KHUTBAH PERTAMA
إِنَّ الْحَمْدَ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةً تُنْجِيْ قَائِلَهَا مِنَ النَّارِ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كَبِيْرًا وَصَبِيًّا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ النَّبِيِّ الْأُمِّيِّ، الصَّادِقِ الْأَمِيْنِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ حَسُنَ إِسْلَامُهُمْ. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، أُوْصِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَصْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْن ١٠ (اَلْحُجُرَاتُ)
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Alhamdulillah, kita masih dipertemukan oleh Allah di hari mulia, hari Jumat. Di tempat yang dimuliakan, masjid. Bersama orang-orang yang insya Allah dimuliakan, orang-orang bertakwa. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan alam Nabi Besar Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Pertama dan paling utama, mari tingkatkan takwa kita kepada Allah. Taati perintah-Nya dan jauhi larangan-Nya. Ingatlah, ketakwaan menentukan derajat dan kedudukan kita di hadapan Allah, sebagaimana firman-Nya;
اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa” (QS. Al-Hujurât [49]: 13).
Allah juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Kondisi dunia Islam hari ini tidak sedang baik-baik saja. Tengoklah betapa banyak kaum Muslim di dunia saat ini. Jumlahnya hampir dua miliar manusia. Tapi pertanyaannya, mengapa banyak kaum Muslim di berbagai belahan dunia tertindas? Warga Gaza berjuang sendirian dan terus dijajah oleh Zionis Yahudi laknatullah dan didukung oleh negara kafir penjajah. Darah kaum Muslim terus tertumpah di Myanmar, Xinjiang, Kashmir hingga Sudan. Iran dibombardir oleh Amerika Serikat dan Zionis Yahudi yang haus darah.
Pernahkah kita merenungkan sejenak: mengapa dunia Islam seperti ini? Jawabnya adalah karena umat Islam saat ini tercerai-berai. Terpecah-belah. Terpisah-pisah. Oleh batas-batas semu yang sengaja dibuat oleh bangsa-bangsa kafir penjajah. Kita dipisahkan oleh negara-bangsa (nation-state) dan nasionalisme sempit, yang sengaja diciptakan oleh negara-negara kafir imperialis yang licik. Akibatnya, ketika satu negeri Muslim diserang, negeri Muslim lainnya tidak mampu membela sebagai satu kekuatan. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah menegaskan:
اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ
”Sesungguhnya kaum Mukmin itu bersaudara (QS. al-Hujurât [49]: 10).
Persaudaraan dalam Islam tentu bukan sekadar ada di kata-kata. Ia adalah ikatan akidah yang melampaui ras, bangsa dan batas negara.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Mengapa semua ini terjadi? Ini bukan karena kita jumlahnya sedikit. Tidak sama sekali! Hanya saja, kita sungguh tak berdaya. Rasulullah Shallallâhu alaihi wasallam telah memperingatkan keadaan ini jauh sebelumnya:
يُوْشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا
“Hampir saja bangsa-bangsa mengeroyok kalian sebagaimana orang-orang yang lapar berebut hidangan makanan.” Para Sahabat bertanya, “Apakah karena saat itu kami berjumlah sedikit? Beliau menjawab, Tidak. Bahkan saat itu kalian berjumlah banyak. Akan tetapi, kalian seperti buih di lautan. (HR. Abu Dawud).
Rasulullah SAW lalu menjelaskan akar penyebab ketidakberdayaan ini. Itulah penyakit al-Wahn yang telah lama menjangkiti umat ini. Al-Wahn memiliki arti:
حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Cinta dunia dan takut mati” (HR. Abu Dawud).
Ketika cinta dunia merasuk ke dalam jiwa, manusia mudah tunduk kepada sesama manusia. Ketika cinta dunia masuk ke dalam hati-sanubari, sebagian penguasa Muslim begitu mudah bersekutu dengan Amerika dan Zionis Yahudi. Padahal Allah Subhanahu wata’ala telah memperingatkan sejak dini:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu)” (QS. al-Mâidah [5]: 51).
Karena itu, kaum Muslim tentu tidak selayaknya menggantungkan harapan kepada lembaga-lembaga kafir internasional dan kekuatan Kapitalisme global. Termasuk kepada lembaga-lembaga ilegal, seperti Board of Peace (BoP) atau Dewan Perdamaian, yang jelas-jelas tak akan berlaku adil. Apalagi BoP ini dipimpin oleh Donald Trump, seorang penjahat internasional. Presiden dari sebuah negara imperialis global.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Ingat, umat Islam pernah memiliki sejarah yang membanggakan. Saat itu kita memimpin dunia dengan penuh keadilan. Kapan itu? Saat kaum Muslim sedunia memiliki kepemimpinan global yang menyatukan. Itulah khilafah Islam. Tak ada negara musuh yang berani menyakiti umat ini. Saat itu, darah kaum Muslim terpelihara. Tanah dan harta mereka benar-benar terjaga. Kehormatan mereka pun tak ada yang berani menista.
Saat Khilafah masih berjaya, ia sanggup mengerahkan ribuan tentaranya. Hanya untuk membela kehormatan seorang Muslimah. Itu terjadi di era Khalifah al-Mutashim Billah. Saat itu Muslimah tersebut ditawan dan dilecehkan oleh tentara Romawi di Amuriyah. Berita itu pun sampai ke telinga sang Khalifah. Tanpa basa-basi, juga tanpa diplomasi, Khalifah al-Mutashim Billah segera mengerahkan pasukan dalam jumlah besar untuk menyerbu Amuriyah. Akhirnya, Muslimah itu berhasil dibebaskan. Bahkan wilayah yang dikuasai Romawi itu pun sekaligus berhasil ditaklukkan. Tak kurang dari 30 ribu pasukan Romawi tewas bergelimpangan. Sebanyak 30 ribu lainnya berhasil ditawan.(Ath-Thabari, Taariikh al-Umam wa al-Muluuk, 8/631634; Ibnu Katsir, Al-Bidaayah wa an-Nihaayah, 10/325).
Pertanyaannya, adakah pemimpin yang seperti itu sekarang? Sudah berapa kaum Muslim yang syahid? Lihatlah, saat ada genosida di Gaza, para pemimpin dunia Islam hanya menonton dan menghitung jumlah korban. Diam seribu bahasa. Tanpa merasa berdosa.
Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Itulah mengapa, kaum Muslim seluruh dunia harus bersatu, jika ingin kembali berjaya. Umat ini akan kuat jika kita kembali pada ajaran Islam secara sempurna. Yakni, menerapkan al-Quran sebagai pedoman hidup di segala arena dan menjadikan Sunnah Nabi dijadikan petunjuk jalan kehidupan dunia.
Sesungguhnya inilah yang Allah Subhanahu wata’ala kehendaki. Sebagaimana yang telah dinyatakan dalam Kitab Suci:
وَاعْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا
"Berpeganglah kalian semua pada tali (agama) Allah dan jangan bercerai-berai” (QS. Âli ’Imrân [3]: 103).
Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang satu secara global, umat Islam hanyalah kumpulan manusia yang lemah dan tak berdaya. Apalagi jika harus berhadapan dengan kekuatan adidaya Amerika. Tanpa kepemimpinan Islam level dunia, potensi kekuatan besar umat Islam yang luar biasa tak akan pernah bisa berubah menjadi kekuatan adidaya.
Selain itu, yang patuh disadari, khilafah adalah tuntutan dan kewajiban umat Islam sedunia. Rasulullah Shallallâhu alaihi wasallam telah sangat jelas bersabda:
مَنْ مَاتَ وَلَيْسَ فِي عُنُقِهِ بَيْعَةٌ مَاتَ مِيْتَةً جَاهِلِيَّةً
”Siapa saja yang mati, sedangkan di lehernya tidak ada baiat (kepada seorang khalifah), maka ia mati seperti mati jahiliyah” (HR. Muslim).
Tentu kita tak mau mati seperti itu. Maka, mengembalikan kepemimpinan umat ada jalan yang harus kita lalui. Tinggalkan perbedaan. Sungguh banyak persamaan yang bisa kita satukan, demi izzul Islam wal muslimin. Semoga Allah mengabulkan. Aamiin.
Demikianlah yang dapat saya. Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلَاوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَلَكُمْ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ
KHUTBAH KEDUA
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَامْتِنَانِهِ. وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ. اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا.
أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا اللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى، وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّى بِمَلَائِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا.
اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى أَنْبِيَائِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلَائِكَتِكَ الْمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِيٍّ، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَالتَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِإِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اللّٰهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ الْمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الْمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَأَعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ.
اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اِهْزِمِ الْيَهُوْدَ وَأَعْوَانَهُمْ، وَالصَّلِيْبِيِّيْنَ وَأَنْصَارَهُمْ، وَالرَّأْسُمَالِيِّيْنَ وَإِخْوَانَهُمْ، وَالْاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَالشُّيُوْعِيِّيْنَ وَأَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا الْإِسْلَامَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ لِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ، وَسُوْءَ الْفِتَنِ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا إِنْدُوْنِيْسِيَا خَاصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشآءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar