sehingga untuk madaniyah, kita sebagai muslim dihalalkan untuk mengadopsinya.

Lalu bagaimana dengan AI? Apakah kita sebagai muslim boleh mengadopsinya? AI merupakan perkembangan teknologi buatan manusia, namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran, dan ideologi yang diproses menjadi suatu keputusan. Penggunaan AI tidak dapat dilakukan dengan kosong tanpa ilmu, AI ditangan manusia yang memiliki akidah kokoh dan ketundukan pada syara akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Manusia dengan akidah yang kokoh akan menggunakan teknologi untuk kesejahteraan manusia dengan tetap pada koridor syara. Sebaliknya, penggunaan AI ditangan manusia kafir akan mendatangkan bahaya dan kerusakan.

Penyalahgunaan AI pada hari ini disebabkan oleh banyak faktor, diantaranya faktor yang pertama adalah faktor individu, individu yang cenderung fomo dan menjadikan materi sebagai goals utama menjadikan manusia hari ini menghalalkan segala macam cara untuk mencapai keinginannya tanpa memandang bagaimana syariat Islam memandangnya. Faktor kedua, masyarakat yang abai dan apatis sehingga tidak bisa saling amar ma'ruf nahi munkar. Faktor ketiga, kurangnya peran negara dalam mengatur penggunaan AI, negara kurang maksimal dalam riayah rakyat sekalligus minimnya sanksi bagi para pelaku penyalahgunaan ini.

Berbagai perrmasalahan tersebut dapat diatasi dengan pengaturan syariat Islam. Islam mampu menuntaskan segala masalah sampai ke akarnya. Solusi Islam yang dapat diterapkan diantaranya; membentuk individu yang bertakwa, masyarakat amar ma'ruf nahi munkar, dan penerapan syariat islam dalam seluruh aspek kehidupan. Pembentukan individu yang bertakwa selain dari faktor kesadaran individu juga butuh peran negara dalam realisasinya, seseorang yang bertakwa akan menyadari bahwa dirinya selalu diawasi oleh Allah sehingga tidak akan berani berbuat kemaksiatan. Selain itu dia bisa menempatkan penggunaan AI sesuai dengan kebutuhan dan tidak membuatnya bergantung, memanjakan akal, dan pada akhirnya terjadi kemalasan berfikir. Allah SWT berfirman;
إِنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ وَاللَّهُ بَصِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Artinya: “Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang gaib di langit dan di bumi. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Hujurat: 18)

Menciptakan masyarakat yang amar ma'ruf nahi munkar dalam kebaikan, saling mengingatkan jika mendapati kemaksiatan, bukan abai atau apatis ketika kerusakan terjadi. Allah SWT berfirman;
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Artinya: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. Ali 'Imran: 104)

Dan yang terakhir adalah peran negara dalam menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Selain itu negara seharusnya lebih aware terkait berbagai penyalahgunaan yang terjadi sekaligus memberikan sanksi yang membuat pelakunya jera.
 يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ ۚ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ
Artinya “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan (kaffah), dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.”

Sehingga dapat disimpulkan bahwa hanya dengan syariat Islamlah satu-satunya sistem yang sempurna dalam mengatur kehidupan manusia. Wallahu a'lam bish-showab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar