KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢ (آلِ عِمْرَانَ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Rasulullah Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam.
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Pesan Nabi Shallallâhu alaihi wasallam;
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik. (HR. Tirmidzi).
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Setiap 1 Mei, Hari Buruh Internasional kembali mengingatkan pada persoalan ketenagakerjaan di Indonesia yang belum terselesaikan. Data BPS per November 2025 mencatat sekitar 7,35 juta pengangguran dengan TPT 4,74%, menunjukkan masih banyak usia produktif belum mendapat pekerjaan layak. Kondisi ini memicu tekanan mental akibat ketidakpastian ekonomi dan sempitnya lapangan kerja. Bahkan yang bekerja pun belum sejahtera, seperti guru honorer dengan gaji ratusan ribu rupiah. Di sisi lain, gelombang PHK di sektor tekstil, manufaktur, hingga start-up serta konflik upah terus memperlihatkan rapuhnya kondisi perburuhan.
Masalah ini bukan sekadar teknis, tetapi bersifat sistemik. Dalam kapitalisme, negara cenderung hanya menjadi regulator yang berpihak pada pasar, sementara buruh diposisikan sebagai faktor produksi yang ditekan demi keuntungan. Akibatnya, buruh bergantung penuh pada upah untuk memenuhi seluruh kebutuhan hidup, memicu konflik antara tuntutan upah layak dan kemampuan perusahaan. Akar persoalan terletak pada lemahnya peran negara dalam menjamin kebutuhan dasar, beban hidup yang dialihkan ke individu, serta hubungan kerja yang semata-mata bersifat ekonomi tanpa landasan keadilan.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Sebagai solusi atas problem perburuhan yang terus berulang, Islam menawarkan konsep hubungan kerja yang jelas dan berkeadilan. Dalam fikih, hubungan buruhmajikan disebut akad ijârah, yaitu ‘aqd[un] ‘alaa manfa’at[in] bi ‘iwadh[in] (akad atas manfaat/jasa dengan imbalan), sebagaimana dijelaskan Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani dalam Kitab Ash-Syakhshiyyah al-Islaamiyyah Jilid II. Artinya, objek akad adalah jasa, bukan kehidupan buruh. Upah merupakan kompensasi atas manfaat yang diberikan, sehingga majikan wajib membayar sesuai kesepakatan tanpa menunda atau mengurangi hak. Rasulullah ﷺ bersabda:
أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
”Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah).
Berbeda dengan kapitalisme, Islam menempatkan negara sebagai penanggung jawab utama kesejahteraan rakyat. Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِمَامُ رَاعٍ وَهُوَ مَسْؤُوْلٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ
”Imam (kepala negara) adalah pengurus rakyat dan bertanggung jawab atas pengurusan mereka.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Karena itu, negara wajib menjamin kebutuhan pokok serta menyediakan layanan publik yang layak, sehingga beban hidup tidak sepenuhnya ditanggung individu atau buruh.
Secara praktis, Islam menetapkan berbagai mekanisme untuk mengatasi pengangguran dan membuka lapangan kerja:
Pertama, ihyaa-ul mawaat (menghidupkan lahan terlantar) berdasarkan sabda Nabi ﷺ:
مَنْ أَحْيَا أَرْضًا مَيْتَةً فَهِيَ لَهُ
“Siapa saja yang menghidupkan tanah mati (terlantar) maka tanah tersebut adalah miliknya” (HR. al-Bukhari), yang relevan dengan data ±7,8–12 juta hektar lahan terlantar yang dapat dioptimalkan.
Kedua, negara memberikan bantuan atau pinjaman modal usaha tanpa riba kepada rakyat, agar pelaku usaha kecil memiliki akses permodalan yang adil dan mampu membuka usaha serta menciptakan lapangan kerja.
Ketiga, pengelolaan sumber daya alam oleh negara sebagai milik umum ditujukan untuk kemakmuran rakyat, sehingga dapat membuka banyak lapangan kerja sekaligus menjadi sumber pendapatan negara.
Keempat, negara membuka akses laut seluas-luasnya bagi nelayan tanpa monopoli, serta melindungi mereka agar dapat mencari nafkah dengan aman dan optimal.
Kelima, pembangunan sektor riil berbasis kebutuhan masyarakat dilakukan agar tercipta lapangan kerja yang stabil dan tidak bergantung pada fluktuasi pasar global.
Keenam, negara berperan aktif menyelesaikan konflik ketenagakerjaan secara adil sekaligus menjamin tersedianya lapangan kerja, sehingga tidak boleh ada pengangguran yang dibiarkan. Dengan mekanisme ini, negara tidak boleh membiarkan pengangguran, tetapi wajib memastikan setiap individu yang mampu bekerja memiliki akses terhadap pekerjaan yang layak.
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Islam menawarkan solusi kaaffah (menyeluruh) dalam mengatur kehidupan, termasuk persoalan ketenagakerjaan, dengan menjadikan syariah sebagai landasan utama. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَاَنِ احْكُمْ بَيْنَهُمْ بِمَآ اَنْزَلَ اللّٰهُ
“Hukumilah manusia berdasarkan wahyu yang telah Allah turunkan” (QS. al-Mâidah [5]: 49).
Penerapan hukum Allah akan menghadirkan keadilan hakiki, sementara berpaling darinya justru membawa kesempitan hidup, sebagaimana firman-Nya:
وَمَنْ اَعْرَضَ عَنْ ذِكْرِيْ فَاِنَّ لَهٗ مَعِيْشَةً ضَنْكًا
”Siapa saja yang berpaling dari peringatan-Ku (al-Quran) maka bagi dia kehidupan yang sempit...” (QS. Thâhâ [20]: 124).
Islam juga menegaskan larangan segala bentuk kezaliman, termasuk dalam hubungan kerja. Allah Subhanahu wata’ala berfirman:
وَيْلٌ لِّلْمُطَفِّفِيْنَ
“Celakalah bagi orang-orang yang curang” (QS. al-Muthaffifîn [83]: 1).
Meski ayat ini terkait kecurangan dalam jual beli, para ulama menjelaskan bahwa maknanya mencakup semua bentuk pengurangan hak, termasuk upah pekerja. As-Sadi menyatakan bahwa siapa pun yang menuntut haknya wajib pula menunaikan hak orang lain dalam seluruh muamalah, termasuk dalam urusan upah dan pekerjaan.
Di sisi lain, Islam menegaskan peran negara sebagai pengurus utama urusan rakyat. Imam al-Mawardi dalam Al-Ahkaam as-Sulthaaniyyah menyatakan:
وَالإِمَامُ مَوْضُوعٌ لِخِلَافَةِ النُّبُوَّةِ فِي حِرَاسَةِ الدِّينِ وَسِيَاسَةِ الدُّنْيَا
”Imam (kepala negara) diangkat untuk menggantikan fungsi kenabian dalam menjaga agama dan mengatur urusan dunia.”
Pengaturan ini mencakup pemenuhan kebutuhan hidup rakyat, termasuk memastikan tersedianya pekerjaan dan kehidupan yang layak. Dengan demikian, penerapan syariah secara menyeluruh menjadi kunci terwujudnya keadilan dan kesejahteraan bagi seluruh masyarakat.
Islam menawarkan solusi mendasar dan menyeluruh atas segala problem kehidupan. Termasuk masalah perburuhan. Dengan penerapan syariah Islam dalam naungan institusi pemerintahan Islam (Khilafah), masalah perburuhan akan terselesaikan dengan baik, kesejahteraan rakyat akan terjamin dan keadilan benar-benar akan terwujud. Wallâhu a‘lam bish-shawâb.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar