Lebaran di Tengah Banyaknya Keluarga yang Terlilit Utang, Sistem Islam Solusinya


Oleh : Ummu Hanif Haidar

Momentum Ramadan dan Idul fitri sejatinya menjadi waktu yang penuh keberkahan, kebahagiaan, dan ketenangan bagi umat Islam. Namun, realitas yang terjadi di tengah masyarakat hari ini justru menunjukkan ironi. Alih-alih merayakan hari kemenangan dengan hati lapang, tidak sedikit keluarga yang harus menghadapi tekanan ekonomi akibat lilitan utang. Fenomena ini bahkan cenderung meningkat setiap tahunnya. Sebagaimana diberitakan Antaranews, "periode Ramadhan hingga menjelang Lebaran menjadi momentum peningkatan penyaluran pembiayaan, seiring meningkatnya kebutuhan masyarakat". Fakta ini menunjukkan bahwa kebutuhan saat Lebaran kerap ditopang oleh utang.

Kenaikan utang keluarga tidak terjadi tanpa sebab. Meningkatnya harga kebutuhan pokok, ongkos transportasi saat mudik, serta tekanan ekonomi global turut memperberat kondisi keuangan masyarakat. Di sisi lain, tuntutan sosial untuk memenuhi standar perayaan Lebaran—seperti membeli pakaian baru, menyediakan hidangan istimewa, hingga tradisi berbagi—menambah beban tersendiri. Bahkan, fenomena ini terus berulang. Sebuah laporan menyebutkan, peningkatan penggunaan pinjaman online (pinjol) di Indonesia hampir selalu berulang setiap tahun menjelang Lebaran. (Times Indonesia)

Sayangnya, kemudahan akses terhadap pinjaman di era digital justru memperparah keadaan. Layanan pinjaman online yang menawarkan proses cepat tanpa jaminan membuat masyarakat semakin mudah terjerat utang, bahkan dengan bunga tinggi yang bersifat ribawi. Tidak sedikit pinjaman tersebut digunakan untuk kebutuhan konsumtif. Sebagaimana diungkapkan dalam kajian keuangan, sebagian besar pinjol digunakan untuk kebutuhan konsumtif… sehingga berpotensi menimbulkan masalah keuangan di kemudian hari. (infobanknews)

Akibatnya, setelah Lebaran berlalu, banyak keluarga harus menghadapi beban cicilan yang menumpuk. Fenomena ini tidak bisa dilepaskan dari sistem ekonomi kapitalisme yang mendominasi saat ini. Dalam sistem ini, pertumbuhan ekonomi sering kali bertumpu pada konsumsi dan utang. Negara cenderung berperan sebagai regulator yang memfasilitasi aktivitas ekonomi, termasuk industri pembiayaan berbasis utang, alih-alih benar-benar menjamin kesejahteraan rakyat. Akibatnya, distribusi kekayaan tidak merata dan kesenjangan ekonomi semakin melebar. Masyarakat kecil menjadi pihak yang paling terdampak, karena harus bertahan hidup di tengah tekanan ekonomi yang terus meningkat.

Islam menawarkan solusi yang berbeda dan menyeluruh dalam mengatasi persoalan ini. Dalam sistem ekonomi Islam, kesejahteraan rakyat menjadi tanggung jawab negara. Negara tidak hanya berperan sebagai pengatur, tetapi juga sebagai pengurus (raa’in) yang memastikan setiap individu terpenuhi kebutuhan dasarnya. Sistem ini menekankan distribusi kekayaan yang adil, sehingga tidak hanya berputar di kalangan pemilik modal.

Selain itu, Islam secara tegas melarang praktik riba dalam segala bentuknya, termasuk dalam sistem utang berbunga. Allah SWT berfirman: "Dan Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba..." (QS. Al-Baqarah: 275)

Dalam ayat lain Allah juga berfirman: "Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang beriman. Jika kamu tidak melaksanakannya, maka umumkanlah perang dari Allah dan Rasul-Nya..." (QS. Al-Baqarah: 278–279)

Di sisi lain, Allah SWT juga menegaskan tujuan utama Ramadan, yaitu membentuk ketakwaan. Sebagaimana firman-Nya: "Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." (QS. Al-Baqarah: 183)

Teladan terbaik dalam menyambut dan menjalani Ramadan tampak pada kehidupan Rasulullah ï·º dan para sahabat. Mereka merayakan Ramadan dan Idulfitri dengan penuh kesederhanaan, tanpa berlebih-lebihan. Rasulullah ï·º sering berbuka hanya dengan kurma dan air, bahkan dalam kondisi sangat sederhana. Para sahabat pun meneladani hal tersebut dengan lebih mengutamakan ibadah, sedekah, dan kepedulian terhadap sesama dibanding kemewahan materi.

Sebagai gantinya, Islam mendorong mekanisme ekonomi yang sehat, seperti perdagangan yang adil, zakat, infak, dan sedekah sebagai instrumen distribusi kekayaan. Negara dalam sistem Islam juga berkewajiban menyediakan lapangan kerja yang layak bagi masyarakat, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidup tanpa harus bergantung pada utang. Selain itu, negara menjaga stabilitas harga dan nilai mata uang, sehingga daya beli masyarakat tetap terjaga.

Lebih dari itu, Islam mengembalikan makna Ramadan dan Idulfitri sebagai momentum peningkatan ketakwaan, bukan ajang konsumtif yang berlebihan. Dalam suasana masyarakat yang sejahtera dan sistem yang mendukung, perayaan Lebaran akan kembali pada esensinya: kesederhanaan, kebersamaan, dan rasa syukur.

Dengan demikian, persoalan utang yang membelit keluarga saat Lebaran bukan sekadar masalah individu, melainkan akibat dari sistem yang tidak berpihak pada kesejahteraan rakyat. Oleh karena itu, solusi yang dibutuhkan pun bukan parsial, melainkan menyeluruh. Sistem ekonomi Islam, yang terintegrasi dengan sistem politik Islam, menawarkan jalan keluar yang mampu mewujudkan kesejahteraan hakiki bagi seluruh masyarakat.

Wallahua'lam bisshowab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar