Oleh : Nursiyah Hidayati, STP
Kembali, kasus kekerasan kepada anak mulai mencuat dan menarik perhatian publik setelah ada penggerebekan yang dilakukan oleh Polresta Yogyakarta di daycare Little Aresha (24 April 2026). Polisi menemukan faktanya mengejutkan dimana anak-anak diperlakukan sangat tidak layak. Tidur tanpa baju, hanya menggunakan popok dan tanpa alas yang layak, serta ada yang tangan dan kakinya terikat.
Dalam penggerebekan tersebut ada sekitar 53 anak dari 103 yang terdaftar terindikasi menjadi korban kekerasan dan penelantaran. Angka ini ternyata terus meningkat hingga sampai hari ini tercatat menjadi 93 korban.
Saat ini KPAI mendata jumlah daycare mencapai 197 ribu. Jumlah yang demikian fantastis, entah bagaimana pengawasnya yang jelas jumlah ini mencerminkan banyaknya ibu bekerja. Artinya semua bukan kemauan individu tetapi sudah menjadi sebuah sistem. Karena keberadaan daycare adalah untuk memfasilitasi para ibu pekerja.
Belum tuntas permasalahan kekerasan terhadap anak di tempat penitipan anak/daycare, masyarakat disuguhi fakta yang tak kalah menyedihkan, yaitu kecelakaan KRL di Bekasi Timur. Dimana kereta cepat Argo Bromo Anggrek menabrak KRL yang sedang berhenti tanpa bisa dihindari. Gerbong tertabrak adalah gerbong khusus wanita. Mereka rata-rata adalah para ibu dan pekerja di wilayah Jakarta. Tercatat 16 korban meninggal terdiri dari berbagai profesi, dari nakes, guru, karyawati hingga mahasiswa.
Dilema Perempuan Bekerja
Sungguh tidak ada seorang ibupun ingin menitipkan anaknya. Fitrah seorang ibu ingin selalu menjaga dan memastikan perkembangan anaknya berjalan dengan baik. Memeluk dan melindungi buah hati hingga ia tumbuh sehat dan kuat menjadi impian setiap ibu. Namun seringkali hal itu tidak bisa dilakukan sepenuhnya. Kehidupan yang keras seolah memaksa seorang ibu harus keluar rumah untuk bekerja dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup. Sehingga mau tidak mau perempuan akan mencari solusi agar ia tetap bisa bekerja dan anaknya ada yang menjaganya. Daycare menjadi salah satu pilihannya.
Harapannya menitipkan anak di daycare, anak akan terjaga dengan aman, mengalami tumbuh kembang maksimal, terstimulasi secara sosial dan target perkembangan lainnya. Namun harapan tinggal harapan. Yang ada justru luka fisik dan bahkan mental psikologis. Membuat para orang tua terutama perempuan menjadi kecewa.
Di satu sisi, selain harus meninggalkan anaknya ketika bekerja, kenyataannya keamanan bagi perempuan tidak sepenuhnya terjamin. Potret perempuan yang berjuang setiap hari, berangkat pagi dan pulang malam, berdesakan di kereta atau sarana transportasi lainnya menjadi rutinitas para perempuan pekerja di kota-kota besar. Kasus kecelakaan KRL menunjukkan hal itu. Dimana sebagian perempuan harus terhenti langkahnya untuk berjuang.
Perempuan dalam Arus Kapitalisme
Peran perempuan mulai bergeser dari peran domestik menuju peran publik. Sistem kapitalisme yang berlaku saat ini memandang bahwa perempuan disebut berdaya jika berkontribusi secara ekonomi. Perempuan dikatakan mandiri, sukses jika punya penghasilan, berkarier/punya jabatan di tengah publik. Sehingga jika hanya menjadi ibu rumah tangga, dia hanya ibu biasa saja.
Tekanan ekonomi, jalur penafkahan yang tidak berjalan karena suami kurang atau tidak bertanggung jawab secara ekonomi, serta kondisi menjadi tulang punggung keluarga sering kali memaksa seorang perempuan harus bekerja.
Selain itu peluang kerja untuk perempuan justru terbuka lebar bagi perusahaan karena upahnya lebih murah dengan kinerja lebih teliti.
Islam Memuliakan Perempuan
Islam adalah agama rahmatan lil 'aalamiin. Sebagai agama yang sempurna, islam mengatur kedudukan perempuan yang berbeda dengan laki-laki dalam urusan rumah tangga. Tugas perempuan adalah ummu wa rabbatun bayt, ibu dan pengatur rumah tangga. Tugas utama seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sementara tugas suami adalah pemberi nafkah untuk keluarga, memberikan tempat tinggal, pakaian dan juga pangan secara layak. Tentu dalam hal pendidikan seorang ayah juga harus berperan.
Dengan kolaborasi tugas ini, maka seorang ibu akan fokus mengasuh dan mendidik anak dirumahnya. Ibu akan mencurahkan perhatian dan kasih sayangnya untuk buah hati. Menjaga, mendidik mengasuh mereka hingga menjadi generasi yang berguna untuk bangsanya.
Sejarah mencatat didalam peradaban Islam selama 14 abad, terlahir generasi ulama dan ilmuwan dibawah asuhan seorang ibu.
Tentu semua tak lepas dari peran sistem yang menaunginya. Islam menyediakan lapangan pekerjaan bagi setiap laki-laki agar mereka mampu menafkahi orang-orang yang menjadi tanggungannya. Sementara perempuan boleh bekerja di ruang publik dengan jaminan keamanan tanpa meninggalkan tugas utamanya.
Semua itu hanya bisa terwujud di dalam sebuah sistem yang diwahyukan Allah, yaitu sistem Islam yang memberi rahmat bagi seluruh alam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar