Ingin Gaya Malah Terpedaya, Sistem Kapitalisme Sumber Bencana


Oleh: Imas Royani, S.Pd.

Sulitnya beban hidup di sistem Kapitalisme, apalagi yang dialami oleh Gen Z. Niat hati ingin menghilangkan stres dan mencari sekedar hiburan sejenak, tapi rayuan iklan dan lingkungan begitu besar hingga akhirnya terjebak dalam fenomena doom spending. Doom spending adalah kecenderungan berbelanja impulsif secara berlebihan sebagai pelarian dari tekanan psikologis seperti stres dan kecemasan.

Sudahlah hidup sulit bikin stres, cara mengatasinya malah dengan doom spending akibatnya malah makin stres. Bagaimana tidak, ketika merasa stres sebab beban hidup yang begitu sulit tersebab pengeluaran yang tidak sesuai dengan pemasukan malah diberi resep doom spending yang malah membuat pengeluaran semakin membengkak. Apalagi apa yang dibeli belum tentu benar-benar dibutuhkan, akibatnya malah berakhir dengan penyesalan. Apa daya nasi sudah menjadi bubur. Uang yang susah payah didapat, bahkan harus bersabar menunggu hingga gajian tiba raib seketika karena belanja yang tak terasa. Tak terasa manfaatnya karena memang tidak terlalu perlu, tak terasa habisnya karena keasyikan belanja. Baru tersadar ketika dompet terkuras habis atau tak ada saldo di rekening. Masih mending yang gajian, kalau yang masih nganggur?

Menurut Indonesia Gen Z Report yang dirilis oleh IDN Research Institute, rata-rata pendapatan bulanan Gen Z di Indonesia berada di bawah Rp2,5 juta. Itu yang bekerja. Data BPS (Mei 2025) menunjukkan tingkat pengangguran Gen Z mencapai 16%. Selain itu, data Sakernas (Survei Angkatan Kerja Nasional) per Februari 2025 mencatat, jumlah pengangguran di Indonesia sebanyak 7,28 juta orang. Angka tersebut setara dengan 4,76% dari total angkatan kerja.

Angka ini menegaskan betapa seriusnya krisis ekonomi yang dihadapi generasi muda. Kondisi tersebut tidak sekadar persoalan statistik, melainkan cerminan dari sistem yang gagal menjamin kesejahteraan. Fakta ini menjadi bukti tidak terbantahkan bahwa sistem kapitalisme telah menciptakan kesenjangan ekonomi, sehingga melahirkan masalah ekonomi yang berpengaruh pada kesehatan mental dan keuangan generasi muda.

Banyak generasi muda terjebak dalam lingkaran hedonisme konsumtif yang dijajakan oleh ideologi kapitalisme. Makin boros konsumsi, makin besar keuntungan pemilik modal. Pada akhirnya, perputaran uang hanya terkonsentrasi di kalangan kapitalis, sementara masyarakat luas justru menjadi korban dari sistem yang menormalisasi gaya hidup konsumtif sebagai bagian dari ideologi kapitalisme. Inilah sebabnya, negara semestinya mengambil peran sentral dalam menjamin kesejahteraan rakyat, bukan sekadar regulator dan fasilitator bagi rakyat.

Berbeda dengan sistem Islam. Islam memiliki solusi mendasar melalui politik ekonomi Islam, yakni kebijakan yang menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok setiap individu serta membuka peluang untuk memenuhi kebutuhan tambahan sesuai kapasitas masing-masing. Orientasi utama Islam adalah pemenuhan kebutuhan individu, bukan semata kebutuhan kolektif, sehingga distribusi menjadi aspek kunci agar setiap orang memperoleh jaminan hidup yang layak.

Politik ekonomi Islam tidak hanya bertujuan meningkatkan taraf kehidupan negara, tetapi juga memastikan setiap individu dapat menikmatinya. Ia tidak sekadar mengupayakan kemakmuran dengan membiarkan manusia bebas mencapainya tanpa memperhatikan hak hidup orang lain. Politik ekonomi Islam hadir sebagai solusi fundamental, yaitu menjamin kebutuhan dasar setiap individu, memberi peluang meningkatkan taraf hidup, dan mengarahkan kemakmuran sesuai nilai Islam. Dengan demikian, politik ekonomi Islam memiliki karakter berbeda dari sistem ekonomi lainnya. (Syekh Taqiyuddin an-Nabhani, Nizham al-Iqtishadiy fi al-Islam, hlm.113).

Dalam perspektif Islam, negara memikul tanggung jawab utama untuk memastikan terpenuhinya kebutuhan dasar setiap warga, meliputi pangan, sandang, papan, kesehatan, dan pendidikan. Negara berfungsi sebagai raa’in (pengurus) yang berkewajiban mengupayakan kesejahteraan rakyat. Dalam sistem Islam kaffah, tidak akan terjadi fenomena doom spending sebagaimana dalam kapitalisme. 

Dalam Islam, mencari nafkah adalah kewajiban yang harus ditunaikan oleh penanggung nafkah, yaitu kaum laki-laki yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan dasar untuk anggota keluarga, bukan untuk berfoya-foya atau sekadar bersenang-senang membelanjakan harta untuk sesuatu yang sifatnya tidak urgen dan penting. 

Negara yang menerapkan sistem Islam akan membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya bagi kaum laki-laki sebagai penanggung nafkah. Dalam Islam, perempuan bukan penanggung nafkah dan tidak ada kewajiban bagi mereka mencari nafkah atau menjadi tulang punggung keluarga.

Untuk itu negara akan membangun industri strategis, semisal industri alat-alat berat, kilang minyak, pengelolaan tambang, alutsista, maupun sektor pertanian sehingga dapat menyerap tenaga kerja dalam jumlah yang sangat besar. Negara juga akan memberikan keterampilan tertentu agar setiap laki-laki dapat bekerja sesuai kemampuan mereka. Negara dapat memberikan insentif atau modal usaha bagi pencari nafkah.

Selain itu, negara akan memenuhi layanan pendidikan dan kesehatan secara gratis bagi seluruh individu rakyat. Negara juga akan memudahkan akses dalam pemenuhan kebutuhan sandang, pangan, dan papan, semisal harga beli rumah terjangkau, bahan pokok murah, dan kebutuhan asasi lainnya agar mudah didapatkan.

Dengan diterapkannya sistem Islam secara otomatis akan membentuk ketakwaan personal dan komunal yang terealisasi dari pembinaan peserta didik melalui kurikulum pendidikan berbasis akidah Islam serta pembinaan kolektif masyarakat melalui edukasi negara melalui pembiasaan majelis ilmu dan amar makruf nahi mungkar. Dengan begitu, orientasi hidup manusia tidak hanya melihat aspek materi semata, tetapi ibadah dan wujud ketaatan kepada Allah SWT. Dengan begitu, tidak akan ada fenomena doom spending di kalangan muda maupun tua.

Jelas, fenomena doom spending hanya bisa ditiadakan dengan meniadakan sistem Kapitalisme, untuk kemudian diterapkan sistem Islam di seluruh aspek kehidupan. Langkah pertama yang harus dilakukan adalah dengan mengkaji Islam kaffah bersama kelompok dakwah Islam ideologis dan mendakwahkannya di tengah-tengah masyarakat agar semakin banyak yang tercerahkan.

Wallahu'alam bishshawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar