Teladan Kesederhanaan Umar bin Khathab ra Sebagai Pijakan Pemimpin Yang Beradab


Oleh: Wulan Safariyah (Aktivis Dakwah)
 
Fakta yang mengundang kontroversi dikalangan masyarakat. Baru-baru ini muncul informasi tentan Gubernur Kalimantan Timur, yang berencana membeli mobil mewah seharga Rp 8,5 miliar. 

Gubernur membuat keputusan ini dengan alasan menjaga marwah, bahwa mobil tersebut diperlukan untuk menunjang operasionalnya sebagai kepala daerah, terutama dalam menyambut tamu negara dan menghadiri agenda strategis. Ia juga menekankan bahwa mobil tersebut akan digunakan untuk meningkatkan mobilitas dan aksesibilitas di daerah, terutama di wilayah geografis ekstrem. (Instagram teras7.com)

Meskipun akhirnya langkah untuk pengadaan mobil mewah tersebut dibatalkan mengikuti respon dari masyarakat. Namun Polemik pembatalan pengadaan mobil mewah tersebut terus menuai sorotan. (kompas.com)

Kasus ini tidak bisa dilepaskan dari pembicaraan tentang berbagai bentuk kemewahan yang dinilai tidak wajar di kalangan beberapa pejabat, termasuk persoalan rumah tinggal yang megah dan fasilitas pribadi yang menguras anggaran publik.

Kondisi ini terjadi di tengah upaya efisiensi anggaran negara dan kenyataan bahwa sebagian besar masyarakat bahkan di bulan Ramadhan masih menghadapi kesulitan ekonomi yang nyata.

 
Sistem Sekuler Kapitalis Menghilangkan Sensitivitas Pemimpin
 
Di tengah tantangan kehidupan masyarakat dan kondisi infrastruktur yang masih membutuhkan perhatian serius, seperti jalan rusak yang belum teratasi dan gambaran kemiskinan yang masih terlihat di mana-mana, keinginan pemimpin untuk memiliki fasilitas mewah dengan alasan menjaga marwah justru menimbulkan pertanyaan mendasar. 

Menurut pengajar ekonomi Universitas Mulawarman, Purwadi Purwoharsojo, mengatakan marwah daerah seharusnya tercermin dari kemampuan pemerintah menyelesaikan persoalan publik. Mengingat Kaltim masih banyak PR seperti jalan rusak dan tingkat kemiskinan meningkat. (eksposksltim)

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), persentase penduduk miskin pada September 2025 mencapai 5,19 persen dengan jumlah penduduk miskin sebesar 202,04 ribu orang. Jumlah tersebut meningkat 2,33 ribu orang dibandingkan Maret 2025 yang tercatat sebanyak 199,71 ribu orang. (portalkaltim.com) 

Marwah sebuah daerah penghasil Sumber Daya Alam dan Energi (SDAE) seharusnya diukur dari kesejahteraan rakyatnya, bukan dari kemewahan yang dinikmati oleh pemimpinnya. Meskipun keputusan untuk tidak membeli mobil mewah akhirnya diambil, langkah awal yang diusulkan terkesan lebih kepada tindakan populis otoriter yang mengedepankan kekuasaan daripada kepedulian yang tulus terhadap kondisi rakyat.

Perilaku semacam ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh sistem sekuler kapitalisme yang telah melanda banyak negara, termasuk Indonesia. Sistem ini cenderung menghilangkan sensitivitas pemimpin terhadap kesulitan rakyat, sekaligus mendegradasi kesadaran iman para penguasa akan amanah yang diberikan kepada mereka. Akibatnya, rasa takut akan Allah dan tanggung jawab terhadap rakyat mulai pudar, digantikan oleh keinginan untuk menunjukkan status dan kemewahan duniawi.
 

Teladan dari Khalifah Umar bin Khathab ra.
 
Ajaran Islam memberikan pijakan yang jelas tentang bagaimana seorang pemimpin harus bersikap dan bertindak. Pemimpin seharusnya menjadikan Rasulullah saw. dan para Khalifah Rasyidin sebagai teladan utama, salah satunya adalah kesederhanaan hidup yang menjadi ciri khas Khalifah Umar bin Khathab ra.

Pemimpin adalah pelayan rakyat yang mengurusi kepentingan dan kemaslahatan mereka. Sebagaimana sabda Rasulullah saw.: "Sesungguhnya pemimpin itu adalah pelayan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas pelayanannya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Prinsip ini menjadi landasan bahwa jabatan bukanlah alat untuk memperoleh kemewahan, melainkan amanah untuk mengurus kepentingan dan kemaslahatan rakyat.
 
Contoh nyata dari kehidupan Umar bin Khathab ra. sangat menginspirasi. Ketika anaknya, Abdullah, ingin membicarakan urusan pribadi, ia mematikan lampu di rumahnya dan mengatakan kepada putranya bahwa lampu tersebut adalah fasilitas yang diberikan oleh negara kepadanya. Ia merasa tidak layak menggunakan lampu tersebut untuk kepentingan pribadi keluarganya.

Ketika utusan dari Persia datang ke Madinah untuk menemui Khalifah Umar, mereka tidak menemukan istana megah, melainkan mendapati Khalifah Umar yang sedang tidur di bawah pohon dengan beralaskan tanah dan tanpa penjaga.

Hidup Khalifah Umar sangat sederhana, makanan beliau seringkali hanya roti kering dan minyak zaitun, bahkan terkadang beliau memakan roti kasar hingga perutnya berbunyi karena lapar.
 
Dengan demikian, dari sosok Khalifah Umar bin Khathab ra, kita bisa mengambil pelajaran penting, bahwa jabatan bukan alasan untuk hidup boros dan berlebihan. Kekayaan duniawi bukanlah ukuran kemuliaan seorang pemimpin. Pemimpin sejati adalah mereka yang paling takut kepada Allah SWT, yang hati dan pikirannya selalu dekat dengan-Nya sehingga tidak terpikat oleh godaan dunia yang sementara.
 
Wallahu a'lam bishawab 




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar