KHUTBAH JUM'AT : UMAT TERPECAH, MUSUH DATANG DARI SEGALA ARAH


KHUTBAH PERTAMA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ، نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلٰهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَاشَرِيْكَ لَهُ، شَهَادَةَ مَنْ هُوَ خَيْرٌ مَّقَامًا وَأَحْسَنُ نَدِيًّا. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمُتَّصِفُ بِالْمَكَارِمِ كِبَارًا وَصَبِيًّا.
اللهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُوْلًا نَبِيًّا، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الَّذِيْنَ يُحْسِنُوْنَ إِسْلاَمَهُمْ وَلَمْ يَفْعَلُوْا شَيْئًا فَرِيًّا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَيَا أَيُّهَا الْحَاضِرُوْنَ رَحِمَكُمُ اللهُ، اُوْصِيْنِيْ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ، فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ ۝٥١ (اَلْمَائِدَةُ) 
Alhamdulillâhi Rabbil ‘Âlamin, Segala puji bagi Allah Subhânahu wa Ta’âlâ yang telah menganugerahkan kita nikmat iman dan Islam, serta mempertemukan kita di tempat yang diberkahi ini. Shalawat dan salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan seluruh umatnya hingga akhir zaman.
Sebagai penyempurna rukun khutbah, saya selaku khatib tidak bosan-bosannya mengingatkan diri saya pribadi dan seluruh jamaah untuk selalu mengokohkan iman serta meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah Subhânahu wa Taâlâ, sesuai dengan sabda Nabi Muhammad Shallallâhu alaihi wasallam:
اِتَّقِ اللهَ حَيْثُمَا كُنْتَ، وَأَتْبِعِ السَّيِّئَةَ الْحَسَنَةَ تَمْحُهَا، وَخَالِقِ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ
“Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada. Iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya kebaikan itu akan menghapus (kesalahan)nya. Dan bergaullah dengan manusia dengan akhlak yang baik.” (HR. Tirmidzi).
Allah Subhânahu wa Ta’âlâ berfirman:
وَتَزَوَّدُوْا فَاِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوٰىۖ وَاتَّقُوْنِ يٰٓاُولِى الْاَلْبَابِ
“Dan berbekallah kalian, dan sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal” (QS. Al-Baqarah [2]: 197).
Allah juga berfirman:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Âli Imrân [3]: 102).
Sungguh takwa adalah benteng terakhir kita di tengah kehidupan akhir zaman saat ini. Dan sungguh, hanya dengan takwa kita akan selamat di dunia dan akhirat.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Di tengah kekhusyukan Ramadhan, dunia kembali diguncang kabar duka dari negeri-negeri Muslim. Pada akhir Februari, Amerika Serikat bersama Zionis Israel melancarkan operasi militer ke Iran yang dinamakan Operation Lions Roar dan Operation Epic Fury. Serangan udara di Teheran menghancurkan sejumlah bangunan dan menewaskan warga sipil, termasuk ratusan anak-anak sekolah dasar. Dalam serangan itu, pemimpin spiritual Iran, Ayatullah Ali Khamenei, juga dilaporkan tewas.
Pada saat yang sama, Israel juga melancarkan serangan ke Beirut, Libanon, bahkan menggunakan bom fosfor putih yang terlarang. Hampir 400 penduduk, termasuk anak-anak, meninggal dunia dan lebih dari seribu lainnya menjadi korban. Peristiwa ini menjadi renungan bagi kita: ketika kita beribadah dengan tenang di bulan Ramadhan, ada saudara-saudara kita yang masih hidup dalam penderitaan dan peperangan.

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Peristiwa serangan militer Amerika Serikat bersama Zionis Israel ke Iran memberikan sejumlah pelajaran penting bagi kaum Muslim. 
Pertama, serangan ini menunjukkan upaya AS untuk terus mengokohkan hegemoni mereka di Timur Tengah, terutama dalam melindungi anak tirinya, Zionis Israel. Iran dituduh mengembangkan senjata nuklir sehingga dianggap sebagai ancaman bagi Israel. 
Kedua, AS ingin menegaskan dominasi kepemilikan senjata nuklir di dunia. Mereka gencar mengkampanyekan pembatasan senjata nuklir atas nama perdamaian, padahal kenyataannya AS sendiri memiliki sekitar 3.700 rudal dan pangkalan nuklir dari total 12.241 hulu ledak nuklir global, sementara Israel diperkirakan memiliki sekitar 90 hulu ledak nuklir dan persediaan plutonium yang cukup untuk memproduksi ratusan senjata nuklir.
Ketiga, operasi militer ini juga menjadi tekanan politik terhadap Iran agar tetap berada dalam orbit kepentingan Amerika di Timur Tengah. Meski sering tampak berseberangan, selama bertahun-tahun Iran kerap terlibat dalam konfigurasi politik kawasan yang juga menguntungkan agenda AS. Karena itu, alasan ancaman nuklir Iran seringkali dipandang mengada-ada, apalagi sejak perjanjian tahun 2015 yang mengizinkan Iran melakukan pengayaan nuklir hingga batas tertentu. Peristiwa ini menjadi pengingat bahwa sekutu sejati AS hanyalah Zionis Israel. Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memperingatkan dalam firman-Nya:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوا الْيَهُوْدَ وَالنَّصٰرٰٓى اَوْلِيَاۤءَۘ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۗ وَمَنْ يَّتَوَلَّهُمْ مِّنْكُمْ فَاِنَّهٗ مِنْهُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الظّٰلِمِيْنَ
” Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(-mu). Sebagian mereka menjadi teman setia bagi sebagian yang lain. Siapa di antara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang zalim. (QS al-Mâidah [5]: 51).

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Peristiwa serangan Amerika Serikat dan Israel ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi kaum Muslim tentang kondisi umat saat ini. Umat yang jumlahnya lebih dari dua miliar jiwa ternyata tetap rapuh dan tidak memiliki pelindung yang mampu menjaga negeri-negeri Muslim dari agresi negara-negara Barat. Satu per satu negeri Muslim dihancurkan tanpa perlindungan yang nyata. Keadaan ini telah diperingatkan oleh Rasulullah Shallallâhu ‘alaihi wasallam:
يُوشِكُ الْأُمَمُ أَنْ تَدَاعَى عَلَيْكُمْ كَمَا تَدَاعَى الْأَكَلَةُ إِلَى قَصْعَتِهَا ، فَقَالَ قَائِلٌ : وَمِنْ قِلَّةٍ نَحْنُ يَوْمَئِذٍ ؟ قَالَ : بَلْ أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ وَلَكِنَّكُمْ غُثَاءٌ كَغُثَاءِ السَّيْلِ وَلَيَنْزَعَنَّ اللَّهُ مِنْ صُدُورِ عَدُوِّكُمُ الْمَهَابَةَ مِنْكُمْ وَلَيَقْذِفَنَّ اللَّهُ فِي قُلُوبِكُمُ الْوَهْنَ ، فَقَالَ قَائِلٌ : يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَا الْوَهْنُ ؟ قَالَ : حُبُّ الدُّنْيَا وَكَرَاهِيَةُ الْمَوْتِ
“Hampir saja bangsa-bangsa (kafir) saling mengajak untuk memerangi kalian, sebagaimana orang-orang yang akan makan saling mengajak menuju piring besar mereka. Seorang Sahabat bertanya, Apakah disebabkan dari sedikitnya kita pada hari itu? Beliau menjawab, Tidak. Bahkan pada hari itu kalian banyak, tetapi kalian seperti buih di lautan. Allah menghilangkan rasa gentar dari dada musuh terhadap kalian. Allah menimpakan wahn di dalam hati kalian. Seorang Sahabat bertanya, Wahai Rasulullah, apakah wahn itu? Beliau menjawab, Cinta dunia dan takut mati. (HR. Abu Dawud).
Penyakit inilah yang banyak menjangkiti para penguasa negeri-negeri Muslim sehingga mereka justru bersekutu dengan musuh umat. Padahal Allah Subhânahu wa Ta’âlâ telah memperingatkan:
يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تَتَّخِذُوْا بِطَانَةً مِّنْ دُوْنِكُمْ لَا يَأْلُوْنَكُمْ خَبَالًا
”Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil teman kepercayaan dari orang-orang di luar kalangan (agama)-mu (karena) mereka tidak henti-hentinya (mendatangkan) kemudaratan bagimu. (QS. Âli ’Imrân [3]: 118). 
Serangan ini juga menunjukkan bahwa berbagai janji perdamaian seperti Board of Peace hanyalah ilusi, sebab yang dijaga hanyalah kepentingan Israel dan Amerika. Karena itu umat tidak boleh berharap kepada pihak luar Islam, tetapi harus kembali kepada persatuan umat dan saling melindungi sebagaimana sabda Nabi Shallallâhu alaihi wasallam:
الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لَا يَظْلِمُهُ وَلَا يُسْلِمُهُ ، وَمَنْ كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ ، وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ، وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
”Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya. Dia tidak menzalimi dan tidak membiarkan saudaranya dianiaya orang lain. Siapa saja yang memenuhi hajat saudaranya, Allah akan memenuhi hajatnya. Siapa saja yang melapangkan kesusahan seorang Muslim, Allah akan melapangkan kesukarannya pada Hari Kiamat. Siapa saja yang menutupi aib seorang Muslim, Allah akan menutupi aibnya pada Hari Kiamat (HR. Muttafaq alayh).

Maâsyiral Muslimîn rahimakumullâh,
Jika kita merenungkan keadaan umat hari ini, jelas bahwa kekuatan sejati umat Islam terletak pada persatuan. Dengan jumlah lebih dari dua miliar jiwa dan wilayah yang membentang di titik-titik strategis dunia seperti Selat Hormuz, Terusan Suez, dan Selat Malakapersatuan umat Muslim akan melahirkan kekuatan militer dan pengaruh geopolitik yang sangat besar, bahkan mampu menandingi negara-negara besar.
Namun persatuan semacam ini tidak mungkin terwujud tanpa tegaknya Khilafah Islamiyah, yaitu institusi yang menyatukan seluruh wilayah kaum Muslim. Sejarah membuktikan bagaimana para khalifah mampu melindungi umat, seperti Khalifah Abu Bakar ash-Shiddiq yang menumpas gerakan kemurtadan dan ancaman Romawi, serta Khalifah Harun ar-Rasyid yang menjaga kehormatan kaum Muslim dari ancaman Raja Nikephoros I dari Romawi.
Karena itu, wahai kaum Muslim, sudah seharusnya kita menyadari bahwa solusi atas berbagai serangan terhadap umat bukanlah bergantung kepada kekuatan dunia luar, tetapi pada persatuan umat di bawah kepemimpinan Islam yang satu. Tanpa persatuan dan kepemimpinan yang menyatukan kaum Muslim, negeri-negeri Islam akan terus terpecah dan lemah di hadapan kekuatan besar dunia. Maka pertanyaannya, apakah kita masih akan berdiam diri, sementara solusi yang jelas telah adayaitu bersatu dalam ukhuwah Islamiyah dan berusaha menegakkan kembali kepemimpinan Islam yang menyatukan umat? WalLâhu alam bi ash-shawâb. 
Demikianlah yang dapat saya sampaikan dalam khutbah Jumat pada kesempatan kali ini. Ketahuilah bahwa segala kesempurnaan hanya milik Allah Subhânahu wa Taâlâ. Apa pun yang benar dari apa yang saya sampaikan adalah semata-mata berkat petunjuk-Nya melalui Rasul-Nya, maka marilah kita berpegang teguh kepadanya. 
Sebagai penutup, mari kita akhiri khutbah ini dengan berdoa bersama. Semoga kita semua senantiasa dianugerahi kesehatan lahir dan batin, serta keberkahan dunia dan akhirat. Semoga Allah memberi kita hidayah, inayah, dan kekuatan, sehingga kita dapat menjadi bagian dari para dai yang selalu bersungguh-sungguh menegakkan syariat Islam secara kaffah, meneladani Nabi Muhammad Shallallâhu ‘Alaihi Wasallam hingga akhir hayat dalam keadaan husnul khâtimah. Âmîn yâ Rabbal-‘âlamîn.[]
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ





KHUTBAH KEDUA

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلىَ إِحْسَانِهِ، وَالشُّكْرُ لَهُ عَلَى تَوْفِيْقِهِ وَاِمْتِنَانِهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ اِلٰهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الدَّاعِى إِلَى رِضْوَانِهِ، اللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اٰلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَسَلِّمْ تَسْلِيْمًا كَثِيْرًا. أَمَّا بَعْدُ؛ فَياَ اَيُّهَا النَّاسُ اِتَّقُواللّٰهَ فِيْمَا أَمَرَ وَانْتَهُوْا عَمَّا نَهَى وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَـنَّى بِمَلآ ئِكَتِهِ الْمُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ، وَقَالَ تَعاَلَى: إِنَّ اللهَ وَمَلآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىَ النَّبِى يآ اَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ، وَعَلَى اَنْبِيآئِكَ وَرُسُلِكَ وَمَلآئِكَةِ اْلمُقَرَّبِيْنَ، وَارْضَ اللّٰهُمَّ عَنِ اْلخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ، أَبِى بَكْرٍ وَعُمَرَ وَعُثْمَانَ وَعَلِي، وَعَنْ بَقِيَّةِ الصَّحَابَةِ وَالتَّابِعِيْنَ، وَتَابِعِي التَّابِعِيْنَ لَهُمْ بِاِحْسَانٍ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَارْضَ عَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ وَاْلمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ اَلاَحْيآءَ مِنْهُمْ وَاْلاَمْوَاتِ، اللّٰهُمَّ أَعِزَّ اْلإِسْلاَمَ وَاْلمُسْلِمِيْنَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَاْلمُشْرِكِيْنَ، وَانْصُرْ عِبَادَكَ اْلمُوَحِّدِيْنَ، وَانْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ، وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ اْلمُسْلِمِيْنَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ، وَاعْلِ كَلِمَاتِكَ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. 
اَللّٰهُمَّ يَا مُنْـزِلَ الْكِتَابِ وَمُهْزِمَ اْلأَحْزَابِ اِهْزِمِ اْليَهُوْدَ وَاَعْوَانَهُمْ وَصَلِيْبِيِّيْنَ وَاَنْصَارَهُمْ وَرَأْسُمَالِيِّيْنَ وَاِخْوَانَهُمْ وَاِشْتِرَاكِيِّيْنَ وَشُيُوْعِيِّيْنَ وَاَشْيَاعَهُمْ. اَللّٰهُمَّ نَجِّ إِخْوَانَنَا الْمُؤْمِنِيْنَ الْمُسْتَضْعَفِيْنَ فِي فَلَسْطِيْنَ وَفِي كُلِّ مَكَانٍ. اَللّٰهُمَّ انْصُرْ إخْوَانَنَا الْمُجَاهِدِيْنَ فِي سَبِيْلِكَ عَلَى أَعْدَائِهِمْ.
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ دَوْلَةَ الْخِلاَفَةِ عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ تُعِزُّ بِهَا اْلإِسْلاَمَ وَاَهْلَهُ وَتُذِلُّ بِهَا الْكُفْرَ وَاَهْلَهُ، وَ اجْعَلْنَا مِنَ الْعَامِلِيْنَ الْمُخْلِصِيْنَ بِإِقَامَتِهَا بِإِذْنِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَاْلبَلاَءَ وَاْلوَبَاءَ وَالزَّلاَزِلَ وَاْلمِحَنَ، وَسُوْءَ اْلفِتْنَةِ وَاْلمِحَنَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا اِنْدُونِيْسِيَّا خآصَّةً وَسَائِرِ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عآمَّةً يَا رَبَّ اْلعَالَمِيْنَ، رَبَّنَا آتِناَ فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى اْلآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ، رَبَّنَا ظَلَمْنَا اَنْفُسَنَا وَإنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ اْلخَاسِرِيْنَ.
عِبَادَ اللهِ ! إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِاْلعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتآءِ ذِي اْلقُرْبىَ وَيَنْهَى عَنِ اْلفَحْشآءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْي يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ، وَاذْكُرُوا اللهَ اْلعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاسْأَلُوْهُ مِنْ فَضْلِهِ يُعْطِكُمْ، وَاشْكُرُوْهُ عَلىَ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرْ





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar