Oleh : Evi Faouziah S.Pd (Praktisi Pendidikan dan Aktivis Dakwah)
Puluhan orang menggelar aksi demonstrasi di Rotterdam, Belanda, dalam rangka memperingati Hari Tahanan Palestina. Aksi itu juga menjadi bentuk protes terhadap rencana undang-undang baru Israel yang mengatur hukuman mati bagi pelaku serangan mematikan yang diadili pengadilan militer. (cnnindonesia.com,19-04-2026).
Tanggal 17 April bukan sekadar penanda waktu, tetapi jeritan panjang tentang luka yang tak kunjung sembuh. Hari Tahanan Palestina menghadirkan potret kelam yaitu ribuan manusia dirampas kebebasannya, dipenjara tanpa keadilan, dan hidup dalam kondisi yang merendahkan martabat kemanusiaan. Di balik dinding-dinding penjara itu, ada tubuh yang disiksa, ada jiwa yang dilukai, dan ada nyawa yang perlahan dipadamkan.
Lebih dari satu juta warga Palestina pernah merasakan dinginnya sel tahanan sejak 1967. Angka itu bukan statistik biasa ia adalah bukti sistematisnya penindasan. Dunia melihat, dunia tahu, tetapi dunia seakan memilih diam.
Allah SWT telah mengingatkan: "Dan janganlah sekali-kali kamu mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang zalim..." (QS. Ibrahim: 42). Ayat ini menjadi pengingat bahwa kezaliman tidak akan abadi, meski hari ini tampak begitu kuat dan tak tersentuh.
Imperialisme dan Standar Ganda Kemanusiaan
Realitas Palestina tidak berdiri sendiri. Ia adalah bagian dari pusaran kepentingan global yang lebih besar. Penindasan yang terus berlangsung menunjukkan adanya dukungan politik dan kekuatan dari sistem internasional yang tidak netral. Ketika hukum internasional gagal melindungi yang lemah, maka tampak jelas bahwa keadilan seringkali tunduk pada kepentingan.
Narasi Hak Asasi Manusia yang sering digaungkan justru kehilangan maknanya ketika dihadapkan pada Palestina. Di satu sisi, pelanggaran di tempat lain cepat mendapat sorotan dan tindakan. Namun di Palestina, penderitaan panjang seolah menjadi hal yang “biasa”.
Rasulullah ï·º bersabda: "Sesungguhnya manusia jika melihat kemungkaran lalu tidak mengubahnya, hampir saja Allah menimpakan azab kepada mereka semua." (HR. Abu Dawud). Hadis ini bukan sekadar seruan emosional, tetapi panggilan moral untuk tidak bersikap apatis terhadap kezaliman.
Kesadaran Umat dan Jalan Perjuangan Hakiki
Persoalan Palestina bukan hanya isu geopolitik atau kemanusiaan semata, tetapi juga menyentuh dimensi keimanan bagi umat Islam. Kepedulian terhadapnya menuntut lebih dari sekadar simpati ia membutuhkan kesadaran, doa, dukungan kemanusiaan, dan upaya nyata dalam jalur yang bijak dan bertanggung jawab.
Perjuangan tidak selalu identik dengan kekerasan. Dalam banyak situasi, kekuatan terbesar justru lahir dari persatuan, keteguhan prinsip, serta usaha yang konsisten dalam membangun kesadaran global dan solidaritas kemanusiaan. Pendidikan, advokasi, bantuan kemanusiaan, dan diplomasi yang adil tetap menjadi jalan penting yang tidak boleh diabaikan.
Allah SWT berfirman: "Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan." (QS. Al-Ma’idah: 2) Ayat ini menegaskan bahwa setiap langkah perjuangan harus tetap berada dalam koridor kebaikan dan ketakwaan.
Palestina bukan sekadar berita. Ia adalah amanah sejarah, ujian kemanusiaan, dan cermin bagi dunia: apakah kita masih memiliki nurani, atau justru telah kehilangan rasa peduli di tengah hiruk-pikuk kepentingan.
Palestina tidak membutuhkan simpati yang cepat padam, tetapi keberpihakan yang sadar, konsisten, dan berani mengambil peran. Diam adalah bentuk lain dari pembiaran, dan pembiaran hanya akan memperpanjang umur kezaliman. Maka sudah saatnya nurani tidak lagi ditunda, suara tidak lagi dibungkam, dan kepedulian tidak berhenti pada kata hingga keadilan benar-benar ditegakkan dan kemanusiaan kembali dimuliakan.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar