Kampus: Sarang Ilmu atau Arena Baku Hantam?


Oleh: Najma MR (Penggiat Literasi)

Dunia kampus kita akhir-akhir ini beneran lagi nggak baik-baik saja. Rasanya setiap kali buka media sosial atau portal berita, ada saja kabar yang bikin elus dada. Padahal, kampus itu sering disebut sebagai "Menara Gading". Tempatnya para intelektual berkumpul. Tempat yang harusnya jadi sarang orang-orang pinter dan beradab. Tapi realitanya, justru sering berubah jadi arena kekerasan yang brutal. Kejadian-kejadian memilukan ini jadi bukti nyata kalau standar "bener" dan "salah" di kalangan mahasiswa sudah mulai geser jauh. Logika sehat seolah kalah sama emosi sesaat.


Spill Fakta: Adab yang Lagi Red Flag

Mari kita lihat data biar nggak dibilang cuma asumsi. Coba cek berita dari media mainstream seperti detikcom dan Kompas.com tertanggal 6 Maret 2026. Ada berita viral soal seorang mahasiswa bernama Arnendo yang diduga jadi korban pengeroyokan. Nggak tanggung-tanggung, pelakunya diduga puluhan temannya sendiri di lingkungan Universitas Diponegoro (UNDIP). Ironisnya, aksi main hakim sendiri yang sangat bar-bar ini dipicu oleh tuduhan pelecehan. Bukannya lapor ke pihak berwajib atau lewat jalur hukum yang bener, mereka malah milih buat "menyelesaikan" sendiri pakai otot.

Kejadian ini mempertegas satu hal yang pahit. Punya otak encer dan masuk kampus ternama ternyata nggak jamin seseorang punya akhlak mulia. IPK tinggi nggak otomatis bikin orang jadi punya empati. Pendidikan kita sekarang kesannya cuma kejar target. Fokus banget cetak robot-robot yang siap kerja buat industri. Tapi sayangnya, sistem ini sering lupa tugas utamanya: memanusiakan manusia. Kalau adab sudah hilang, maka gelar akademik cuma jadi topeng buat menyembunyikan sisi liar manusia.


Deep Talk: Kenapa Sistemnya Gagal Total?

Pernah kepikiran nggak, kenapa sih anak muda yang dibilang "terpelajar" bisa sebrutal itu? Kalau kita mau deep talk, masalah utamanya ada di akar sistem pendidikan kita yang sekuler. Sekuler itu artinya memisahkan agama dari urusan kehidupan sehari-hari. Di kampus, agama seolah cuma jadi pajangan atau mata kuliah formalitas biar dibilang lengkap saja. Agama ditaruh di pojokan, nggak dijadikan landasan buat berpikir atau bertindak. Akibatnya, sukses cuma diukur dari angka di transkrip nilai atau status sosial yang mentereng.

Akhirnya, mahasiswa tumbuh dalam kekosongan spiritual yang parah. Mereka pinter secara teori, tapi kosong secara mental dan iman. Pas ada masalah atau konflik, mereka nggak punya "rem" moral yang kuat. Nggak ada pegangan buat nahan emosi. Yang muncul akhirnya hukum rimba: siapa yang kuat, dia yang menang. Kejahatan dibalas kejahatan. Ada masalah dikit, langsung main tangan tanpa mikir panjang dampaknya buat masa depan orang lain atau diri sendiri.

Sistem sekuler ini beneran bikin jurang antara kepintaran dan kepribadian. Kampus cuma jadi pabrik yang operasikan manusia layaknya mesin. Tanpa landasan ideologi dan iman yang bener, ilmu yang tinggi malah jadi alat yang bahaya. Ilmu itu kalau dipegang orang yang nggak punya adab, ya bakal dipakai buat nindas orang lain. Rasa takut sama Tuhan pelan-pelan hilang dari hati. Berbuat jahat dianggap biasa saja, asalkan nggak ketahuan atau asalkan dilakukan bareng-bareng atas nama solidaritas semu. Ini masalah sistemik yang gawat banget, bukan cuma soal kenakalan oknum mahasiswa semata.


Glow Up Mental: Balik ke Jalur yang Bener

Terus, kita harus gimana? Dunia pendidikan kita harus segera glow up secara total dan balik ke fitrahnya. Nilai spiritual nggak boleh lagi cuma jadi teori membosankan di dalam kelas. Pendidikan itu intinya adalah pembentukan kepribadian (syakhshiyah), bukan cuma mindahin isi buku ke otak mahasiswa. Mahasiswa harus diajari gimana cara jadi manusia yang beriman sekaligus berilmu. Setiap dari kita harus sadar kalau semua perbuatan, sekecil apa pun itu, bakal ditimbang dan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Tuhan nanti. Nggak ada yang lolos.

Benteng paling kuat buat nahan orang berbuat jahat itu bukan cuma cctv atau polisi kampus. Tapi rasa "diawasi" sama Allah SWT setiap detik. Hal ini pas banget dan sangat relate sama firman Allah dalam Al-Qur'an Surah Al-Alaq ayat 14: “Tidakkah dia mengetahui bahwa sesungguhnya Allah melihat (segala perbuatannya)?”

Ayat ini simpel tapi dalem banget. Harusnya ini jadi wallpaper di hati setiap pendidik dan mahasiswa. Kalau kita semua sudah sadar bahwa Allah selalu memantau, mana ada yang berani main hakim sendiri? Mana ada yang berani zalim atau nindas temannya? Standar benar dan salah itu mutlak, nggak boleh cuma ikut-ikutan emosi massa yang lagi panas atau tren "cancel culture" yang salah arah. Semuanya harus balik ke aturan Tuhan yang sudah pasti benernya.

Selain itu, peran Negara juga vital banget. Kebijakan pendidikan nasional nggak boleh cuma mikirin cara biar lulusan kampus cepat dapet kerja atau sekadar cari cuan. Fokus utama harus digeser ke pembentukan manusia yang beradab dan punya integritas. Kita butuh sistem yang mendukung suasana ketakwaan di kampus.

Penegakan hukum buat pelaku kekerasan memang perlu banget buat kasih efek jera. Tapi, penanaman akidah adalah kunci jangka panjang kalau kita nggak mau lihat berita pengeroyokan lagi di masa depan. Tanpa perubahan paradigma ini, tragedi di kampus bakal terus berulang kayak lingkaran setan. Hanya dengan iman dan ketakwaan, kita bisa punya generasi yang nggak cuma cerdas otaknya, tapi juga luhur budi pekertinya.




Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar