Oleh : Fajarrahman (Mahasiswa UIN Antasari Jurusan Bimbingan dan Penyuluhan Islam)
Dikutip dari kumparan.com, "Gaya hidup yang berlebihan dalam berbelanja dapat memperbanyak limbah dan merusak lingkungan karena cara-cara produksi yang tidak bertanggung jawab dan mengeksploitasi. " Terdapat juga kemungkinan bertambahnya emisi gas rumah kaca dari proses produksi. Tanpa kita sadari efeknya, tindakan konsumtif kita secara tidak langsung telah menyebabkan kerusakan pada planet kita, dimulai dari eksploitasi untuk memenuhi kebutuhan produksi.
Pola hidup yang konsumtif juga berkontribusi pada peningkatan besar-besaran jumlah sampah. Barang yang dibeli secara berlebihan biasanya lebih cepat menjadi tidak terpakai dan akhirnya menjadi limbah. Khususnya, plastik yang sulit terurai dan mencemari tanah, air, dan bahkan udara. Sampah ini bisa mencemari sumber air minum, dan jika dibakar juga dapat menurunkan kualitas udara, yang berdampak negatif bagi kesehatan manusia.
Pada tahun 2022, penelitian menunjukkan bahwa pembelian secara daring menghasilkan limbah kemasan sebanyak 4,8 kali lebih banyak dibandingkan dengan pembelian secara fisik dengan total pengeluaran yang setara. (djkn.kemenkeu.go.id), Oleh karena itu, diperlukan peraturan baru untuk menghindari kerusakan lingkungan yang lebih parah akibat limbah kemasan dari belanja daring.
Seiring bertambahnya perkembangan teknologi di Indonesia, banyak orang mulai melakukan pembelian secara online. Tentu saja, hal ini memengaruhi pengelolaan limbah, khususnya limbah plastik yang banyak digunakan dalam kemasan belanja daring yang sebagian besar memakai bubble wrap. Di berbagai wilayah di Indonesia, kemasan menyumbang limbah plastik yang lebih signifikan dibandingkan dengan limbah jenis lainnya.
Isu mengenai limbah berkaitan dengan tujuan Sustainable Development Goals (SDGs), terutama pada tujuan ke-11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan), tujuan ke-12 (Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab), serta tujuan ke-14 (Ekosistem Lautan). Manajemen limbah yang efektif dan berkelanjutan sangat penting untuk mempertahankan keseimbangan ekosistem.
Selain itu, untuk mencapai tujuan SDGs, penting untuk mengambil tindakan nyata dalam mengatasi masalah limbah, antara lain:
1. Pendidikan mengenai lingkungan, yaitu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya pengelolaan limbah dan pengaruhnya terhadap lingkungan.
2. Daur ulang dan pemisahan limbah, yaitu mendorong penerapan sistem daur ulang yang lebih efisien dan memisahkan limbah organik dari anorganik di lokasi penghasilannya.
3. Pengurangan pemakaian plastik, yaitu dengan menurunkan ketergantungan pada plastik sekali pakai dan beralih ke bahan alternatif yang lebih ramah lingkungan.
4. Inovasi dalam pengelolaan limbah, yaitu dengan meningkatkan investasi dalam teknologi pengelolaan limbah, termasuk penciptaan energi dari limbah dan metode daur ulang yang lebih efektif.
sumber :
https://www.lead.co.id/kesadaran-lingkungan-semakin-penting-di-era-konsumerisme-saat-ini/
https://m.kumparan.com/farrel-anandra-nathaniel/konsumerisme-tantangan-utama-masa-depan-berkelanjutan-24GLHu44bae
https://pkp.pasca.ugm.ac.id/2024/09/30/semakin-mendesak-isu-sampah-kembali-menjadi-sorotan/
https://www.djkn.kemenkeu.go.id/kanwil-sulseltrabar/baca-artikel/17636/Gemar-Belanja-Online-Di-Makassar-Dan-Dominasi-Sampah-Plastik.html
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar