Oleh : Nikmatus Sa’adah
Peristiwa memprihatinkan kembali terjadi di dunia Pendidikan. Kasus ini dialami oleh ibu guru Syamsiyah, pengajar mata Pelajaran PPKn di SMAN 1 Purwakarta. Sebuah rekaman video yang viral, yaitu sejumlah siswa yang menunjukkan aksi tidak pantas kepada seorang guru. Para siswa tersebut terlihat mengacungkan jari tengah kepada ibu Syamsiyah. Aksi ini menuai kecaman keras dari netizen yang dinilai tidak pantas dan menunjukkan krisis etika yang serius ditengah-tengah pelajar.
Tindakan yang dilakukan sekolah oleh para siswa ini, adalah memanggil para orang tua pelaku dan menetapkan skorsing selama 19 hari. Namun, gubernur jawa barat, Dedi Mulyadi menilai sanksi tersebut belum menjadi solusi terbaik dalam membentuk karakter siswa. Ia mengusulkan bentuk hukuman yang lebih edukatif & berdampak langsung pada perubahan perilaku. Menurut Dedi, hukuman seperti aktivitas sosial dan tanggung jawab akan lebih efektif dalam menanamkan nilai disiplin dan rasa hormat kepada guru, contohnya dihukum dengan membersihkan halaman sekolah, menyapu sekolah, membersihkan toilet sekolah. Hukuman ini juga dilakukan dengan durasi yang panjang, bisa 1 atau 2 bulan, tergantung perkembangan siswa.
Kasus seperti ini sesungguhnya bukan yang pertama, berkali-kali terulang aksi siswa yang tidak hormat terhadap gurunya. Tidak jarang juga yang melakukan tindakan serupa untuk konten yang lebih mentingkan viralitas daripada menjaga martabat gurunya.
Kejadian ini juga menunjukkan bahwa posisi guru hari ini dinilai tidak memiliki wibawa di mata siswa. Mengapa kejadian seoerti ini terus terulang? Apakah karena sanksi sekolah yang tidakmemberi efek jera atau memang sistem pendidikan yang selama ini diterapkan adan kesalahan?
Pelecehan terhadap guru sesungguhnya adalah krisis moral akibat buah dari sistem pendidikan sekuler dan liberal yang mengabaikan adab kepada guru. Sistem Pendidikan sekuler hari ini mencetak pelajar yang hanya menilai sesuatu baik atau buruk berdasarkan manfaat materi. Penekanan adab dan pembentukan kepribadian Islam tidak dilaksanakan pada sistem sekarang.
Dalam Islam, kurikulum pembelajaran harus dibangun berlandaskan akidah Islam. Hasil dari kurikulum ini akan mencetak siswa yang memiliki kepribadian Islam, yaitu memiliki pola pikir dan pola sikap yang sesuai dengan syariat Islam. Selain itu, peran negara juga besar, contohnya negara akan menyaring konten digital yang akan merusak moral, seprti konten pelecehan, pembangkangan, atau kekerasan di tengah-tengah pelajar. Posisi guru juga di tempatkan sebagai sosok mulia yang mendapatkan penghargaan tertinggi, penhidupan yang layak dari negara, sehingga wibawa mereka terjaga di mata murid dan masyarakat. Begitulah mulianya sistem Islam yang seharusnya diterapkan secara keseluruhan dalam kehidupan, yang akan menjadi Solusi tuntas bagi seluruh persoalan kehidupan manusia. Wallahu ‘alam.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar