Kenapa Harga Pangan Pokok Naik Saat Ramadan? Bagaimana Solusinya?


Oleh: Nurmalasari (Aktivis Muslimah Purwakarta)

Bulan suci Ramadan seharunya menjadi bulan yang penuh momen berkah, bukan beban. Akan tetapi kenaikan bahan pokok menjelang Rqamadan menjadi tradisi yang tidak bisa dihilangkan. Sebagaimana telah diperingatkan oleh Badan Pusat Statistik (BPS), akan terjadinya kenaikan harga sejumlah komoditas pangan menjelang bulan Ramadan 2025. Komoditas yang menjadi perhatian utama seperti telur ayam ras, cabai merah, daging ayam ras, minyak goreng, dan cabai rawit diprediksi akan mengalami lonjakan harga (rubicnews.com, 07-02-2025).

Seperti di pasar Pamanukan, Subang, harga daging ayam potong kini mencapai Rp45.000 per kilogram, naik Rp12.000 dari harga sebelumnya Rp33.000. Sementara itu, cabai rawit merah mengalami kenaikan paling ekstrem, menembus angka Rp110.000 per kilogram dari sebelumnya Rp70.000. Selain daging ayam dan cabai, sejumlah komoditas sayuran juga mengalami kenaikan harga yang signifikan. Tomat naik dari Rp10.000 menjadi Rp16.000 per kilogram, sedangkan timun merangkak naik dari Rp10.000 ke Rp13.000 per kilogram. (Acehgroup.com, 18-02-2025)

Dalam sistem ekonomi kapitalisme yang kita anut saat ini, kenaikan harga menjelang Ramadan sering kali dianggap sebagai sesuatu yang “wajar.” Alasannya, kenaikan dipicu meningkatnya permintaan dan pasokan juga mengalami penurunan. Namun, benarkah hanya faktor itu yang berperan? 


Sistem Ekonomi Kapitalisme 

Terus berulangnya kenaikan harga pangan setiap tahun, seharunya sudah menjadikan evaluasi dan diantisipasi negara mengapa kejadian ini terus berulang. Jika persediaan terbatas maka negara seharusnya memberikan jalan keluar untuk bisa mengurai masalah sampai ke akar-akarnya.

Inilah beberapa faktor yang memengaruhi kebutuhan pokok menjadi naik setiap tahunnya.

Pertama, penimbunan barang oleh spekulan. Sistem ekonomi kapitalisme yang berdasarkan azas materi ingin selalu meraup keuntungan yang berlipat maka tak di pungkiri para spekulan dan para penimbunan barang oleh para oligarki, yaitu para pengusaha yang mempunyai modal besar. Mereka bebas untuk menimbun barang-barang dan menjualnya ketika barang langka.

Kedua, distribusi yang tidak efisien. Kapitalime saat ini sangat mempengaruhi pendistribusian, proses yang segala sesuatu harus mengeluarkan materi dan waktu panjang. Sehingga pendistribusian memakan waktu serta pembiayaan yang tidak sedikit mengakibatkan barang dari produsen sampai ke konsumen menjadi lama, sehingga menjadikan harga melambung tinggi.

Ketiga, ketergantungan pada Impor. Bukan rahasia umum lagi bahwa negara kita telah terpengaruhi oleh sistem ekonomi kapitalisme yang mana saat ini ketergantungan kepada impor. Ekonomi kapitalisme yang melihat hanya kepada keuntungan materi semata, padahal negara kita masih bisa memasok kebutuhan masyarakat tanpa impor, tapi apalah daya kerja sama ini hanya memberikan keuntungan pada para penguasa dan para oligarki. Sehingga ketergantungan terhadap impor bahan pangan membuat harga sangat rentan terhadap fluktuasi global. Jika pasokan dari luar negeri terganggu, harga dalam negeri pun ikut melonjak.

Empat, kurangnya kontrol negara. Sistem Kapitalisme ini memposisikan negara sebagai regulator dan fasilitator saja, bukan pengurus urusan rakyat. Mekanisme pasar dibiarkan bekerja sendiri, tanpa intervensi yang efektif untuk mencegah gejolak harga. Negara seharusnya bisa mengatur dalam urusan pangan rakyat, sehingga rakyat tidak merasa resah ketika bulan Ramadhan datang. Bulan istimewa yang selalu di nanti dengan segala keberkahan di dalamnya, beribadah dengan tenang dan khusu tanpa memikirkan kelonjakan bahan pangan. 


Solusi Islam 

Islam adalah agama yang paripurna, dalam sistem Islam negara memiliki peran yang lebih besar dalam memastikan stabilitas harga pangan. Adapun tahapan yang sistem Islam berikan untuk menyelesaikan harga bahan pokok yang terus meroket setiap tahunnya.

Pertama, pencegahan penimbunan dan spekulasi. Negara tidak akan segan untuk menindak para penimbun dan spekulan dengan memberikan sanksi yang berat. Sehingga menjadikan efek jera kepada para pelaku maupun masyarakat yang belum terjun ke dalam bisnis penimbunan.

Kedua, membangun ketahanan pangan. Peran negara dalam mendukung dan membangun ketahanan pangan dalam semua sektor pertanian sangat di butuhkan untuk memberikan penghasilan yang melimpah agar tidak ketergantungan terhadap impor.

Ketiga, adanya subsidi dan pengelolaan distribusi. Sistem Islam tidak hanya menyerahkan mekanisme pasar sepenuhnya kepada pelaku ekonomi, tetapi juga mewajibkan negara untuk mengawasi, mengelola, dan menjamin ketersediaan pangan dengan harga yang terjangkau.

Dalam sistem Islam wajib menjamin kebutuhan dasar rakyatnya. Jika harga pangan melonjak, maka negaralah yang akan memastikan distribusi yang lebih efisien dan memberikan subsidi untuk rakyatnya agar rakyat bisa sejahtera dan fokus beribadah di bulan yang penuh berkah ini.

Meroketnya bahan pangan menjelang Ramadhan, selalu diklam wajar untuk ajang tradisi disetiap tahunnya, Ini adalah bukti bahwa sistem ekonomi kapitalime yang negara anut telah gagal menjamin kesejahteraan rakyatnya. Sudah saatnya kita buka mata dan hati untuk bisa melihat kepada sistem yang benar, sistem yang sudah Allah SWT hadirkan dengan berpedoman Al-Qur'an dan Al-Hadis. Sistem yang menjamin kesejahteraan, keadilan, dan keberkahan bagi seluruh umat.

Wallahu a’lam.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar