Menjadikan Ramadhan Berkualitas Bukan Sekadar Rutinitas


Oleh : Fani Ratu Rahmani (Aktivis Dakwah)

Giat pesantren Ramadhan dilakukan oleh pemerintah maupun sekolah selama bulan Ramadhan. Kegiatan ini bertujuan untuk membekali siswa/i dari SD hingga SMA terkait pemahaman Islam terutama amalan ibadah di bulan Ramadhan. Kemudian, juga dibekali agar memiliki karakter akhlak yang mulia, terlebih dalam menghadapi era digital saat ini.

Sebanyak 170 pelajar SD dan SMP di Kota Balikpapan mengikuti Pesantren Ramadan hasil kolaborasi TP PKK dan BAZNAS Kota Balikpapan yang dimulai pada Rabu (25/2/2026). Di aula Rumjab Walikota Balikpapan. Kegiatan dua hari ini tidak hanya mengajarkan fikih dan akhlak, tetapi juga membekali anak-anak menghadapi tantangan era digital yang kian kompleks.

Bukan hanya itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Balikpapan, Irfan Taufik, secara resmi membuka kegiatan Pesantren Ramadhan SD se-Kota Balikpapan yang digelar di Asrama Haji Embarkasi Balikpapan, Selasa (3/3/2026). Mengusung tema “Meneguhkan Iman, Menguatkan Akhlak, Menyiapkan Pelajar Qur’ani”, kegiatan ini merupakan kolaborasi antara Disdikbud Kota Balikpapan dan KKG PAI SD se-Kota Balikpapan.

Irfan Taufik menegaskan bahwa Pesantren Ramadhan bukan sekadar agenda tahunan. “Kegiatan ini bukan hanya seremonial. Ini adalah momentum penting untuk membentuk karakter anak-anak kita sejak dini,” ujarnya. Ia menekankan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.

Antusiasme memang besar dari siswa/i untuk mengikutinya baik di dalam sekolah maupun yang diselenggarakan oleh Pemerintah. Mereka ikut menghabiskan waktu bulan puasa ini dengan kegiatan yang bermanfaat. Ini membuktikan generasi saat ini masih memiliki peluang untuk menjadi generasi harapan umat, generasi emas penopang peradaban di masa depan.

Hanya saja, sejatinya membekali pemahaman islam tidak cukup hanya di momen bulan Ramadhan saja. Bulan Ramadhan hanya berlangsung selama sebulan, pesantren Ramadhan pun hanya berlangsung selama satu hari hingga satu pekan. Tentu hanya ada waktu singkat bagi generasi untuk mendapatkan pemahaman Islam. 

Kemudian, Islam adalah seperangkat aturan yang lengkap bagi kehidupan manusia. Islam bukan hanya berbicara tentang fiqih puasa, zakat, dan akhlak, tetapi seluruh lini kehidupan. Pemahaman Islam yang mesti diberikan kepada generasi adalah Islam secara utuh bukan hanya ritual dan karakter nilai-nilai Islam saja. Islam yang mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya, dengan dirinya sendiri dan sesama manusia dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Namun, yang menjadi pertanyaan. Mengapa momentum seperti ini hanya hangat terbuka di bulan Ramadhan ? Apakah mempelajari Islam hanya tergantung momen ? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari kondisi umat hari ini yang diliputi pemikiran Sekularisme. Pemikiran yang berasal dari barat ini menjadikan agama tidak untuk mengatur kehidupan manusia. Agama hanya muncul dalam kondisi dan tempat tertentu saja. Saat Ramadhan, semua orang ramai belajar Islam, setelah Ramadhan kembali sepi lagi.

Sekularisme membuat semangat mempelajari Islam hanya terbatas pada momen bulan suci dan sulit dipertahankan di luar bulan Ramadhan. Tsaqofah Islam yang dipelajari, hanya berhenti menjadi pengetahuan alias teori. Tidak ada praktik amal yang konsisten dilakukan manusia. Terlebih, penerapan Islam nihil di negara yang memakai ideologi sekuler saat ini, tidak terwujud Islam secara menyeluruh di dalam kehidupan. 

Rasulullah saw. pernah menyampaikan kabar gembira kepada Para Sahabat, "Telah datang kepada kalian bulan yang diberkahi (Ramadhan). Allah telah mewajibkan atas kalian puasa di dalamnya. Pada Bulan Ramadhan pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu Neraka Jahim ditutup dan setan-setan dibelenggu. Di sisi Allah ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Siapa saja yang terhalang dari kebaikannya, sungguh dia merugi" (HR Ahmad dan an-Nasa’i)

Ramadhan selalu hadir membawa harapan. Harapan akan ampunan, perubahan dan kebangkitan jiwa menuju ketakwaan. Takwa yang Allah SWT harapkan dari seorang Muslim tentu bukan takwa sesaat. Bukan takwa musiman. Bukan takwa yang hidup selama Ramadhan, lalu padam setelah Ramadhan berakhir. Yang diminta adalah takwa yang terus menyala hingga akhir hayat kita. Yang dituntut adalah takwa yang sebenarnya.

Salah satu tanda takwa di atas adalah mengamalkan al-Quran. Tentu secara keseluruhan. Bukan hanya sebagian. Kalau sebagian maka tidak lebih kita seperti muslim yang sekuler, berislam sesuai hawa nafsu semata. Haram bagi kita hanya menerima hukum puasa dan shalat saja, tetapi menolak hukum Allah dalam muamalah; politik/pemerintahan, ekonomi, pendidikan atau kehidupan sosial termasuk sanksi.

Oleh karena itu, maka berbicara takwa tidak cukup hanya ketakwaan individu saja. Ketakwaan harus terwujud pula dalam kehidupan bermasyarakat hingga bernegara. Masyarakat yang bertakwa akan menjadi masyarakat yang berkualitas baik, demikian pula negara yang bertakwa akan membawa berkah dan ampunan dari Allah ta'ala.

Ketakwaan seperti ini terwujud ketika di masa Rasulullah saw. hingga masa Khilafah Islamiyyah itu ada. Islam yang terjaga sedemikian rupa, amal umat begitu terasa. Selain itu, konsistensi menjalankan syariat bukan hanya di bulan Ramadhan saja, setelah Ramadhan juga dengan kualitas yang sama, Masya Allah.

Seharusnya generasi muslim pun mampu menjadi generasi yang bertakwa sepanjang bulan. Berharap demikian tentunya perlu sistem Islam. Ramadhan tahun ini seharusnya menjadi titik tolak untuk diterapkan Islam dalam kehidupan. Agar Ramadhan berikutnya meninggalkan jejak ketaatan paripurna bukan modal semangat semata. Wallahu a'lam bish shawab.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar