Oleh: Indha Tri Permatasari, S. Keb., Bd. (Aktivis Muslimah)
Pernyataan pongah Donald Trump bahwa Iran telah menjadi “pihak yang kalah di Timur Tengah” menunjukkan watak asli Amerika dalam memandang dunia Islam: sombong, menekan, dan merasa berhak menentukan nasib bangsa lain. Ucapan itu muncul di tengah memanasnya perang antara Iran dengan aliansi AS dan Zionis. Di saat korban sipil berjatuhan dan kawasan terus diguncang serangan, Trump justru berbicara seolah kemenangan militer memberinya hak untuk mengatur masa depan Iran.
Sikap ini memperlihatkan bahwa bagi Amerika, perang bukan semata soal keamanan, tetapi alat untuk memaksakan kehendak politik. Iran ditekan agar tunduk pada kepentingan AS. Bahkan kepemimpinan Iran pun ingin diarahkan agar sesuai dengan keinginan Washington. Dengan kata lain, yang diincar bukan hanya melemahkan Iran, tetapi juga memastikan negeri itu tidak menjadi kekuatan yang berdiri di luar kendali Amerika.
Di balik semua alasan yang dikemukakan, seperti ancaman nuklir atau kepentingan perdamaian, tampak jelas bahwa Timur Tengah tetap dipandang sebagai wilayah yang harus dikuasai. Kawasan ini kaya sumber daya alam, memiliki posisi geopolitik sangat penting, dan menjadi jalur strategis perdagangan serta energi dunia. Iran sendiri menempati posisi kunci karena berhubungan dengan Teluk Persia, Laut Oman, dan jalur-jalur vital yang sangat berpengaruh terhadap pergerakan minyak dunia.
Karena itu, konflik dengan Iran tidak bisa dilepaskan dari ambisi besar Amerika untuk mempertahankan hegemoninya. Amerika telah berhasil mengikat banyak rezim Arab melalui perjanjian, kerja sama keamanan, dan normalisasi dengan entitas Zionis. Namun, Iran tetap menjadi persoalan tersendiri. Meski menghadapi embargo panjang dan tekanan besar, Iran tidak sepenuhnya tunduk menjadi pelayan kepentingan Amerika. Justru tekanan itu mendorong mereka membangun daya tahan internal, mengembangkan teknologi sendiri, dan memperkuat hubungan dengan kekuatan lain seperti Cina dan Rusia.
Apa yang terjadi hari ini juga menunjukkan wajah buruk sistem kapitalisme global. Amerika, sebagai pemimpin dunia kapitalis, terus menyebarkan pengaruhnya dengan berbagai cara: tekanan politik, embargo ekonomi, operasi intelijen, perang proksi, hingga intervensi militer langsung. Semua dilakukan demi menjaga dominasi dan kepentingan nasionalnya. Nilai-nilai seperti demokrasi, kebebasan, dan perdamaian sering hanya dijadikan bungkus untuk membenarkan campur tangan terhadap negara lain.
Akibatnya, dunia dipenuhi kerusakan, ketidakadilan, dan penjajahan modern. Negara-negara besar merasa berhak menentukan siapa yang boleh berkuasa, sistem apa yang harus diterapkan, bahkan arah kebijakan dalam negeri bangsa lain. Jika ada pemimpin yang tidak sejalan, maka tekanan, propaganda, atau serangan pun dijalankan. Inilah karakter kepemimpinan sekuler kapitalistik: kuat dalam klaim moral, tetapi sangat brutal dalam praktik politiknya.
Berbeda dengan itu, Islam datang dengan visi kepemimpinan yang membebaskan manusia dari penghambaan kepada sesama manusia menuju penghambaan hanya kepada Allah Swt. Sejarah menunjukkan bahwa ketika Islam memimpin, berbagai wilayah yang masuk dalam kekuasaan Islam justru merasakan keadilan, keamanan, kesejahteraan, dan kemajuan. Islam tidak dibawa untuk menindas bangsa lain, tetapi untuk menebarkan rahmat dan membangun peradaban yang mulia.
Di bawah kepemimpinan Islam, umat dipersatukan oleh akidah, bukan dipisahkan oleh batas-batas buatan penjajah. Selama berabad-abad, umat Islam tampil sebagai pemimpin peradaban, bukan karena kekuatan material semata, tetapi karena berpegang pada akidah dan syariat Allah. Inilah yang melahirkan wibawa politik, kekuatan militer, kemajuan ilmu, dan ketinggian akhlak.
Karena itu, tragedi yang menimpa Iran dan dunia Islam hari ini seharusnya menjadi pelajaran besar bagi umat. Tidak ada kemuliaan jika umat terus berharap pada sistem kapitalisme global atau pada para penguasa muslim yang tunduk kepada Amerika. Umat membutuhkan arah perjuangan yang jelas, yaitu kembali berpegang teguh pada Islam secara kaffah dan memperjuangkan tegaknya kepemimpinan Islam yang mempersatukan.
Perbedaan mazhab, bangsa, dan latar belakang tidak boleh membuat umat kehilangan fokus terhadap musuh yang nyata. Umat Islam harus menyadari bahwa kekuatan mereka ada pada persatuan akidah dan perjuangan bersama. Hanya dengan itulah umat dapat keluar dari penjajahan, kehinaan, dan permainan politik global yang terus menjadikan negeri-negeri muslim sebagai korban.
Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.


0 Komentar