Belajar dari Peradaban Islam: Pendidikan Harus Jadi Prioritas


Oleh: Noura (Pemerhati Sosial dan Generasi)

Pendidikan sering disebut sebagai kunci masa depan. Dari ruang kelaslah lahir generasi yang kelak menentukan arah sebuah masyarakat. Karena itu, keberadaan sekolah yang layak seharusnya menjadi kebutuhan dasar yang diprioritaskan oleh negara.

Namun fakta di lapangan berkata lain. Kondisi infrastruktur pendidikan di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) masih menghadapi berbagai persoalan. Sejumlah Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dilaporkan mengalami keterbatasan ruang belajar, fasilitas penunjang yang minim, hingga persoalan legalitas lahan yang menghambat proses rehabilitasi bangunan sekolah. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar tidak dapat berjalan secara maksimal.

Kondisi ini terasa ironis. Kukar dikenal sebagai wilayah yang kaya sumber daya alam. Dengan potensi ekonomi sebesar itu, seharusnya kebutuhan dasar seperti sarana pendidikan dapat terpenuhi dengan baik. Namun kenyataannya, kekayaan alam tidak otomatis menghadirkan kesejahteraan dan layanan pendidikan yang layak bagi masyarakat.

Persoalan ini menunjukkan bahwa masalah pendidikan bukan sekadar kekurangan anggaran. Lebih dari itu, ia berkaitan dengan sistem pengelolaan dan arah kebijakan pembangunan. Dalam sistem Kapitalisme, yang berorientasi pada keuntungan ekonomi semata, pendidikan sering kali tidak ditempatkan sebagai kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi negara. Akibatnya, pembangunan fasilitas pendidikan berjalan lambat, bahkan kerap kalah prioritas dibanding sektor lain.

Padahal sekolah bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah tempat lahirnya generasi masa depan. Ketika fasilitas pendidikan tidak memadai, kualitas proses belajar tentu ikut terdampak. Jika pada aspek sarana prasarana saja belum mendapatkan perhatian serius, maka tidak mengherankan jika persoalan lain seperti kualitas generasi, kurikulum, hingga kesejahteraan guru juga sering kali luput dari perhatian.

Berbeda dengan sistem yang menjadikan pendidikan sekadar sektor administratif, Islam menempatkan ilmu dan pendidikan sebagai fondasi utama peradaban. Bahkan wahyu pertama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad ï·º adalah perintah untuk membaca. Allah SWT berfirman: “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)

Ayat ini menunjukkan bahwa peradaban Islam dibangun di atas ilmu pengetahuan. Karena itu, Islam sangat memuliakan orang yang berilmu. Allah SWT berfirman: “Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah: 11)

Rasulullah ï·º juga menegaskan pentingnya menuntut ilmu bagi setiap Muslim: “Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim.” (HR. Ibnu Majah)

Perhatian Islam terhadap pendidikan tidak berhenti pada anjuran moral. Dalam sejarah peradaban Islam, negara benar-benar mengambil tanggung jawab penuh dalam menyediakan pendidikan bagi rakyat. Pendidikan dipandang sebagai kebutuhan publik yang wajib dipenuhi negara, bukan sekadar layanan tambahan.

Pada masa kekhilafahan, lembaga-lembaga pendidikan berkembang pesat. Di Baghdad berdiri Baitul Hikmah, pusat ilmu pengetahuan yang menjadi tempat berkumpulnya para ilmuwan dari berbagai wilayah. Di Mesir berdiri Universitas Al-Azhar yang hingga kini masih menjadi salah satu pusat studi Islam terkemuka di dunia. Di Baghdad pula pernah berdiri Madrasah Nizamiyah yang menjadi institusi pendidikan tinggi besar pada masanya.

Sementara itu, di kota Cordoba—Spanyol pada masa pemerintahan Islam—perpustakaan dan pusat ilmu berkembang sangat pesat. Bahkan sejarah mencatat bahwa perpustakaan Cordoba memiliki ratusan ribu koleksi buku, jumlah yang jauh melampaui perpustakaan di Eropa pada masa yang sama.

Kemajuan pendidikan ini tidak lahir secara kebetulan. Ia didukung oleh sistem negara yang kuat dalam membiayai kebutuhan publik. Dalam sistem Islam, negara memiliki berbagai sumber pemasukan seperti zakat, kharaj, jizyah, fai’, serta pengelolaan kepemilikan umum termasuk sumber daya alam.

Kekayaan alam tidak diserahkan kepada korporasi atau segelintir pihak, tetapi dikelola negara untuk kemaslahatan rakyat.

Dengan sistem seperti itu, negara memiliki kemampuan untuk membiayai pendidikan secara optimal—mulai dari pembangunan sekolah, perpustakaan, hingga kesejahteraan para guru dan ilmuwan.

Sejarah ini menunjukkan bahwa ketika pendidikan ditempatkan sebagai prioritas peradaban, hasilnya adalah kemajuan ilmu pengetahuan yang luar biasa. Peradaban Islam pernah melahirkan ilmuwan besar dalam berbagai bidang, dari kedokteran hingga astronomi, yang pengaruhnya bahkan terasa hingga dunia modern.

Karena itu, persoalan fasilitas pendidikan yang masih terjadi di berbagai daerah seharusnya menjadi refleksi bersama. Generasi unggul tidak lahir dari sistem yang setengah hati dalam mengurus pendidikan. Mereka lahir dari sistem yang menjadikan ilmu sebagai pilar utama pembangunan.

Islam telah memberikan contoh bagaimana pendidikan dihargai dan dimuliakan dalam kebijakan negara. Ketika pendidikan benar-benar menjadi prioritas, maka bukan hanya sekolah yang berdiri megah, tetapi juga lahir generasi yang mampu membangun peradaban yang mulia.

Wallahu'alam bishawab




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar