CINTA BERUJUNG TINDAK KEKERASAN CERMIN KEGAGALAN SISTEM


Oleh : Rohmah.SE.Sy

Peristiwa mencekam terjadi sekitar pukul 08.30 Waktu Indonesia Barat  (WIB) di lantai dua Gedung Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum, Pekanbaru. Korban yang diketahui bernama Faradilla Ayu diserang menggunakan senjata tajam secara mendadak tepat saat dirinya tengah bersiap menjalani sidang seminar proposal. 

Serangan membabi buta tersebut mengakibatkan korban mengalami luka berat pada bagian kepala dan tangan hingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Kepolisian Daerah (Polda) Riau.Telah terjadi peristiwa pembacokan yang dilakukan seorang mahasiswa terhadap mahasiswi di lingkungan Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim (Suska) Riau.

Pelaku yang diketahui bernama Rehan Mujafar (21) nekat menyerang korban, Farradhila Ayu Pramesti (23), menggunakan kapak. Mahasiswa inisial R (21) ditahan polisi usai membacok F (23), mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Syarief Kasim (UIN Suska) Riau, menjelang sidang skripsi. Pelaku mengaku menyesali perbuatannya. Saat ini tersangka menyatakan penyesalan mendalam dan ingin bertaubat, serta lebih mendekatkan diri secara spiritual selama menjalani proses hukum," ujar Kabid Humas Polda Riau Kombes Zahwani Pandra Arsyad, dalam keterangannya, Senin (2/3/2026).

Pandra mengatakan tersangka sudah merencanakan penganiayaan tersebut. Tersangka mempersiapkan senjata tajam sehari jelang korban melaksanakan sidang skripsi. Dari hasil penyidikan, tindakan tersebut telah direncanakan. Niat muncul sejak 2025, sementara senjata tajam dipersiapkan sehari sebelum kejadian, menjelang sidang skripsi korban pada 26 Februari 2026 Tersangka saat ini ditahan di Polresta Pekanbaru. Atas perbuatannya tersebut, tersangka terancam hukuman 12 tahun penjara. Perkara ini diproses berdasarkan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang KUHP dengan sangkaan pasal berlapis, termasuk Pasal 469 KUHP. Ancaman hukuman maksimal mencapai 12 tahun penjara.


Generasi Rusak Akibat Sekulerisme

Peristiwa ini sungguh memilukan karena ini bukan yang pertama terjadi di Indonesia, ironisnya kejadian serupa terus berulang alih laih menurun tindak kekerasan di kalangan pemuda justru meningkat. Padahal pemuda Adalah agen perubahandan estafet penerus bangsa.

Namun yang tampak hari ini Sebagian dari mereka justru kehilangan arah dan jati diri fenomena ini menunjukkan persoalan yang lebih mendasasr prilaku pemuda yang dekat dengan kekerasan dan pembunuhan hingga pergaulan bebas, mencerminkan kegagalan system sekuler dalam membentuk generasi berkepribadian mulia, Pendidikan hari ini lebih menekankan aspek akademik dan capaian materi, tetapi minim dalam pembinaan iman hukum hukum syara’ akhlak dan control diri akibatnya Ketika menghadapi penolakan atau konflik emosional Sebagian pemuda tidak memiliki kedewasaan berfikir dan ketahanan mental ysng kuat.

Sekulerisme membentuk standar kebebasan yang menempatkan keinginan individu sebagai tolak ukur utama remaja di dorong untuk mengekspresikan perasaan tanpa batas seolah kebebsan Adalah hak mutlak tanpa konsekuensi sosial maupun moral Ketika keinginan tidak terpenuhi, emosi mudah meledak karena standar kebahagiaan ditentukan oleh kepuasan duniawi dan materi.

Normalisasi nilai-nilai liberalisme, pergaulan bebas seperti pacarana, khalwat, dan ikhtilat, turut memperbesar potensi konflik emosional hubungan yang tidak di bingkai oleh aturan agama seringkali melahirkan ekspektasi berlebihan, rasa memiliki yang tidak proposional hingga obsesi yang berujung pada kekerasan, Ketika harapan tak terwujud.

Di sisi lain negara dengan system kapitalis memandang generasi sebagai asset produktif sedangkan pembinaan karakter tidak menjadi prioritas utama dibandingkan pencapaian ekonomi akibatnya lahirlah generasi yang cerdas secara intelektual tetapi rapuh secara moral dan emosional.


 Islam Solusi Hakiki

Seorang muslim, semestinya sangat meyakini bahwa hanya Islam agama yang benar. “Pun meyakini bahwa hanya dengan penerapan Islam secara keseluruhan kebaikan bagi alam semesta akan bisa diwujudkan Keyakinan inilah, yang harus ditanamkan pada diri generasi muda muslim sehingga mereka akan lahir sebagai generasi terbaik. “Mungkinkah semua itu terwujud tanpa adanya sistem Islam? Itu mustahil. Hanya dengan adanya sistem Islam, yakni negara Khilafah yang menerapkan hukum-hukum Allah secara sempurna, semua hal itu bisa terwujud. 

Lahirnya generasi tangguh, tidak membutuhkan pendidikan berbasis cinta yang sarat dengan pluralisme, melainkan butuh pendidikan berbasis akidah Islam yang akan melahirkan sosok-sosok generasi muslim yang punya kepribadian Islam kuat, faqih fiddin, dan berjiwa pemimpin.

Maka di butuhkan peran dari pilar individu, Masyarakat, hingga negara. Negara tentu saja tidak boleh berdiri diatas system sekuler-liberal kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan melainkan harus bersandar pada aturan yang bersumebr dari pencipta manusia.

Negara yang menerapkan islam dalam seluruh aspek kehidupan disebut Daulah khilafah islamiyaah, maka pembentukan kepribadian generasi bukan hanya diserahkan kepada keluarga atau sekolah tetapi menjadi tanggung jawab negara.

Khilafah akan menerapkan system Pendidikan islam, system Pendidikan islam dibangun diatas dasar Aqidah islam tujuannya bukan sekedar mencetak tenaga kerja melainkan membentuk kepribadian islam yakni pola fikir dan pola sikap yang selaras dengan syariat islam kurikulum di arahkan agar ilmu menguatkan keimanan dan ketundukan kepada allah subhanahu wata’alaa generasi juga di jauhkan dari pemikiran yang merusak yang bertentangan dengan islam sebab akan mengantarkan kemudharatan, perilaku yang menyimpang atau maksiat.dan negara akan memberikan sanksi kepada pelaku maksiat agar memberikan efek jera bagi pelaku maksiat seperti kekerasan, seluruh aturan islam ini akan menjaga keamanan dan kehormatan Masyarakat dengan sinergi individu bertakwa Masyarakat Islami dan penegakan hukum berbasis syariat di harapkann lahir generasi yang kuat iman, matang emosi dan berkepribadian islam Satu-satunya yang perlu dilakukan umat hari ini adalah mewujudkan tegaknya kembali sistem Islam atau negara Khilafah.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar