Generasi Rapuh di Tengah Tekanan Akhir Zaman


Oleh : Salma Azizah (Aktivis Mahasiswa)

Kasus gangguan kesehatan jiwa pada anak kini menjadi perhatian serius di Indonesia. Hal ini dapat diketahui dari langkah pemerintah yang menyepakati adanya SKB (Surat Keputusan Bersama) tentang kesehatan jiwa anak yang ditandatangani oleh sembilan kementerian dan lembaga negara. Kebijakan ini menunjukkan bahwa problem kesehatan jiwa anak telah dianggap sebagai masalah nasional yang memerlukan kerja sama berbagai sektor.

Data dari Kementerian Kesehatan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mengungkapkan adanya empat faktor utama yang memicu keinginan anak untuk mengakhiri hidup. Faktor tersebut antara lain konflik keluarga yang mencapai 24–46 persen, masalah psikologis 8–26 persen, perundungan (bullying) 14–18 persen, serta tekanan akademik 7–16 persen. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh lingkungan keluarga dan sekolah terhadap kesehatan mental anak.

Meningkatnya krisis kesehatan jiwa pada anak tidak dapat dilepaskan dari sistem kehidupan saat ini, yaitu sistem sekuler liberal. Sistem ini memisahkan nilai agama dari kehidupan sehingga standar kehidupan hanya diukur dari aspek materi. Akibatnya, banyak anak menghadapi tekanan besar untuk mencapai prestasi akademik atau kesuksesan duniawi tanpa dibarengi dengan penanaman nilai agama. Selain itu, derasnya arus informasi dan budaya global melalui media massa turut membawa nilai-nilai sekuler liberal yang semakin menggerus paradigma Islam di tengah masyarakat. Ketika nilai Islam tidak dijadikan landasan dalam kehidupan sehari-hari, anak-anak kehilangan pedoman yang kuat dalam menghadapi berbagai tekanan hidup. Kondisi ini membuat mereka lebih rentan mengalami stres, depresi, bahkan munculnya keinginan untuk mengakhiri hidup.

Dalam Islam, negara memiliki peran sebagai ra'in (pengurus) dan junnah (pelindung) bagi rakyatnya. Dalam peran ini, negara bertanggung jawab melindungi anak dan keluarga dari berbagai kerusakan serta memastikan terciptanya lingkungan sosial yang baik dan sehat. Peran tersebut dapat diwujudkan dengan membangun sistem pendidikan, kesehatan, dan ekonomi yang sesuai dengan syariat Islam.

Pendidikan yang sesuai dengan syariat Islam, misalnya, dapat dilakukan dengan membentuk kepribadian Islam yang kuat pada anak di sekolah serta menanamkan nilai akidah sejak dini dalam lingkungan keluarga. Dengan demikian, anak memiliki ketahanan mental dan keimanan yang kuat dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan. Sementara itu, media dan lingkungan sosial juga perlu diarahkan untuk menyebarkan nilai-nilai yang selaras dengan ajaran Islam.

Upaya menangani problem ini tidak cukup hanya melalui kebijakan teknis. Yang lebih utama adalah membangun sistem kehidupan yang berlandaskan Al-Qur’an dan As-Sunnah agar anak-anak dapat tumbuh menjadi manusia yang memiliki keimanan kuat dan tujuan hidup yang terarah.





Penulis bertanggung jawab atas segala sesuatu di tiap-tiap bagian tulisannya. Dengan begitu, ia jugalah yang akan menanggung risiko apabila terdapat kesalahan atau ketidaksesuaian.

Posting Komentar

0 Komentar