Rusaknya Pergaulan Generasi, Di Sistem Demokrasi


Oleh : Nanny Ummu Umaroin (Aktifis  Dakwah)
‎lagi dan lagi berita di sosial media memberitakan kasus tindak kriminal antara pria dan wanita. Seperti yang terjadi kasus pembacokan di UIN Sultan Syarif Kasim Riau saat mahasiswi sedang menunggu sidang proposal. Pelaku sesama mahasiswa menyerang dengan senjata tajam hingga korban terluka dan dirawat, kejadian di siang hari pada Kamis, 26 Februari 2026.
‎Dan baru baru ini juga di kota Medan ditemukan mayat seorang wanita di dalam boks plastik. Dilansir detikSumut, Kapolrestabes Medan Kombes Jean Calvijn Simanjuntak mengatakan pembunuhan itu terjadi di salah satu penginapan di Kecamatan Medan Denai, 9 Maret 2026. Korban tewas dianiaya dan juga ternyata menjadi korban pencurian.
‎Tinda kriminal yang lebih parah lagi adalah pelecehan seksual dimana mana bahkan ditempat umum seperti didalam kereta api, bus dan dijalan jalan. Serta cepatnya menjamur para "boti boti" yang berlindung dalam komunitas LGBT.  Dengan terang terangan seorang boti yang banyak dikenal orang mengakui dirinya menyebarkan "penyakit nya" ke generasi yang tinggal di kampung. Para wanita juga tidak lagi memiliki harga diri, sampai sampai menjual diri demi menuhankan materi. Nauzubillah....
‎Dan masih banyak lagi kasus kasus tindak kejahatan yang terjadi di negeri ini, yang sangat berdampak buruk bagi generasi mudanya. Ini semua nya disebabkan negara ini mengemban demokrasi,  dimana lahirnya paham kebebasan  (liberalisme), memisahkan kehidupan dari agama (sekulerisme) dan menuhankan materi (kapitalisme).
‎Normalisasi nilai-nilai liberalisme, khususnya pergaulan bebas (pacaran, perselingkuhan, dll) di tengah keluarga dan masyarakat berdampak besar dalam mengubah prilaku yang bertentangan dengan norma agama bahkan berujung pada pembunuhan. Serta hilangnya rasa kasih sayang yang sebenarnya, juga mematikan perasaan saling melindungi satu sama lain. Perasaan Cinta hanyalah sebagai pelampiasan hasrat seksual semata, begitulah sistem ini memandang hubungan antara pria dan wanita.
‎Sekularisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Yang terpenting bagi generasi ini mereka mendapatkan kepuasan tersendiri, tanpa memikirkan konsekuensi yang harus di pertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.
‎Negara dengan sistem kapitalis dinilai kurang memprioritaskan pembinaan generasi, sehingga generasi sering dipandang hanya sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorientasi pada materi. Generasi digiring untuk menjadi pekerja yang bisa menjadi mesin pencetak uang untuk pemasukan negara.  Generasi gak boleh pintar, sehingga negara tidak perlu memberikan pendidikan yang berkualitas. Generasi dibiarkan bodoh agar penguasa mudah mengendalikan mereka. 
Sistem Islam Melindungi Generasi
‎Sistem pendidikan Islam dibangun di atas dasar akidah, dengan tujuan membentuk kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikap sesuai nilai syariat). Menjadikan generasi yang berkualitas dan mampu memberikan kontribusi untuk kemajuan negara. Generasi dididik untuk memiliki kesadaran untuk taat pada syariat, halal-haram, tanggung jawab, dan ketakwaan, bukan hanya fokus pada capaian akademik atau keterampilan.
‎Masyarakat saling mengingatkan dalam kebaikan, menentang kemaksiatan, sehingga tercipta suasana yang mendukung ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang. Serta generasi Islam memahami hubungan antara pria dan wanita di dalam Islam adalah untuk melestarikan keturunan. Sehingga mereka akan melahirkan generasi generasi yang lebih baik. 
‎Negara Khilafah menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum Islam untuk memberi efek jera dan menjaga keamanan serta kehormatan masyarakat. Tujuan dari masyarakat Islam ialah semata mata hanya mengharapkan Ridho Allah SWT.
‎Wallahu'alam bishowwab. 




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar